PEMBUKAAN IMF-Wold Bank Annual Meeting di Nusa Dua sudah dilaksanakan beberapa hari yang lalu.
Kesibukan dan pengamanan di Bali sudah dirasakan oleh semua orang sebelum pembukaan dilaksanankan. Bagaimana banyaknya mobil mewah yang berlalu lalang untuk mengantar para petinggi dunia, dan banyaknya keluarga dari para delegasi asing yang sedang menikmati keindahan pulau ini.
"Non voglio giocare in quella direzione, voglio giocare in quella direzione!" (*
Teriak seorang anak perempuan yang rambut cokelat tebalnya di kepang satu. Mengingatkannya akan sosok Primrose dalam film hunger games.
Anak itu menggunakan bahasa Italia, Ajeea tahu itu karena dulu ia pernah bersekolah di sana.
Dari wajahnya, Ajeea tahu anak kecil itu sedang marah kepada seorang anak lelaki yang sangat mirip dengannya.
"Non voglio continuare a seguire i tuoi desideri!"(** Jawab anak lelaki itu. Ajeea baru menyadari jika anak lelaki itu memiliki warna rambut yang sama dengan si anak perempuan.
Ajeea memperhatikan dua bocah itu, mereka amat lucu. Ajeea memperkirakan mungkin usia mereka sekitar lima atau enam tahun.
Ia paham arti dari ucapan keduanya dan tersenyum sendiri.
Ia melangkahkan kakinya yang telanjang ke arah pesisir pantai, menuju dua bocah yang sedang tidak akur itu. Ia memperhatikan sekelilingnya dan tidak melihat ada orangtua di sekitar mereka.
"posso aiutarti?" (***
Perdebatan antara dua bocah itu terhenti ketika Ajeea bertanya kepada mereka. Dengan cepat, wajah marah si anak perempuan berubah menjadi takut sedangkan yang lelaki berusaha memasang wajah galak dan menarik anak perempuan ke balik tubuhnya.
"Non sono un rapitore." (**** Lanjut Ajeea karena mengetahui jalan pikiran mereka berdua.
Dua bocah itu memandanginya dan perlahan wajah mereka berdua berubah menjadi sedikit lebih tenang.
Ajeea berjongkok dihadapan mereka berdua.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ulang Ajeea dengan bahasa Italia yang fasih. "Dimana orangtua kalian?"
Meskipun wajah mereka sudah lebih bisa diajak berteman, namun sepertinya mereka tetap enggan untuk bersuara.
"Kami tidak diizinkan bicara dengan orang yang tidak kami kenali." Jawab anak lelaki itu dengan bahasa Italia nya.
Ajeea tersenyum menyikapi betapa cerdas mereka berdua. Tipikal orang Italia yang sangat perfeksionis.
"Baiklah, perkenalkan namaku Ajeea Milly Darmandira dan nama kalian?" Tanya Ajeea menyodorkan tangan kanannya.
Mereka hanya memandangi tangan kanan Ajeea yang terulur ke arah mereka.
"Alrigo." Yang lelaki lebih dulu menyambut tangannya. Ajeea mengembangkan senyumnya.
"Abrianne. Abbagliamento."(*****
Ajeea kembali tersenyum saat Abrianne mengambil tangannya dari Alrigo.
"Ya. Kamu sangat mempesona." Jawab Ajeea dengan tulus karena memang wajah Abrianne sangatlah mempesona meskipun usianya masih sangat kecil.
Dengan cepat Abrianne menggelengkan kepalanya. "Kamu yang aku katakan sangat mempesona. Kamu sangat cantik." Jawabnya lalu tangan kecil itu menyentuh pipi Ajeea.
"Terimakasih. Kamu jauh lebih mempesona. Dimana orangtua kalian?"
"Papa sedang ikut pertemuan bersama yang lain dan mamma sedang mencari kami." Jawab Alrigo dengan cengiran di wajahnya.
Ajeea mengerutkan keningnya meskipun tak menghilangkan senyumnya. Wajah mereka berdua sangat atraktif. Sangat indah.
"Apa kalian berdua kembar?"
"Ya. Dia mengikuti wajahku." Jawab Abrianne.
Ajeea tertawa dan mengambil kesimpulan jika Abrianne adalah yang pertama. Betapa cerdas mereka berdua.
"Ibu kalian pasti sedang sedih karena mencari kalian." Ucap Ajeea sambil bersedekap tangan, pura-pura marah namun dua bocah itu malah tersenyum.
Keduanya saling pandang. "Dia benar, Riggy. Ini salahmu." Ucap Abrianne.
"Tapi kau tetap mengikutiku, Anne!"
Ajeea kembali menghela napasnya sambil menahan tawa. Betapa mudahnya mereka bercekcok.
"Alrigo, Abrianne. Baiklah. Sekarang apa yang membuat kalian bertengkar tadi?"
"Kami hanya ingin berjalan-jalan tapi mamma tidak mengizinkan. Itulah sebabnya kami pergi tanpa izin. Tapi setelah sampai disini, aku ingin kesana sedangkan Riggy ingin ke sana." Tunjuk Abrianne ke dua arah yang berbeda.
Ajeea kembali menyunggingkan senyumnya. "Kalian tahu apa nama pantai ini?"
Keduanya kembali saling pandang dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika kalian tersesat? Nama pantai ini saja kalian tidak tahu. Apa bisa membayangkan jika mamma kalian akan sedih?"
Keduanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kalian mau pulang?"
"Ya, Milly. Aku ingin pulang. Riggy, kita harus meminta maaf dengan mamma."
Ajeea tersenyum karena Abrianne memanggilnya dengan nama tengahnya. Bersama dua orang asing ini ia lebih mudah tersenyum.
"Aku akan mengantar kalian pulang kalau begitu. Dimana resort kalian?"
"Four Seasons." Jawab keduanya.
"Benarkah? Aku bekerja disana."
"Berarti kita akan sering bertemu?" Tanya Abrianne menaikkan kedua alisnya. Tanda ia amat berharap.
Ajeea menganggukkan kepalanya. "Kita akan sering bertemu. Ayo kita pulang." Ajak Ajeea.
Dua orang itu dengan teratur mengambil bagian di sisi tubuh Ajeea masing-masing dan menggandeng tangannya.
Ia merasa nyaman ketika dua tangan mungil itu menggenggam jari telunjuknya.
Mereka mulai melangkah.
"Riggy, kau tahu? Jika kembali, papa akan membelikan ku boneka." Ucap Abrianne menoleh kepada Alrigo yang berada di sisi kanan Ajeea.
"Anne, bonekamu sudah sangat banyak. Mamma pasti akan kembali menggelengkan kepalanya." Jawab Alrigo sambil memutar bola matanya.
Ajeea hanya tersenyum mendengarkan mereka berdua. Betapa bahagianya keluarga mereka.
"Biar saja. Aku menyayangi papa. Dia selalu menuruti keinginanku!" Bela Abrianne.
Sesuatu menghantam ulu hati Ajeea. Baru saja ia merasa bebannya terangkat namun kini ia harus berhadapan dengan realita.
Jika nanti sudah seusia Alrigo dan Abrianne, apakah anaknya bisa mengatakan jika ayahnya sangat menyayanginya?
*Bersambung*
(*Aku tidak ingin bermain ke arah itu, aku ingin bermain ke arah itu!
(**Aku tidak ingin terus mengikuti keinginanmu!
(***bisa saya bantu?
(****Saya bukan penculik.
(*****Abrianne (nama). Mempesona.
Maafkeun jika ada kesalahan dalam kata-kata. Ceun bukan orang Itali. 🙈
SENDING OUT OF LOVE TO ALL OF YOU
INILAAAAMMM💞💞💞🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
Ajeeallen's Role
רומנטיקהAjeea Milly Darmandira tidak pernah memiliki pemahaman tentang konsep pernikahan. Namun bukan berarti ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Ia hanya tidak mengerti bagaimana bisa seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang ia...
