THE SECRET #24

1.7K 236 3
                                        

"T-tadi pagi kau bersama siapa?" Daera seketika menghentikan tangisnya. Ia yang daritadi masih menunduk segera mendongak menghadap Changbin.

Disaat yang sama juga, Changbin otomatis melepaskan pelukannya. Jarak wajah mereka saat ini sangat dekat. Changbin bisa merasakan suhu napas Daera yang masih bergetar setelah menangis tadi.

"Jung Chaerim, sahabat kecilku"

°°°

"Sahabat kecilmu? Jung Chaerim?" Daera mengulang perkataan Changbin tadi.

"Iya, dia baru saja pulang dari Amerika setelah setahun. Aku hanya menemuinya sebelum dia kembali ke Amerika lagi." jelas Changbin. Pria itu memegang kedua pipi Daera untuk mendekat ke wajahnya.

Daera hanya mengangguk pelan, gadis itu kembali menatap kearah bawah. Jantung berdegup berjuta-juta kali lebih cepat dari biasanya, ia kembali merasakan sensasi kembang api yang meledak dari dalam perutnya.

Changbin menatap lurus ke bibir mungil gadis dihadapannya. Mungkin ini waktu yang tepat untuknya merasakan manisnya bibir merah mungil milik Daera. Changbin menelan ludah. Changbin lebih menarik pegangannya pada kedua pipi Daera.

Kini, jarak antara mereka semakin menipis. Changbin sedikit memiringkan wajahnya, kemudian mulai benar-benar menghapus jarak antara keduanya. Chnagbin memejamkan matanya. Bibir Changbin menyentuh bibir Daera. Changbin memulai kegiatannya, ia sedikit melumatkan bibirnya kepada bibir Daera.

Tangannya mulai menyusuri rambut bagian belakang Daera. Changbin lebih melumatkan kembali bibir Daera. Lidahnya akhirnya mendapatkan ruang dan memasuki bagian dalam mulut Daera. Changbin belum puas ia dengan itu, Changbin mengangkat Daera menuju ke pangkuannya. Kaki Daera melingkar ke belakang pinggangnya. Kaki Changbin yang masih dibawah sedikit diangkat dan membuat Daera lebih tinggi agar mempermudah menciuminya.

Daera hanya terdiam dengan perlakuan tiba-tiba Changbin padanya. Ia sadar kalo mereka seharusnya sudah melakukan ini sejak awal pernikahan mereka. Tubuh Daera mendekat pada Changbin, ia memejamkan matanya dan perlahan mengikuti apa yang Changbin lakukan.

Daera juga melumatkan bibirnya bersamaan dengan lidah Changbin yang sudah memasuki mulutnya. Kedua tangan Daera melingkar di leher Changbin. Gadis itu juga hanya diam menurut saat Changbin menggendongnya ke pangkuan pria itu.

Changbin mengakhiri kegiatannya, Daera yang juga tahu perlahan menggeser tubuhnya untuk duduk disofanya sendiri. Namun tangan Changbin lebih cepat dari pergerakan Daera, tangan pria itu sudah ada di pinggang Daera. Seketika Daera membeku. Changbin mendekat lagi ke Daera, membawa gadis itu ke pelukannya.

Changbin menaruh kepalanya di pundak Daera. Jantung Daera masih saja berdegup kencang berjuta kali lebih cepat daripada tadi.

"Diamlah seperti ini dulu." lirih Changbin.

Daera tersenyum kecil, Daera juga membalas pelukan Changbin. Daera menambahkan sedikit tepukan lembut dipunggung Changbin.

Daera sudah duduk disofanya kembali. Changbin juga disebelahnya terdiam sambil mengelus-elus Cooky yang sudah tertidur di sebelahnya, untung saja anak ini tak menonton apa yang dilakukan pemiliknya tadi. Tengah malam seperti ini, mereka masih saja terjaga sambil menonton televisi. Suara televisi saja yang menghapus kesunyian malam hari.

"Daera, bagaimana kau tahu tentang aku bersama Chaerim disana?" Changbin tiba-tiba meraskaan kejanggalan, ia menghadap Daera heran.

"Aku melihatnya sendiri.." Daera kembali menunduk sambil menghela napas panjang, "Sudahlah tak usah dibahas lagi. Toh, aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Daera mendongak menghadap Changbin sambil tersenyum. Changbin sedikit kaget dengan senyuman tiba-tiba Daera.

Bahkan gadis ini tak marah?

Untuk kedua kalinya hari ini, Changbin kembali menarik Daera kedalam pelukannya. Tangan Changbin tanpa sadar mengelus kepala Daera sedikit ragu-ragu.

"Mianhae, aku telah membuatmu menangis lagi. Mulai sekarang kalau ada yang mengganggumu katakan saja." ucap Changbin, dan langsung melepas pelukannya.

"Gwaenchan-a, aku sudah tau kalau itu hanya kesalahpahaman. Kau sudah makan?" tanya Daera tiba-tiba. Changbin hanya menggeleng singkat tanda bahwa ia belum makan.

"Mau aku buatkan apa?" tanya Daera lagi.

"Aku tak mau makan. Sudah malam, lebih baik kita tidur saja." titah Changbin, pria itu langsung berdiri.

"Kau duluan saja, aku ingin belajar sebentar. Besok aku ujian." ucap Daera. Gadis itu terlihat sangat lelah namun ia memaksakan diri untuk tetap belajar.

"Baiklah, aku menemanimu saja. Lagipula aku tak begitu mengantuk." Changbin mengubah rencananya. Daera tersenyum tipis begitu mendengarnya.

°°°

Daera naik keatas tempat tidurnya. Tubuhnya sudah tidak sanggup bergerak lagi. Otaknya bisa saja meledak jika ada satu lagi teori IPA yang memasuki kepalanya.

Gadis itu menarik selimutnya, ia menutupi hampir seluruh tubuhnya. Daera masih sempat terdiam menatap langit-langit kamarnya, mengingat kejadian yang pertama kali ia alami dalam seumur hidupnya. Daera tersenyum senang, janungnya kembali berdegup kencang membayangkannya.

Ia mengubah posisinya miring ke kanan agar bisa dengan mudah menatap Changbin yang sudah tidur terlelap. Tangannya mengusap pipi Changbin yang juga menghadap kearahnya.

"Heol, katamu tak begitu mengantuk, sekarang saja kau sudah tidur duluan." bisik Daera pada Changbin dengan nada menyindir.

Daera memutar bola matanya malas, kemudian tersenyum.

Terima kasih sudah menemaniku belajar lagi, Changbin~a!

°°°

Daera memakan sarapannya pagi ini. Satu jam lagi ujian dimulai dan Daera masih belum beranjak dari tempatnya. Ia harus sampai di kampus setengah jam lebih dulu sebelum ujian dimulai. Cooky sedang bermain sendiri di halaman belakang.

Changbin perlahan menuruni tangga, ia melihat Daera sedang sibuk dengan sarapannya sambil membaca buku tebal disebelahnya.

Gadis ini benar-benar serius dengan kuliahnya.

"Kau belum ingin berangkat?" tanya Changbin. Ia menghampiri Daera, pria itu duduk dikursi depan Daera.

"Sebentar lagi." Daera masih sibuk dengan buku disebelahnya. Changbin menatap Daera, ia mengerucutkan bibirnya sebal.

Ayolah Daera, aku dihadapanmu. Bukan didalam buku itu.

Ingin rasanya Changbin teriak pada Daera tentang hal itu, namun ia masih belum berani. Changbin berdiri, ia berjalan lemas kearah halaman belakang setelah mendengar suara gonggongan Cooky dari sana.

Daera menatap kepergian Changbin ke halaman belakang, ia terfokus pada bibir Changbin. Pria itu berjalan sambil mengerucutkan bibirnya.

Tak lama terdengar suara mobil dari luar. Seseorang dari mobil itu memakai jas hitam dengan kaos putih polos didalamnya.

Daera mendengar suara bel yang ditekan orang itu. Daera menyelesaikan suapan terakhir ramyeonnya kemudian berjalan menuju pintu depan.

Gadis itu membuka pintu depan kemudian membeku ditempat.

"Kau?"

°°°

Liburan masih panjang, yorobun~

Tenang~

Luv u all❤

AMNESIA: THE SECRET [Seo Changbin] | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang