THE SECRET #23

1.7K 252 1
                                        

Daera menginjakan kakinya dirumah Changbin kembali. Malam hari seperti yang Juyeon bicarakan pada Changbin tadi. Ia membuka pintu rumah suaminya itu. Seperti biasa, Cooky dengan gonggongannya menyambut Daera tepat di kaki gadis itu.

Daera berjongkok sambil mengelus-elus bulu cokelat Cooky.

"Kau merindukanku, ya? Mianhaeyo. Kau sudah makan?" Daera berdiri sambil menggendong Cooky masuk kedalam rumah.

°°°

Tengah malam, pukul 23.13 KST. Changbin tengah sibuk dengan komputernya di kantor. Ia memilih sibuk dengan komputernya daripada memikirkan Daera yang masih tak ia ketahui keberadaannya.

Di tengah kesunyian ruang kerjanya. Changbin mendengar ponselnya berdering tak lama. Itu sedikit membuyarkan konsentrasinya. Pria itu mendapatkan satu notifikasi pesan masuk diponselnya. Ia hanya melirik kearah ponsel disampingnya itu, kemudian kembali sibuk dengan komputernya.

Ia meregangkan tubuhnya sebentar dan menghadap langit-langit ruang kerjanya. Lampu di ruangan itu sedikit redup.

Tanpa sadar dipikirannya kembali muncul wajah Daera. Gadis itu tampak tersenyum padanya. Dan, tanpa sadar juga Changbin ikut tersenyum melihat bayang-bayang Daera dipikirannya.

"Daera, dia akan sampai nanti malam di rumahmu dengan selamat."

Apa perkataan orang itu dapat dipercaya?

Kalau benar apa yang ia katakan. Mungkin saja Daera sudah ada dirumah. Hatinya seketika lebih tenang. Lalu mengapa Changbin hanya merasa tenang saja? Dia sama sekali tak merasa penasaran dengan dimana Daera berada sekarang.

Ia hanya merasa hatinya menghangat setelah memikirkan gadis itu sedang bermain dengan Cooky disofa ruang tengah. Atau gadis itu sedang belajar bersama alunan musik diruang tengah yang juga ditemani Cooky.

Changbin menghembuskan napas keras. Ia memang pengecut. Ia sama sekali tak berusaha sekuat tenaga mencari Daera saat ia tak mengetahui keberadaan gadis itu.

Apa laki-laki seperti Changbin cocok menjadi pendamping Daera?

Changbin hampir putus asa. Ia mengambil ponselnya. Tangannya menekan satu pesan masuk yang sempat membuyarkan konsentrasinya.

Lee Juyeon: "Aku sudah menepati janjiku."

Bagai disambar petir yang dahsyat. Ia segera berdiri, berlari mengambil jacket yang ia taruh asal di sofa tengah.

Gadisnya pasti sudah menunggu.

°°°

Daera sudah memberi makan Cooky. Mereka sekarang sedang ada disofa ruang tengah sambil menonton televisi seperti biasa, sesekali Daera mengelus-elus bulu Cooky. Sudah 2 jam sejak kedatangannya tadi. Mengapa Changbin belum datang juga?

"Padahal kau bahkan belum menginap dirumah Daehwi tadi." Juyeon tersenyum singkat pada Daera, "Aku akan memberitahu kedatanganmu pada Changbin. Dia pasti akan datang sebentar lagi. Kalau saja dia peduli.." Juyeon mengecilkan suaranya di akhir kalimat.

"Baiklah, terima kasih oppa." Daera keluar dari mobil Juyeon.

"Apa benar oppa sudah memberitahu Changbin tentang kedatanganku?" Daera mulai meragukan perkataan Juyeon.

Daera mengambil ponselnya dari tas selempang yang masih ia kenakan. Cooky menggonggong pelan pada Daera, Daera tersneyum kecil pada Cooky yang menatapnya juga.

Daera menatap layar ponsel digenggamannya yang masih berwarna hitam.

Haruskah ia menelepon Changbin?

Seketika bayangan tentang peristiwa di Cafe Jyeon tadi pagi kembali muncul dipikirannya. Bayangan akan senyuman Changbin yang bahkan jarang Daera dapatkan, pria itu beri pada wanita di cafe saat itu.

Daera menunduk, rahangnya mengeras kembali menahan tangis. Ia memang baru mengenal Changbin sekitar 3 bulan yang lalu. Namun, perasaannya pada Changbin seperti sudah tumbuh bahkan sebelum ia mengenal sosok Changbin saat ini.

Daera tak mau menangis lagi. Sudah cukup lama ia menangisi Changbin, sejak ia melihat peristiwa itu.

Gadis itu mendongak, ia menatap kembali layar ponselnya. Daera menyalakan ponselnya, ia mencari nomor telepon Lucas.

Benar, aku harus menghubungi Lucas sunbae. Aku yakin dia tak masalah aku meneleponnya disaat seperti ini.

Daera menjalankan niatnya menelepon Lucas. Gadis itu sedikit menggigit bibir bagian bawahnya saat mendengar nada sambung teleponnya.

"Akhirnya terhubung juga pada----"

°°°

Changbin mematikan mesin mobilnya. Tangannya membuka pintu mobil, ia berlari menuju pintu depan. Pintu depannya dibiarkan terbuka sedikit, sepertinya gadia itu lupa menutupnya kembali.

Tak dikunci. Berarti benar ada Daera didalam.

Changbin mulai memasuki rumahnya tanpa suara sedikitpun. Ia sedikit memelankan langkahnya saat memasuki ruang tengah, karena ia melihat Daera. Gadis itu menunduk disofa ruang tengah, dengan ponsel digenggamannya.

Tak lama, Daera mendongak. Ia menatap sekilas layar ponselnya kemudian dengan cepat menelepon seseorang. Changbin memasukkan tangannya disaku jacket, berusaha meredam suara ponselnya bila berdering.

Namun nihil, sedikit lama Daera menunggu. Gadis itu terlihat lega. Dan, tak ada suara apapun dari ponselnya. Berarti yang ditelepon gadis itu bukanlah Changbin.

Siapa yang Daera telepon?

Changbin mendengar sebuah kalimat terdengar dari mulut Daera. Changbin mendekati Daera secepat mungkin.

"Akhirnya terhubung juga pada----" ucapan gadis itu terpotong.

Changbin segera merebut ponsel Daera. Gadis itu menengok pada Changbin, termasuk Cooky yang berada disebelahnya.

"Pada siapa?" Changbin melirik nama yang tertera dilayar ponsel Daera.

Lucas?

"K-kau menelepon Lucas?" Changbin menghadap Daera sedikit tak mengerti.

"Memangnya tidak boleh? Kau juga tadi pagi dengan siapa?" ucap Daera, gadis itu sama sekali tak menatap Changbin.

Changbin sedikit kaget dengan ucapan yang barusan keluar dari wajah lugu yang biasa ia kagumi. Namun, dibalik ucapan Daera tadi, mata Changbin menangkap rahangnya Daera yang mengeras, bibir mungil itu sedikit bergetar seperti menahan tangis.

Dan, yang benar saja. Tak lama terdengar suara isakan dari gadis dihadapan Changbin. Mata Changbin terbelalak melihat gadis ini benar-benar menangis sesuai perkiraannya.

"Kau kenapa?" spontan Changbin memegang pundak Daera. Ponsel gadis itu secepat mungkin ia masukan kedalam saku jacket yang sama dengan ponsel Changbin.

Changbin menggiring Daera untuk kembali duduk disofa ruang tengah. Cooky berkali-kali menggonggong setelah juga melihat Daera menangis. Gadis itu terlihat sangat terluka dilihat dari caranya menangis sesenggukan.

Changbin yang masih sedikit kaget, hanya terdiam melihat Daera menangis. Namun, entah kenapa, Changbin tanpa memeluk Daera erat sangat erat.

Daera mengumpulkan energi untuk bertanya akan hal yang memang menjadi permasalahan dari awal. Daera sudah tak sanggup menahannya lagi.

"T-tadi pagi kau bersama siapa?" Daera seketika menghentikan tangisnya. Ia yang daritadi masih menunduk segera mendongak menghadap Changbin.

Disaat yang sama juga, Changbin otomatis melepaskan pelukannya. Jarak wajah mereka saat ini sangat dekat. Changbin bisa merasakan suhu napas Daera yang masih bergetar setelah menangis tadi.

"Jung Chaerim, sahabat kecilku"

°°°

Segini dulu yorobun~

Luv u all❤

AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang