Ibunya Irene sempat mengira jika tamunya adalah seorang wanita yang sebaya dengan Irene. Namun ternyata tidak, tamunya adalah seorang pria berperawakan tinggi yang mengunjungi apartement putrinya.
Pertanyaan yang dilontarkan ibunya Irene, membuat Mino bingung harus menjawab yang mana. Dan Mino memilih pertanyaan mengenai nama.
Langsung saja Mino memperkenalkan dirinya ke ibunya Irene yang sedang duduk di hadapannya.
"Song Mino"
Mino memperkenalkan dirinya dengan senyuman manis nya. Yang langsung mendapatkan kekehan dari ibunya Irene.
"Aigoo nama yang Bagus cocok dengan wajah tampan mu ini" ucap wanita paruh baya ini.
Irene melangkahkan kaki jenjang nya menghampiri ibunya dan Mino. Dengan nampan yang berisi dua cangkir teh. Untuk tamu tersebut dan ibunya.
Saat Irene meletakkan cangkir teh tersebut di hadapan Mino. Mata mereka sempat bertemu dan itu membuat jantung Irene kembali berdetak. Begitu pula dengan Mino.
Ingin sekali Irene mengatakan pada Mino. Apa tujuan nya kemari selain menjenguk dirinya. Ia sempat heran saja, jika Mino tiba tiba menjenguknya.
Irene sangat yakin jika Tuan Siwon tidak menyuruh Mino untuk menjenguknya. Buat apa atasannya menyuruh Mino untuk menjenguknya? Pikir Irene.
Kebohongan Mino sudah jelas di matanya. Irene sudah mengetahui nya sejak Mino mengatakannya.
Namun Irene masih heran, apa Mino menyukai dirinya? Mengapa Mino menjenguknya? Jika memang Tuan Siwon yang menyuruhnya, mengapa ia tak menolak?
Tetapi tak tau kenapa hati Irene selalu luluh saat melihat Mino tersenyum manis. Ya saat ini Mino sedang asik berbincang dengan ibunya.
Sampai sampai Irene yang duduk di samping ibunya, tidak di hiraukan. Irene hanya melihat ke arah Mino yang bertepatan di hadapan dirinya dan ibunya.
Rasa sakit itu tak tumbuh kembali setelah melihat Mino. Ia justru semakin lebih tertarik lagi dengan Mino.
Ahh Irene pusing dengan deretan pertanyaan di dalam benaknya. Rasa penasarannya makin meluas sejak kehadiran Mino di apartemennya.
"Irene, apa kau masih tidak enak badan?" tanya Mino.
Pertanyaan Mino secara tiba tiba membuyarkan lamunan Irene yang sedang dilanda penasaran nya.
"Ahh tidak, aku sudah lebih baik dari sebelumnya"
"Syukurlah, ahh eomma apa aku boleh menjemput Putri mu besok untuk pergi bersama ke kantor, ya walapun kantor kami berbeda. Tapi itu tidak masalah" ucap Mino.
Apa? Mino ingin menjemput Irene untuk pergi ke kantor bersama? Apa Irene sedang bermimpi?
Tapi tunggu. Mengapa Mino memanggil ibunya dengan sebutan eomma? Apa mereka berdua saat ini sudah saling dekat?
Ahh Irene tidak memperhatikan pembicaraan mereka. Ia sibuk dengan pikiran nya yang tadi.
"Tentu saja Mino. Kau boleh kapan saja menjemput Irene" ucap ibunya yang diiringi kekehannya.
"Terima kasih eomma"
"Kalau begitu aku pamit dulu. Eomma jaga kesehatan ya. Irene tunggu aku besok" lanjut Mino.
Mino berpamitan dengan ibu Irene dan Irene. Mino berjalan menuju pintu apartemen. Namun langkah nya terhenti dan langsung berbalik kembali. Dan menghampiri Irene.
"Ahh aku lupa meminta nomor mu?"
"Huh?"
Irene cukup terkejut karna Mino meminta nomor teleponnya. Ia semakin penasaran sekali dengan Mino.
Sebenarnya ada apa dengan Mino? Sikap nya berubah sekali. Apa pria ini bukan Mino? Pikir Irene.
Irene memberikan nomor telpon nya pada Mino. Dan Mino kembali berjalan keluar dari apartemen Irene.
Akhirnya Irene bisa bernafas lega setelah Mino pergi dari apartemen nya. Jantungnya juga berdegup normal kembali. Dan ibunya hanya senyum senyum menggoda pada Irene.
Irene yang melihat ibunya hanya tersenyum kikuk. Dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia mau menetralkan pikirannya dahulu.
Irene merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit langit kamarnya. Ia masih bingung dengan sikap Mino. Dan rasa penasarannya makin tinggi.
Apa saat bertemu nanti Irene bertanya secara langsung kepada Mino? Tetapi jika pertanyaan nya membuat Mino tersinggung bagaimana?
Lagi dan lagi deretan pertanyaan di benak nya bermunculan begitu saja. Ingin sekali Irene menghilangkannya.
Namun semua itu tidak bisa saat mengingat kembali senyuman Mino yang membuat dirinya luluh.
Yang awalnya Mino tidak mengenali Irene bahkan cuek. Dan sekarang Mino terlihat seperti sudah sangat mengenal dengan Irene.
Jika dihitung dengan jari, perkenalan mereka masih belum sebulan. Dan itu bisa membuat Mino berubah seperti tadi.
Apa ini sifat asli Mino yang selalu royal dengan orang orang. Atau mungkin hanya orang orang tertentu saja ia bersikap seperti ini.
Oke Irene sudah pusing memikirkannya. Lebih baik sekarang ia memenjamkan matanya. Namun senyuman pria itu masih saja tergiang di pikiran Irene.
◐
Mobil Mino melaju dengan kecepatan standar. Ia bukan menjalankan mobilnya menuju perusahaan nya melainkan ke sebuah Cafe.
Baru saja Mino mendapatkan pesan dari teman lamanya untuk bertemu dengan dirinya di sebuah cafe yang mereka janjikan.
Saat Mino telah sampai di cafe tersebut. Orang yang selama ini berjuang dengan dirinya dan begitu lama tidak bertemu. Sekarang mereka di pertemukan kembali.
Mino berjalan memasuki cafe tersebut dan menghampiri teman lamanya itu.
"Mino-ya"
To Be Continued
Ada yang bisa tebak siapa teman lamanya? Hehe
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect (✔)
RomanceFor many years holding a flavor without the knowledge of their loved ones, telling the distance of those who had never met until they we're reunited❤ ~Bae Irene & Song Mino~
