"Kau mau aku belikan makanan dari luar? Aku tau rasa bubur rumah sakit, dan pernah memakannya lebih daripada yang kau tau." ujar Daera dengan sedikit nada ejekan.
Changbin terkekeh, "Tidak perlu, aku hanya ingin makan sedikit. Oh ya, Cooky kau tinggal di rumah?"
"Tidak mungkin, dia akan menjadi bangkai jika kutinggalkan. Aku menitipkannya pada Heemi eonni. Dia menawarkan diri untuk menjaga Cooky saat membantu membawa baju-bajuku kesini."
Changbin hanya mengangguk mengerti, "Emm.. Daera~ya, kau semalam bilang kau pernah bermimpi suatu hal dengan anak laki-laki."
Changbin menyuap sekali bubur ala rumah sakit yang rasanya hambar. Ia memaksakan diri untuk makan karena ia sangat lapar.
"Anak laki-laki? Ahh, maksudmu 'si pangeran'? Iya. Sebenarnya sudah lama aku memimpikannya, sejak aku tinggal dirumahmu."
"Sejak itu?"
"Hmm," Daera yang posisinya masih sama seperti semalam mendongak menghadap Changbin.
"Apa saja yang kau impikan saat dengannya?"
Daera sempat berpikir sejenak, ia membuka mulutnya namun kembali tertutup saat mendengar suara ketukan yang tak lama kemudian pintu terbuka. Mereka spontan menengok ke arah suara.
Kepala Juyeon muncul dari balik pintu, mata Juyeon sedikit kaget karena sepertinya ia menganggu waktu sepasang suami istri ini.
"Emm.. aku menganggu kalian?"
Daera dan Changbin berhadapan sekilas kemudian menggeleng bersamaan, "Tidak.." mereka berucap.
"Masuklah, oppa." ujar Daera setelah itu.
Juyeon membuka pintu lebih lebar, Jangjun masuk terlebih dahulu dan tersenyum pada Daera. Juyeon masuk setelah itu, ia langsung duduk di sofa yang tersedia untuk penjenguk di bagian kiri ruangan.
"Jangjun oppa juga datang?" Daera berdiri. Changbin terlihat menaruh mangkuk buburnya.
"Sudah lama tak bertemu, ya?"
"Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Jangjun~ssi." ujar Daera dengan nada mengejek kemudian diselingi tawaan singkat, "Oke, pasti kau kesini untuk berbicara pada Changbin. Aku akan keluar sebentar dulu."
Daera beralih membuka pintu dan segera keluar. Sejujurnya, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Alasan Changbin di tembak oleh seseorang yang tak dikenal. Padahal setahu Daera, Changbin adalah orang yang tak bermasalah dengan orang seperti itu. Ingin rasanya mendengar alasannya, tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya tapi tak ia sadari.
°°°
Jangjun berdeham sekali, mengubah cara bicaranya menjadi ke mode serius. Ia mengambil kursi yang tadi Daera pakai dan menaruhnya tepat di depan ranjang Changbin kemudian mendudukinya.
"Baiklah, kita mulai Changbin~ssi. Aku akan memberi beberapa pertanyaan padamu, kau hanya harus menjawabnya dengan jujur tanpa menambah atau menguranginya."
Changbin mengangguk, ia bersiap dengan segala pertanyaan itu. Jangjun membuka tas yang ia bawa dan mengambil sebuah amplop berwarna coklet dan mengambil secarik kertas darisana. Ia sudah bersiap dengan pena-nya juga.
"Bagaimana kejadian selengkapnya?" pertanyaan pertama keluar dari mulut Jangjun.
"Awalnya, malam itu dirumah kami, ada seseorang yang memencet bel tapi kami tak menemukan orangnya, kami pikir hanya orang jahil. Kami mengabaikannya. Setelah itu kami pergi ke supermarket dekat tempat kejadian, aku sempat melihatnya ikut masuk juga setelah kami. Aku tak begitu saja percaya dengan pemikiranku yang tak masuk akal awalnya, sekarang aku yang mengikutinya dan dia langsung kabur saat aku mendekatinya, kemudian aku mengejarnya sampai gang kecil itu dan dia menembakku saat itu juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED
Fanfic"Aku yakin, rencana bodoh appa tak akan berjalan sesuai keinginan. Dengarkan ini baik-baik, sampai aku mati pun aku tak akan bisa nyaman dengan Lee Daera." Kecelakaan beberapa bulan lalu benar-benar membuahkan hasil. Seo Changbin dan Lee Daera disat...
![AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED](https://img.wattpad.com/cover/142082912-64-k334601.jpg)