Irene memasuki kamar rawat ibunya dengan tergesa gesa sembari menenteng kantong plastik yang berisikan makanan yang ia beli beberapa menit lalu.
Irene menghampiri Mino yang sedang duduk di samping ranjang ibunya. Terlihat sekali dari wajah Irene yang sangat kelelahan karena berlari tadi.
Ibunya dan Mino menatap heran ke arah Irene. Mengapa Irene seperti orang ketakutan? Ada apa sebenarnya? Pikir mereka.
"Irene kau kenapa?" tanya Mino memegang kedua bahu Irene.
"Mino-ya kita harus kembali sekarang!"
"Apa maksudmu sayang" ucap ibunya tak mengerti ucapan Irene
"Dia ada di sekitar sini Mino-ya"
"Dia? Ayah tirimu?" tanya Mino
Irene hanya mengangguk dengan nafas yang masih memburu. Sedangkan ibunya menatap kedua pasangan di hadapannya ini dengan tatapan kosong.
Ya sepertinya wanita paruh baya ini, mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya saat mendengarkan perkataan Irene dan Mino.
Ibunya kembali terdiam dan menatap lurus kedepan. Memori otaknya berputar menayangkan dirinya yang tersakiti oleh suaminya.
Ia tak sanggup mengingat itu kembali. Perlahan air mata nya jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Irene yang melihat langsung menghampiri sang ibunda yang masih menatap kosong.
"Eomma, apa kau baik baik saja? Eomma apa kau mendengarkan ku"
Mino melihat ke arah ibunya Irene yang masih terus menerus mengeluarkan air matanya. Menangis dalam diam.
Lantas ia berjalan menghampiri tombol pemanggil dokter yang berada di atas ranjang ruangan itu.
Namun Irene dengan sigap mencegah Mino untuk menekan tombol itu. Mino menaikkan satu alisnya, dan wajah nya mengekspresikan seperti 'ada apa?'
"Kau tidak usah memanggil dokter"
"Mengapa tidak usah?"
"Jika kita memanggil dokter. Kita akan berlama di sini karna kondisi eomma yang kembali tidak stabil"
"Aku tak mau jika kita berlama lama disini Mino-ya. Aku sangat khawatir pada eomma" lanjut Irene
Raut wajah Irene semakin ketakutan. Dan matanya tak bisa membendung lagi. Air matanya langsung meluncur dengan bebas.
Mino mendekati Irene dan membawanya kedalam pelukannya. Menenangkan gadisnya. Mengusap lembut punggung Irene dan sesekali mengecup Puncak kepala Irene. Seraya berkata
"Kita akan kembali sekarang juga" bisik Mino.
◐
Jennie berjalan di pinggir sungai Han sembari memandangi indahnya pemandangan sungai dari sini. Banyak orang yang bermain main di taman dekat sungai Han.
Sore hari yang membuat suasana hati Jennie semakin sejuk. Melihat awan yang sebentar lagi akan merubah warna nya menjadi gelap untuk menjelang malam hari.
Jennie berniat untuk melihat sunset dari sungai Han disini. Ia mendudukkan dirinya di kursi panjang tepat di pinggir sungai Han.
Tinggal beberapa menit lagi sunset akan muncul di sebelah Barat. Dan kebanyakan orang membawa pasangan untuk sekedar melihat sunset dari sini.
Hhh Jennie merasa iri dengan pasangan lainnya yang sedang menunggu sunset tiba. Ia jadi ingat dengan Mino dan kekasihnya yang baru baru ini sedang kencan.
Saat mendengar mereka berkencan, hati Jennie merasa tertusuk beribu ribu duri tajam. Namun ia tahan untuk tidak menangis dihadapan Mino saat mereka bertemu di hari yang lalu.
Dan beruntung nya ia membawa seorang teman baru yang mau menjadi seorang pasangannya, walaupun hanya pura pura.
Jika mengingat itu, Jennie sangat sangat berterima kasih pada seorang pria yang membantunya kemarin untuk menjadi pasangan sementara nya.
Matahari semakin merendah. Itu artinya sunset telah muncul. Jennie melihatnya sangat kagum dengan pemandangan seperti ini.
Ia sangat bersyukur kepada Tuhan atas ciptaan alam semesta yang Indah ini. Tak jauh beda melihat sunset dari sungai Han dengan di pantai. Sama sama mempunyai keindahan walaupun beda tempat.
"Hai"
Seseorang yang langsung duduk di samping Jennie, membuat dirinya terkejut akan kehadiran seseorang tersebut.
Tetapi setelah ia melihat, senyum manis dari gadis ini mengembang begitu saja.
"Suho"
"Kita bertemu kembali"
◐
Setelah melakukan check-in, Mino dan Irene berjalan menyusuri bandara untuk mencari gate yang tertera di tiket mereka.
Sesampainya di gate tujuan mereka, Mino maupun Irene mendudukan dirinya di deretan kursi ruang tunggu. Kecuali ibunya yang sudah duduk di kursi roda sesaat mereka sampai di bandara.
Ibunya Irene harus menggunakan kursi roda. Toh kondisi ibunya juga masih kurang membaik. Maka dari itu ibunya menggunakan kursi roda.
Mino mengambil sebuah lembaran koran yang berada di samping nya. Ia melihat lihat untuk sekedar menghilangkan kebosanannya.
Mino tidak mengetahui sama sekali dari berita di koran ini. Ya karna tulisan dan bahasa dari koran ini adalah mandarin.
Itu membuat Mino hanya melihat lihat gambar gambar saja yang tertera di koran tersebut. Hingga matanya menatap serius ke arah lembar keempat dari koran ini.
Di lembaran tersebut Mino melihat sebuah gambar seseorang yang sangat ia kenali wajahnya. Dan ada sebuah tulisan di atasnya dengan huruf latin 'Fugitive' yang artinya 'Buronan'
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect (✔)
RomanceFor many years holding a flavor without the knowledge of their loved ones, telling the distance of those who had never met until they we're reunited❤ ~Bae Irene & Song Mino~
