Bintang yang sedang berjalan-jalan di taman kota pada sore hari berlangit jingga, tak sengaja menabrak seorang laki-laki dari arah berlawanan dengannya.
"Eh, maaf-maaf. Gua gak sengaja," ucap Bintang.
Laki-laki itu berbalik dan membuat Bulan membulatkan matanya. "Do–dokter Aldi?"
Aldi mengenyit. "Ini Bulan atau Bintang?"
"Bintang, Dok."
"Aldi aja, nggak usah pake dokter. Lagian ini bukan di rumah sakit, jadi jangan terlalu formal," kata Aldi sembari tersenyum manis.
Bintang menggaruk tengkuknya. "Aduh, gak sopan dong kesannya."
"Gapapa, take it's easy," sahut Aldi.
Bintang mengangguk. "Iya, deh, Kak Aldi."
"Nah gitu dong."
Bintang mengangguk. "Iya, Kak."
"Oh iya, gimana kondisi Bulan?"
"Udah baikan, cuma ingatannya masih belum balik, Kak."
"Tunggu aja prosesnya, bentar lagi juga dia akan segera pulih."
"Yah, I hope that."
"Btw, kamu masih bersandiwara jadi Bulan?" tanya Aldi.
Bintang menggigit bibir bawahnya. "Eum... iya."
"Orangtua kamu gak curiga?"
Bintang menggeleng. "Engga, kok."
Aldi mendesah pelan. "Mau sampai kapan, Tang? Gak capek apa berpura-pura menjadi orang lain?"
Bintang menatap nanar kearah Aldi. "Ini udah pilihan gua, Kak. Apapun konsekuensinya, kan, gua yang nanggung."
"Yah, kalo itu mau kamu aku gak bisa berbuat banyak. Tapi kalo butuh bantuan, hubungi aku aja."
Bintang tersenyum simpul. "Ya, terimakasih, Kak."
Aldi menepuk pundak Bintang. "Aku duluan, ya. See ya, Bintang!"
Bintang melambaikan tangan. "See ya!"
***
#Bulan's POV
Pagi-pagi sekali aku melihat Bintang yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, tumben sekali, tidak biasanya dia bersiap sepagi ini.
Akupun segera menghampiri Bintang. "Tang, tumben bener lo udah siap sepagi ini?" tanyaku.
Bintang tersenyum kearahku. "Iya, hari ini, kan, ada pertandingan basket antar SMA, dan the Glory mau tampil. Jadi aku harus berangkat lebih pagi buat briefing sama anggota yang lainnya."
Aku membulatkan mata sempurna. Jadi, Nathan akan tanding hari ini? Tapi kenapa dia tidak memberitahuku? Aish, menyebalkan. "Oh, good luck, Tang!"
"Iya, makasih, Lan. Doain ya biar penampilan the Glory memukau hari ini."
"Sure." Mendengar the Glory, entah kenapa aku jadi merindukan mereka semua. Aku rindu mulut bawel Ria dan Lilly, rindu ketua kelas yang lemotnya minta ampun, dan rindu kebersamaan dengan Nathan. I miss all that.
"Kamu udah mandi?" tanya Bintang.
Aku menggeleng seraya menyuapkan sesendok puding strawberry ke mulutku. "Belum, sepuluh menit lagi, deh."
"Bulan, kunyah dulu yang bener baru bicara," tegur Mamah.
"Iya, maaf, Mah."
"Udah sana mandi, jangan nunggu ntar-ntar. Kalo udah mandi nanti kita sarapan bareng," titah Mamah padaku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan dan Bintang [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] [UPDATE SETIAP SABTU PUKUL 20.00 wib] Berkisah tentang Bulan dan Bintang, dua gadis kembar dengan karakter yang bertolak belakang, mendatangkan alur cerita baru dalam kehidupan keduanya. Kehidupan dua remaja itu dipenuhi...