Feelings of Happiness

370 52 13
                                        

Mobil Mino berjalan di atas aspal dengan kecepatan standar membelah kota Seoul di pagi hari.

Irene hanya bisa diam menatapi jalanan Seoul yang di ramaikan para pejalan kaki dan juga kendaraan yang berlalu lalang.

Sesekali Mino melihat ke arah Irene yang sedang duduk di sebelah pengemudi. Ukiran senyuman di wajah Mino muncul setelah melihat Irene yang berada samping nya.

"Mau kemana?" tanya Mino memecah keheningan.

"Huh"

Irene mengernyit heran, mengapa Mino yang bertanya pada dirinya? Bukannya dia sendiri yang mengajak nya untuk berjalan.

"Kenapa kau bertanya kepadaku?"

"Haha baiklah baiklah"

"Aku akan membawa mu ke suatu tempat" lanjut Mino.

Irene yang mendengar nya hanya tersenyum sembari melihat ke arah Mino yang dimana juga ikutan tersenyum melihat ke arah Irene.

Sejujurnya sedari tadi jantung Irene tidak berhenti berdegup kencang. Ia sangat gugup di saat berada tepat di samping Mino.

Apa lagi Mino yang selalu memperlihatkan senyuman manisnya yang membuat siapa saja akan tersipu. Maka dari itu Irene hanya melihat ke arah kanannya untuk menyembunyikan rasa tersipunya.

Bukit yang di hiasi dengan rerumputan hijau terbentang luas dengan indahnya. Ditambah terik sinar matahari dan angin yang berhembus membuat siapa saja yang merasakannya akan nyaman dan tenang.

Disini lah mereka berdua yang sedang berdiri di bawah pohon besar yang tertanam di atas bukit. Terlihat sekali jika berada di atas bukit pemandangan kota Seoul yang menabjubkan.

Irene yang masih tak percaya dengan pemandangan di depannya ini hanya terus menerus memandangi kota Seoul. Ia sungguh takjub melihatnya. Betapa indahnya ciptaan Tuhan.

Mino yang sedari tadi melihat ekspresi takjub Irene hanya tersenyum senang. Ia sudah berhasil membuat Irene bahagia seperti ini.

Mino mengatur kamera nya yang menggantung di lehernya. Setelah mengaturnya, ia langsung mengarahkan kameranya ke arah Irene.

Mengambil foto Irene dari samping kanannya. Wanita itu yang masih sibuk dengan pemandangan di depannya belum juga sadar akan kelakuan Mino yang sibuk memfotonya dari samping.

Hingga Mino yang langsung memanggil Irene dari belakang. Yang membuat Irene langsung mengahadap ke arah Mino.

Ckrekk

Mino mengambil gambar Irene yang sedang menghadap ke arahnya. Irene cukup terkejut karna Mino yang tiba tiba saja memfotonya di saat dirinya belum siap.

"Yakk!! Mengapa kau memfoto ku seperti itu? Huh?" ucap Irene yang lansung mendekat ke arah Mino.

Irene langsung mengambil kamera Mino dan hendak melihat nya. Namun secepat kilat Mino mengambilnya kembali kamera tersebut.

Irene yang melihat itu hanya memutar matanya jengah. Dan Mino hanya senyum senyum manis ke arah Irene.

"Apa kau senang dengan tempat ini?" tanya Mino.

"Iya. Pemandangannya sangat Bagus. Apa lagi di saat malam hari pasti sangat menabjukan"

"Ahh iyaa sebenarnya aku ingin membawa mu di saat malam hari tetapi aku sudah tidak sabar ingin mengajak mu jalan hehe"

Irene yang mendengar itu hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Mino yang membuat Irene gemas sendiri melihatnya.

"Dulu jika aku merasa banyak beban atau masalah aku akan kemari untuk menenangkan pikiran ku" ucap Mino.

"Benarkah?"

"Hm, tetapi saat ini aku kembali lagi kesini dengan seseorang yang telah merubah perasaanku dan membuatku nyaman"

Deg

Perkataan Mino membuat Irene sedikit kecewa. Siapa yang di maksud oleh Mino? Apa mungkin perempuan yang pernah ia temui bersama Mino? Ahh ternyata Irene masih memikirkan kejadian yang waktu itu.

"Ahh jinja? Siapa itu?" tanya Irene.

"Bae Irene"


Drrtt Drrtt

Suara deringan handphone membuat wanita paruh baya ini harus menghentikan aktivitas memasaknya. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa nama pemanggil tersebut.

"Hallo"

"Apa kau tidak pulang huh? Aku menunggu mu di sini sangat lama. Kau tidak betah hidup dengan ku"

Ibunya Irene lantas melihat ke arah layar handphone nya untuk melihat siapa pemanggil tersebut. Dan benar saja pemanggil tersebut adalah suaminya atau ayah tirinya Irene.

"Pulang sekarang. Sebelum aku mendatangi mu langsung ke sana"

Tutt

Panggilan terputus secara sepihak. Ibunya Irene hanya menghela nafas. Dia harus bersabar mengahadapi lelaki seperti itu.

Tujuan Ibunya Irene mendatangi anaknya adalah ia ingin menghindar dari suaminya itu. Ia sudah tak sanggup lagi berada di sana. Jika ia melakukan kesalahan, suaminya itu akan marah dan bermain keras padanya.

Wanita ini sengaja tidak memberitahu kepada Irene. Agar Irene tidak khawatir dengan dirinya. Dan juga ia tak mau jika suaminya itu datang kemari. Ia tak ingin suaminya bertemu dengan Irene. Ia takut jika lelaki itu bertindak yang tidak tidak terhadap putrinya.

"Sebaikanya aku pulang saja, dari pada dia harus datang kemari" gumam wanita ini.

Ibunya Irene bersiap untuk pergi dari apartemen Irene. Dan tidak lupa menuliskan pesan di notes yang di tempel di pintu kulkas.

Ibunya tak ingin langsung menghubungi Irene untuk sekedar berpamit. Pasti nanti dirinya akan di tanya mengapa ia kembali pulang. Lebih baik ia menulis pesan saja.

To Be Continued

Sudah berapa lama aku tak update hehe😁

Masih ada yang nungguin ini ff?

Maafkan aku yorobunnnnn🙏🙏

Perfect (✔)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang