Ajeea menghela napasnya sekali lalu menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.
"Hallo, kak?" Sapa Ajeea saat ponsel itu menempel di telinganya. Ia duduk di lantai sambil menahan selimut agar tidak jatuh dari tubuhnya dengan tangannya yang tidak memegang ponsel.
"Ajeea.. where are you? Kakak baru pulang dan lihat seisi rumah kosong." Ucap kakaknya dengan suara tegas namun lembut.
Lihat? Erren baru pulang dari kantornya pagi ini dan dapat dipastikan jika lelaki itu hanya akan mandi dan berganti baju setelah itu ia akan kembali ke kantornya. Sepertinya Erren menganggap kantor adalah kekasihnya.
"I'm Sorry, kak. Jea terpaksa nginep di hotel soalnya semalem ada acara ulangtahun pak Roland, pemilik hotel tempat Jea kerja. Jea gak bawa mobil dan acaranya selesai larut banget." Ucap Jea sambil mengetukkan jemarinya ke lantai.
Erren diam. "Enggak lagi negtukkin jari, kan?" Tanya Erren karena ciri-ciri Ajeea berbohong adalah, ia akan mengetukkan jarinya.
"Enggak kok, kak.. Jea udah izin sama kak Afiya kok." Jawab Ajeea.
"Afiya terlalu sibuk dengan risetnya tentang tulang-tulang manusia, Ajeea." Ucap Erren yang selalu mengatakan pekerjaan Afiya sebagai pengamat tulang karena Afiya adalah dokter spesialis orthopedi.
"Iya, lain kali Jea minta izin sama kakak juga."
"Apa kamu sibuk dengan acara kamu semalam, Jea?" Tanya Erren. Dari nada bicaranya, Ajeea tahu kalau kakaknya itu sedang mencari sebuah kebenaran.
"Iya, kak. Kita sibuk sama pak Roland. Kan jarang-jarang pak Roland bisa diajak ngobrol." Jawab Ajeea semeyakinkan mungkin.
Erren adalah tipikal pengamat yang hebat. Ia memiliki intuisi yang kuat untuk mengendus sebuah ketidakjujuran.
"Tapi kakek tadi telepon kakak dan bilang kalau kamu belum kasih kado titipan dari dia ke pak Roland, Ajeea. Apa kamu benar-benar ngobrol sama pak Roland atau kamu ada pekerjaan lain?"
Mengapa tebakan kakaknya begitu benar?
Ajeea terdiam. Otaknya buntu. Erren sangat mewarisi sifat mendominasi dari ibunya, namun kakaknya adalah kakak lelaki paling baik sedunia. Kakaknya selalu menjadi kakak yang bertanggung jawab.
"Eh iya—ehm—semalem.." Ajeea berusaha menjawab namun otaknya benar-benar buntu.
"Don't lie, Ajeea."
"No, i don't lie. I swear, aku gak bohong kak. Aku cuma lupa. Kadonya tinggal di mobil Ferri.." dalam hati Ajeea meminta maaf kepada Ferri karena selalu ia gunakan untuk sebuah alasan.
"I tried to believe that. Jaga diri kamu, ya. Jangan pulang terlambat. Kamu sama Afiya itu tanggung jawab kakak kalau mama sama papa lagi tour ke luar negeri."
"Iya, kak." Jawab Ajeea. Ia segera memutuskan sambungan telepon, takut jika kakaknya kembali bertanya hal aneh.
Ia menghembuskan napasnya. Lalu teringat pada Allen. Jarinya langsung mencari nomor Allen dan segera menghubunginya.
Allen menerima teleponnya pada deringan ketiga.
"Hallo, Jea? Are you okay? Kamu perlu sesuatu?" Tanya Allen di seberang sana.
"Enggak. Kamu sudah selesai jumpa pers?" Tanya Ajeea.
"Belum. Sebentar lagi mulainya. Aku lagi cari referensi untuk pengganti aku dan Junar di dapur. Ada apa, Jea?"
"Oh.. Junar kenapa diganti, Len?"
"Dia bakal aku angkat jadi personal assistant aku, Jea."
Ajeea mendengus dengan keras hingga Allen dapat mendengarnya. "Kamu gak bisa jauh dari Junar, ya?"
Allen tertawa di seberang sana "aku cuma percaya sama dia, Jea. Oh iya, aku sudah suruh Risa siapin perlengkapan kamu tapi kalau kamu capek, kamu bisa istirahat. Aku bakalan ke sana setelah semuanya selesai tapi jangan tunggu aku, kayaknya aku bakal lama."
Tiba-tiba Ajeea teringat alasannya menelepon Allen. Ia ingin marah-marah kepada kekasih—calon tunangannya itu karena menyuruh Risa membeli peralatannya. Pasti Risa melihat dirinya sedang tidur tadi.
"Kok kamu suruh Risa nganterin ke sini sih? Aku malu, Allen. Pasti dia lihat aku tidur tadi. Dia pasti mikir aneh-aneh."
"Dia gak akan mikir yang aneh-aneh, sayang. Kalaupun gitu, dia gak akan bilang ke siapapun. Kamu cuma perlu tenang."
"Tapi aku bakal ketemu dia setiap hari, Allen!"
"Kita bisa ganti dia kalau gitu." Usul Allen.
Ajeea cemberut. Ia tidak menjawab perkataan Allen. Tetap saja, meskipun Risa tidak memberitahukan kepada siapapun, ia akan merasa malu jika bertemu sekretarisnya itu nanti.
"Jea, maaf ya. Aku harus ketemu media sekarang. Kita bicara lagi nanti, ok? Oh iya, kado semalam udah aku taro di ruangan kamu. I love you, Jea."
"Too." Jawab Ajeea sambil melepaskan ponsel dari telinganya. Allen akan semakin sibuk dengan jabatannya sekarang.
***
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ajeea memutuskan untuk turun ke ruangannya. Ia akan bekerja daripada harus berdiam diri di ruangan mewah ini sendirian.
Pangkal pahanya masih sedikit sakit namun ia bisa mengatasinya.
"Pagi, Bu Ajeea." Sapa Risa saat Ajeea tiba di depan pintu ruangannya.
"Pagi, Risa." Jawab Ajeea malu-malu.
Ajeea cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya namun Risa kembali berucap, membuatnya mau tidak mau harus mendengarnya.
"Bu, tadi saya nganterin baju ibu ke atas. Wah bagus banget ya, Bu ruangannya. Saya gak pernah lihat suite room semewah itu. Chef—eh—pak Allen minta saya nganterin baju ibu. Katanya semalem ibu gak bawa mobil dan dia nawarin ruangannya ke ibu. Dia suruh saya karena dia gak berani masuk. Takut khilaf, katanya." Ucap Risa panjang lebar sambil tertawa.
Perlahan Ajeea menghembuskan napasnya. Allen. Sangat pintar membuat alibi.
"Takut khilaf?" Tanya Ajeea diiringi tawa. Bukankah Allen sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar kekhilafan?
"Iya, Bu. Katanya nanti dia khilaf kalau lihat ibu lagi tidur. Pak Allen keren banget ya, Bu. Dia jagain ibu." Jawab Risa.
***
"Bu Jea, bapak Roland minta ibu segera ke ruangannya." Kata Risa melalui interkom.
Ajeea menghentikan aktifitasnya lalu mengerutkan keningnya.
"Siapa yang panggil saya?" Tanya Ajeea.
"Bapak Roland, Bu. Dia minta ibu segera ke ruangannya." Ulang Risa.
Jantung Ajeea berdetak lebih kencang dari biasanya. Mengapa tiba-tiba kakek Allen memanggilnya? Rasanya Ajeea sudah memberikan seluruh report divisinya Minggu lalu. Jika ada kesalahan, pasti assistennya yang akan menghubunginya.
Apakah bapak Roland menagih kado dari kakeknya yang belum ia berikan? Rasanya tidak mungkin.
Perlahan sebuah pernyataan muncul dalam pikirannya. Ia mencoba untuk tidak membenarkan pikirannya itu namun seorang Roland Suryandri adalah orang yang memiliki banyak koneksi.
Apakah Roland Suryandri tahu apa yang ia dan Allen lakukan. Semalam?
*Bersambung*
Semoga konsisten update😄
Salam,
INILAM WITH LOVEEEEEEH💞💞💞💞
KAMU SEDANG MEMBACA
Ajeeallen's Role
RomansaAjeea Milly Darmandira tidak pernah memiliki pemahaman tentang konsep pernikahan. Namun bukan berarti ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Ia hanya tidak mengerti bagaimana bisa seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang ia...
