32. Benarkah Itu Kamu?

1K 38 1
                                    

***Happy Reading***

Aarav berjalan dengan gagahnya melewati koridor kantor di tengah jam makan siang. Pria itu terlihat sangat berwibawa dan berkharisma, membuat semua mata yang melihat tak dapat teralihkan darinya.

"Rav!"

Pria itu berhenti melangkah seketika. Dia menoleh kebelakang dan mendapati Nathan di sana. "Apa?"

Nathan berjalan santai kearahnya. "Gue udah hubungi pihak Star Corp, katanya CEO mereka bersedia menghadiri rapat yang kita usulkan. Tadinya gue atur jadwal hari ini, tapi karena dia ada di New York dan tentunya penerbangan dari New York ke Jakarta cukup memakan waktu dan menguras energi juga, gue minta pertemuan diundur jadi lusa."

"Lusa?"

Nathan mengangguk. "Ya. Lo keberatan?"

"Nggak, sih. Kebetulan lusa jadwal gue kosong."

"Oh, bagus dong."

"Oh iya, besok siang gue mau jemput sepupu gue Silla ke bandara. Jadi, besok gue mau lo handle semua urusan pertandatanganan dokumen yang udah numpuk di meja gue."

"Aish, sialan lo. Gue sibuk."

"Cuma besok aja, kok. Kasian Silla nggak ada yang jemput."

"Silla yang kuliah di New York itu?"

Aarav mengangguk.

"Penerbangan hari ini?"

"Ya, Nanti malam sekitar jam satu."

"Eh, kalo dia terbang dari New York hari ini, kemungkinan besar dia satu pesawat sama CEO Star Corp, kan. Iya nggak?"

Aarav merenung sejenak. "Mungkin. Tapi kan pesawat tujuan Jakarta juga banyak, bukan cuma satu."

"Silla naik pesawat apa? Nggak mungkin pesawat ecek-ecek dong."

"Cathay Pacific," jawab Aarav.

"Sudah kuduga. Dan kemungkinan besar mereka satu pesawat. Gue yakin tuh CEO pasti naik pesawat yang sama."

"Ah, tau dah. Oh iya satu lagi, besok malamnya gue sama Silla mau dinner juga, lo mau ikut?"

Nathan menggeleng cepat. "No, thanks. Gue sibuk. Baik malam ini dan juga besok malam gue punya jadwal dinner spesial with my lovely moon."

"Yaelah sok sibuk, dinner doang padahal."

"Dinner doang matamu, ini penting banget buat masa depan gue."

"Mana ada sih dinner sampai dua malam berturut-turut, aneh lo."

"Yeuh, suka-suka gue lah."

"Yaudah, terserah lo aja." Aarav pun pergi meninggalkan Nathan yang kemudian mendapat panggilan telepon dari calon istrinya.

"Yash, my moon nelpon!"

"Halo, my moon." Nathan menyapa Bulan dengan lembut.

"Hi, Nat."

"Kamu pasti kangen kan sama aku?"

Bulan terkekeh. "kangen dong, masa nggak."

"Aku juga kangen sama kamu, sabar dikit lagi ya."

"Nanti malam jadi?"

"Jadi sayang, kamu dandan yang cantik ya, eh jangan deh."

"Kenapa jangan?"

"Nanti kalo kamu dandannya kecantikan, orang-orang pada jatuh cinta lagi sama kamu."

"Bagus dong."

"Nggak boleh, cuma aku yang boleh mencintai dan dicintai kamu."

Bulan dan Bintang [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang