Four Seasons Jimbaran, Bali.
AJEEA sangat sibuk selama hampir dua Minggu ini. Setelah ia menginjakkan kakinya di Jimbaran, ia langsung mempelajari tentang resort ini.
Risa selalu mengikutinya kemanapun karena anjuran dari Allen.
Bicara tentang Allen, komunikasi mereka menjadi lebih sedikit sekarang. Allen di Jakarta sibuk dengan pemindahan kekuasaan dan ia disini sibuk dengan pekerjaannya.
Ajeea merasa kalau sekarang Allen jauh lebih was-was terhadap dirinya. Ia sangat protektif.
"Bu Ajeea, ini sudah jam sembilan malam, Bu. Kita harus kembali ke penginapan." Ucap Risa saat Ajeea masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ia menghela napasnya dan mengurut pelipisnya. Akhir-akhir ini ia menjadi cepat lelah dan sering merasa pusing karena pekerjaaan yang sangat banyak. Bagaimana tidak? Ia harus menyusun segala sesuatunya secepat mungkin karena sekarang beberapa delegasi asing sudah mulai berdatangan bersama keluarga mereka.
"Risa, kamu bisa bantu saya beresin ini? Saya capek banget." Pinta Ajeea pada akhirnya.
Risa mengangguk dan mulai memberesi kertas-kertas yang ada di atas meja Ajeea.
Ajeea meraih ponselnya dan menelepon Afiya. Walaupun sudah menjadi dokter ortopedi di rumah sakit Medistra, Afiya selalu menjadi andalan Ajeea untuk urusan sakit kepala.
"Sakit kepala, dek?" Ucap Afiya dari seberang sana. Meskipun Afiya tidak bisa melihatnya, mau tak mau Ajeea tersenyum karena memang dirinya selalu menelepon kakaknya itu hanya jika ia merasa tidak enak badan.
"Pusing sama lemes, kak." Jawab Ajeea.
Afiya sama sekali tidak tahu jika adiknya adalah kekasih Allen, calon tunangannya.
Hanya Farrahia yang mengetahui hal ini dan entah mengapa ia sama sekali tidak membicarakan kepada siapapun.
"Kamu makan teratur gak?" Tanya Afiya. "Kalau makan gak teratur, ya wajar pusing sama lemes. Kamu udah dua Minggu lho di sana."
"Makan kok, kak. Tapi agak telat aja. Abisnya di sini banyak pekerjaan."
Afiya menghela napasnya pelan. "kamu bisa kena maag. Nanti kakak bicara sama personal assistan kamu mengenai obatnya. Sekarang kamu istirahat dan jangan lupa makan."
"Iya, kak. Iya."
"Oh iya, kak Erren ternyata jadi salah satu perwakilan Indonesia di KTT nanti. Jadi dalam beberapa hari lagi dia bakalan ke Bali. Dia nitip pesen sama kakak kalau pas dia sampai sana dan lihat kamu capek, dia janji bakalan nutup Four Seasons."
"Diktator banget ya kak Erren." Tawa Ajeea.
***
Four Seasons, Jakarta.
Allen sedang duduk di meja kerjanya. Jika tidak ada hal yang penting, ia tidak akan mendongakkan kepalanya dari layar laptop di hadapannya.
Ia merasa kalau ia tak bisa membengkakkan pekerjaannya. Sehari saja ia libur, maka tumpukan pekerjaan akan menggunung.
"Pak Allen, apa sebaiknya bapak istirahat dulu?" Tanya Junar untuk yang kesekian kalinya.
Sekarang Junar menjadi personal assistannya yang lebih banyak membantunya mengurus masalah pekerjaannya.
Allen mendongakkan kepalanya dan menatap jam dinding. Pukul delapan malam.
"Bapak selalu minta Bu Ajeea untuk istirahat tetapi bapak sendiri tidak pernah istirahat." Lanjut Junar.
"Kamu bisa pulang lebih dulu, Junar." Jawab Allen yang tiba-tiba teringat pada Ajeea.
"Saya akan pulang jika bapak pulang." Jawab Junar.
"Baiklah, bisa tinggalkan saya sebentar? Saya ingin menelepon Ajeea."
Junar menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruangan Allen.
Allen mengambil ponselnya dan menelepon Ajeea.
"Jea, I Miss you." Ucap Allen yang lebih mirip sebuah rengekan.
"Miss you too, Allen. Sudah pulang, kan?" Tanya Ajeea.
Allen mengerutkan alisnya. Suara Ajeea kedengaran berbeda.
"Kamu sakit?" Tanya Allen cemas.
"Cuma capek sedikit aja kok. Kalau tidur, pasti besok paginya lebih baik."
"Jaga kesehatan ya, sayang. Aku bisa ke Jimbaran kalau kamu perlu aku." Ucap Allen.
Allen dapat mendengar suara tawa yang amat merdu di ujung sana. "Alibi banget deh, Len. Sekarang yang lagi butuh itu kamu atau aku, hm?"
"Aku yang butuh kamu, Jea. Aku butuh kamu di sini. Di sebelah aku." Jawab Allen pasrah karena ternyata Ajeea mengetahui maksud nakalnya.
"Gak usah ke sini. Nanti pekerjaan kamu tambah banyak. Aku gak sabar untuk pulang dua bulan lagi, Allen. Aku juga kangen banget sama kamu. Bibir aku kering karena gak ada kamu." Ucap Ajeea.
"Jea.. jangan bikin aku—"
"No, Allen. Jangan ada wanita selain aku. Gak ada one night stand. Kamu harus inget aku." Potong Ajeea galak.
"Yes, sweetheart."
"Aku gak sabar lagi mau pulang, Allen."
Tiba-tiba Allen teringat sesuatu. Ia teringat akan pertunangan konyol yang baru ia ketahui. Ia tak bisa memberitahukan Ajeea tentang masalah ini. Ini akan menambah pikiran wanita itu. Ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum Ajeea pulang.
Ajeea tidak perlu tahu hal ini.
*Bersambung*
JAN LUPA VOMMENT YAAAAAAAH
INILAM💞💞
KAMU SEDANG MEMBACA
Ajeeallen's Role
RomanceAjeea Milly Darmandira tidak pernah memiliki pemahaman tentang konsep pernikahan. Namun bukan berarti ia tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Ia hanya tidak mengerti bagaimana bisa seseorang memutuskan untuk menikah dengan pasangan yang ia...
