"Sekarang, jelaskan tentang semua ini." ujar Daera, ia menghadap Changbin yang sepertinya bingung dimana ia akan memulai menjelaskan.
Changbin berpikir sebentar, "Chaerim, dia berusaha mencelakaimu."
"Chaerim? Temanmu itu? Tapi kenapa? Aku bahkan tak mengenalnya." Daera menatap Changbin mengharap penjelasan lebih lanjut.
"Kau mungkin tak mengenalnya, tapi kau tau siapa dia. Jung Chaerim, sunbae mu yang pernah kau katakan adalah pacar Lucas. Ah.. sebagai penjelasan, mereka sudah tak berhubungan lagi."
"Lalu? Apa masalahnya denganku?"
Changbin meminggirkan mobil ketepian jalan raya, ia mengubah posisinya menghadap Daera. Matanya menatap Daera lekat-lekat.
"Dia, seorang yang kejam. Walau tak separah yang ada dibayanganmu sekaranh. Tadi, dia meminta Lucas untuk kembali berpacaran dengannya. Lucas menolaknya, dan mengatakan kalau dia sudah memiliki gadis yang lain." Changbin menghentikan kalimatnya.
"Dan itu kau. Kau pasti tak sadar kalau tadi ia mengikutimu. Aku sengaja menggunakan mobil orang lain karena dia pasti mengenal mobilku. Aku sudah menunjukan fotomu pada dia saat aku bertemu denganya kemarin, tapi dia belum tau kalau kau itu istriku."
"Tunggu sebentar, kejam yang kau maksud bagaimana?" banyak yang Daera ingin tanyakan.
"Dia pernah hampir membunuh orang lain. Sudahlah, tak perlu dibahas hal itu. Yang penting kau sekarang baik-baik saja."
°°°
Chaerim kehilangan jejak. Gadis itu memasuki sebuah mobil dan segera melaju kencang. Namun, ia masih bisa menangkap plat nomor mobil yang dikendarai 'targetnya'.
Ia menelepon seseorang.
"Yoboseyo? Noona ada apa?"
"Bisa tolong ke mall yang nanti malam akan kita datangi? Aku butuh bantuanmu."
"Katamu di rumah kau tadi bersama Lucas?"
"Ada masalah. Aku harus mengejar seseorang."
"Baiklah, aku sudah dekat."
Chaerim menutup teleponnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Chaerim meragukan penglihatannya tadi. Seseorang di sebelah targetnya, adalah Seo Changbin, orang yang paling ia percayai.
Adiknya sampai, ia membuka jendela kaca. "Noona!"
Chaerim berlari menuju mobil adiknya. Ia membuka pintu mobil dan masuk. Wanita itu menghadap adiknya sangat penasaran. "Jaehyun~a, aku ingin bertanya."
Jung Jaehyun melajukan mobilnya, "Apa?"
"Apa rumah Changbin masih sama?" Jaehyun mengangguk, "Apa bisa rencana kita membelikan baju untuk eomma ditunda?"
Jaehyun menengok pada Chaerim, sedikit terkejut. "Kau mau kemana?"
"Ada masalah yang harus ku selesaikan."
Jaehyun memutar bola matanya malas, "Lihat saja, aku tidak akan datang untuk berbohong pada polisi lagi, jika terjadi apa-apa."
"Aku janji tidak ada kata polisi dimasalahku kali ini. Kuharap."
°°°
Changbin mematikan mesin mobil setelah berhenti tepat didepan kantornya. Jimin menunggunya dengan muka khawatir.
Setelah Changbin keluar, Daera ikut keluar. Mereka menghampiri Jimin yang raut wajah kesal.
"Oh, ini hal yang membuatmu meminjam mobilku tiba-tiba." Jimin memutar bola matanya malas.
"Kau pasti Daera, aku yakin Seulgi senang jika bertemu kau. Tapi aku tak bisa berlama-lama disini, aku harus menjemput anakku. Sampai jumpa." Jimin membungkuk singkat dan berlari memasuki mobilnya setelah merebut kunci mobil dari tangan Changbin.
Jimin membuka jendela dan berteriak, "Aku menunggu ucapan terima kasihmu!"
Daera menahan tawanya, Changbin hanya memutar bola matanya dan membalasnya, "Baiklah, terima kasih!!"
Daera tertawa pelan, "Dia dan kau lucu."
Changbin menengok, kemudian tersenyum. Ia menggenggam tangan Daera, "Kau mau langsung pulang atau masuk ke ruanganku dulu?"
"Pulang saja, aku ingin bertemu Cooky."
"Okee.."
°°°
Daera membuka pintu rumahnya. Seperti biasa, Cooky menyambutnya dan langsung melompat ke dalam pelukan Daera. Gadis itu mengelus bulu lebat Cooky dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Changbin mengerucutkan bibirnya, ia menutup pintu.
Harusnya kuusir saja Cooky dari kemarin. Tapi nanti Daera membenciku.
Changbin mendengus kesal. Ia melihat Daera berada didapur sedanxg mencuci apel. Changbin mendekatinya, tangannya melingkar di pinggang ramping milik Daera dan menaruh kepalanya diatas pundak Daera.
"Kau terlalu fokus pada Cooky." ujar Changbin dengan nada sebal.
Daera tertawa geli, pria ini berbeda dari biasanya. Daera menaruh apel yang tadi ia cuci dan berbalik menghadap Changbin. Changbin juga sedikit mundur.
Daera bersandar pada westafel dan menyilangkan tangannya didepan dadanya, "Jadi? Kau mau aku melakukan apa?"
Changbin tersenyum tipis, gadis didepannya mengerti maksudnya. Pria itu menggendong Daera dan menaruhnya duduk diatas meja makan.
Daera yang tubuhnya diangkat hanya pasrah dan melingkarkan lengannya di leher Changbin. Jantung Daera berdegup berjuta-juta lebih kencang daripada saat Changbin menciumnya hari itu. Badanya lemas seakan-akan sedang dibius oleh Changbin sebelumnya. Mata Daera otomatis terpejam. Changbin memulai aksinya.
Changbin memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya kearah wajah cantik dihadapannya. Changbin memejamkan matanya. Ia mulai mencium bibir Daera dan langsung melumatkan bibirnya dengan bibir Daera. Tangannya mengusap dagu Daera pelan namun menggoda. Daera membalas hal yang sama. Ia menguatkan lengannya yang melingkar di leher Changbin untuk lebih menghapus jarak antara mereka.
Suara bel berbunyi dari arah pintu depan. Changbin melepas tautan bibirnya pada bibir Daera dan menunduk kesal, tangannya mengepal hendak meninju seseorang yang menganggu aktivitasnya. Daera hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu Changbin yang kesal.
"Biar aku yang mengurusi penganggu itu." Daera turun dari meja makan dan berdiri, kemudian berjalan menuju pintu depan. Changbin mengikutinya sambil mengumpat sebal.
Daera membuka pintu, dan tak mendapati satu orang pun dihadapannya. Ia melangkah maju dan menengok kanan kiri mencari seseorang yang memencet bel.
"Tidak ada orang?" tanya Changbin. Daera menghadap Changbin kemudian menaikan bahunya tidak tahu.
"Entahlah, padahal tadi ada suara bel, 'kan?" Daera meyakinkan.
Changbin mengangguk, ia ikut melangkah maju dan menengok kanan kiri mencari seseorang yang sama. Changbin berbalik dan masuk kembali, ia menutup pintu dengan tangan kirinya tanpa berbalik.
°°°
Seseorang dengan jacket hitam dan topi dengan warna senada, menatap Changbin dan Daera dari balik mobil Changbin yang terparkir di pekarangan, yang kebingungan dengan bel yang tadi ia tekan.
Orang itu menatap Changbin tajam. Kemudian memamerkan smirknya sambil menggenggam erat sebuah benda berbahaya yang pernah ia pakai untuk menyerang orang yang mengganggu ketenangan hidupnya dahulu.
Ia baru pertama kali merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai melebihi siapapun. Dan, itu melebihi kebenciannya terhadap apapun juga.
°°°
Luv u all❤
KAMU SEDANG MEMBACA
AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED
Fanfiction"Aku yakin, rencana bodoh appa tak akan berjalan sesuai keinginan. Dengarkan ini baik-baik, sampai aku mati pun aku tak akan bisa nyaman dengan Lee Daera." Kecelakaan beberapa bulan lalu benar-benar membuahkan hasil. Seo Changbin dan Lee Daera disat...
![AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETED](https://img.wattpad.com/cover/142082912-64-k334601.jpg)