Love That is Avenged

356 47 14
                                        

"Aku juga mencintaimu" ucap Irene tersipu malu.

Mino tertegun mendengar ucapan dari mulut manis Irene. Ia tak menyangka jika Cinta nya terbalaskan.

Dan bagi Irene, ini adalah hal yang paling ia tunggu tunggu sejak dulu. Perasaan yang sempat ia pendam dulu dan sempat untuk mengakhiri perasaan menyukai nya pada Mino.

Namun saat ini Mino menyatakan Cinta pada Irene. Hal yang sangat mengejutkan bagi Irene. Perasaan nya juga terbalaskan.

"Benarkah"

Mino mengulas senyum bahagianya sembari menggenggam tangan Irene. Dan di balas oleh Irene yang juga menggenggam tangan Mino.

Setelah Mino mengungkapkan perasaan nya, Mereka berdua langsung menyantap makanan yang telah di hidangkan di atas meja. Sesekali Mino menyuapi Irene, begitu sebaliknya.

Malam ini adalah malam spesial bagi mereka berdua. Hari jadi mereka menjalin sebuah hubungan kekasih. Tak sia sia Irene memendam perasaan nya begitu lama.

Akhirnya bisa terbalaskan juga, walaupun Mino dahulu yang menyatakan perasaannya.

Drrtt Drrtt

Deringan telepon Irene berbunyi di sela sela mereka makan malam. Irene melihat handphonenya yang tidak tertera nama panggilan. Hanya tertera nomor yang Irene tidak kenal.

Awalnya Irene ragu untuk mengangkatnya. Namun Mino yang melihat keraguan Irene, langsung menyuruh Irene mengangkatnya. Mungkin saja panggilan penting.

"Hallo"

Mata Irene melebar kala mendengar suara yang sangat ia kenal. Wajah Irene juga terlihat sangat panik. Membuat Mino semakin penasaran. Ada apa sebenaranya?

Mino hanya bisa melihat wajah Irene tanpa mendengar percakapan antara Irene dengan seseorang di sebrang sana.

Tak lama, Irene menutup telepon nya. Pikiran Irene berkecamuk setelah menerima telepon tadi. Ia bingung harus berbuat apa.

Mino hanya bisa mengelus tangan Irene untuk sekedar menenangkannya. Walaupun Mino belum mengetahui masalah di telepon tadi.

"Mino-ya, besok aku akan pergi ke Beijing"

Mino tersentak kaget. Irene berbicara tiba tiba sekali. Ada apa Irene mengunjungi Beijing? Apa masalahnya sangat besar? Pikir Mino.

"Tadi yang menelpon adalah ibuku. Dan ibuku sedang ada masalah dengan suaminya. Bahkan telepon genggam ibuku telah dirusak oleh suaminya. Untung saja masih ada tetangganya yang mau meminjamkan telepon nya untuk menghubungi ku" jelas Irene.

Mino mengerti. Masalah ini adalah masalah keluarga. Masalah yang tidak seharusnya orang lain ikut campur.

Namun Mino ingin ikut bersama Irene. Ya menemani Irene selama di Beijing. Mino takut jika terjadi apa apa pada Irene.

"Aku ikut denganmu"

"Tidak Mino. Kau besok bekerja bukan"

"Aku bisa mengambil cuti sebentar. Aku tak ingin kau pergi kesana sendirian"

"Mino-ya, percaya padaku. Kau tak usah khawatir. Aku bisa menjaga diriku"

"Tidak! Aku ingin ikut denganmu!!" tegas Mino.

Irene menghela nafas. Mino keras kepala. Pria di hadapannya ini sangat menginginkan dirinya untuk ikut. Irene tidak mau jika Mino ikut dalam masalah seperti ini.

Irene sangat menduga jika ayah tirinya telah berbuat kasar pada ibunya. Maka dari itu Irene tidak ingin Mino ikut dengannya karna bisa saja ayah tirinya itu semakin marah.

Mino mengajak Irene pulang lebih awal setelah mereka makan malam. Irene sedari tadi hanya diam, sibuk memikirkan ibunya yang berada di sana.

Maka dari itu Mino mengajak Irene pulang lebih awal karna melihat kondisi Irene yang sangat terlihat dari wajah nya sedang bersedih.

Mereka berdua berjalan menuju pintu utama Restoran ini. Namun sesaat, langkah mereka berdua terhenti kala seorang wanita memanggil nama Mino.

"Mino" seru wanita ini.

Mino maupun Irene lantas melihat ke arah wanita ini yang sudah berhadapan pada mereka.

Irene sempat bingung dengan wanita ini. Irene merasa bahwa dirinya pernah melihat wanita ini. Entah itu dimana.

"Kim Jennie" ucap Mino

"Hai apa kabar?"

Irene melihat kearah Mino yang mengekpresikan wajahnya dengan wajah dingin. Seperti tak suka jika bertemu dengan wanita ini.

Ahh iya Irene ingat. Wanita ini adalah wanita yang dulu sempat Irene temui bersama Mino di sebuah cafe. Irene diam diam mengikuti mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.

Ohh tidak. Itu hal yang sangat memalukan jika Mino mengetahuinya.

"Baik" balas Mino dengan wajah datarnya dan nada bicara yang dingin.

"Kalian berkencan?"

Irene tersentak dengan pertanyaan Jennie. Ia hanya menunduk malu karna mereka baru saja berkencan.

"Iya. Kami berkencan" ucap Mino.

"Ahh begitu"

"Ohh aku disini!" seru Jennie memanggil seseorang yang berada di belakang Mino dan Irene.

Seseorang itu langsung berjalan menghampiri Jennie. Dan setelahnya Mino dan Irene bisa melihat siapa seseorang tersebut.
"Dia adalah kekasih ku" ucap Jennie sembari mengandeng lengan pria itu.

"Bae Irene"

Irene mendongak melihat pria yang berada di samping Jennie saat memanggil namanya. Irene terkejut dengan pria itu. Mengapa ia bisa kenal dengan Jennie bahkan menjadi sepasang kekasih.

Suatu hal yang sangat kebetulan bisa bertemu kembali dengan dia. Pikir Irene

To Be Continued

Perfect (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang