Happy reading💋
Devin sudah berjanji untuk tidak merebut kebahagiaan Nadine lagi, sudah cukup gadis itu merelakan semuanya karna harus hidup bersama pria berengsek sepertinya.
Devin sedikit membersihkan darah yang mengalir disekitar wajahnya dan sedikit merapihkan pakaiannya yang sudah berantakan.
Tepat disebuah pintu besar Devin berdiri, entah harus mulai darimana ia melakukan semua ini.
Kemungkinan terbesar adalah bahwa gadis itu tidak akan menerimanya hanya dengan sekali tatapan.
Ini pertama kali dalam hidupnya ia merasa gemetar karna harus berhadapan dengan seseorang.
Devin mencoba mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu.
Tidak lama pintu itu terbuka dan memperlihatkan wajah gadis kecil itu dengan tatapan terkejut saat melihatnya.
Sangat terlihat diwajah gadis itu ia mencoba untuk terlihat baik baik saja.
"Kau mau ngambil anakmu? Masuklah." Nadine mempersilahkan masuk, dan bodohnya Devin mengikuti langkah gadis itu.
"Aku akan mengemasi barangnya, kau boleh menggendongnya dan beri nama sesukamu." Kata Nadine dengan suara bergetar. Devin hanya diam melihat gadis yang ia rindukan dengan begitu intens.
Saat Nadine berjalan kearah sebuah lemari pakaian tiba tiba tubuh kekar Devin sudah merengkuhnya dengan erat.
Nadine hanya diam dan menunduk dengan airmata yang terjatuh.
"Aku ingin memeluk tubuh ini sekali lagi, setelah ini aku akan pergi. Aku tidak akan lagi mengganggumu." Bisik Devin lirih.
Entah apa seharusnya Nadine merasa senang karna ucapan tersebut tapi kenapa hati terasa hancur ketika Devin akan pergi dari hidupnya.
Nadine perlahan melepas pelukan tersebut dan mengambil sesuatu.
Devin hanya berdiri ditempat dengan tubuh bergetar, Nadine mengambil sebuah kotak obat dan menarik tangan Devin untuk duduk diatas ranjang.
Nadine berlutut dibawah ranjang dan mulai membersihkan luka luka yang melukai wajahnya.
Nadine hanya diam ia tidak berani menatap mata pria itu, jika tidak Devin akan menyadari jika rasa cintanya masih ada dan tidak pernah berkurang.
Devin diam dan hanya melihat wajah gadis itu dengan lekat.
"Pasti ada yang menghentikan kemarahan kak Dean sampai dia tidak jadi membunuhmu." Nadine tersenyum sumbang. Devin saat melihat senyum itu seperti ada sebuah es yang mencair dihatinya.
"Hmm" jawab Devin, dengan mata masih terpatri kearah gadis itu.
"Kau harus memberi nama bayimu,Dev. Lukamu sudah bersih" sembari menutup kotak obat tersebut.
Lagi lagi Devin menarik tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat, sungguh hanya ini yang Devin inginkan.
Saat semua sudah terlambat dan Nadine sudah terlalu lelah untuk bersama.
Nadine hanya diam ia tidak lagi menangis, mungkin menurutnya menangis adalah hal paling bodoh apa lagi tangisan itu ditujukan untuk pria yang tidak punya hati seperti Devin. Ia tidak akan menyadari tangisannya.
Pelukan itu semakin erat, seakan tidak ingin kehilangan.
"Aku mencintaimu" bisik Devin dengan suara gemetar.
Nadine mematung saat mendengar kalimat pendek yang ia impikan selama ini di pernikahannya.
Pertahanan Nadine pun goyah ia menangis lagi, ia memejamkan mata menunggu Devin mengulang kata kata itu.
"Aku mencintaimu Nadine, maafkan aku" tangis Nadine pun pecah dan Devin semakin mengeratkan pelukan itu.
Devin mencium tengkuk kepala gadis itu dan melepaskan pelukan itu perlahan.
"Aku mohon kembalilah, aku tidak menginginkan bayi itu jika tidak bersamamu" tatap Devin serius kearah Nadine.
Untuk pertama kalinya, keputusan dan pikirannya berubah secara bersamaan.
Beberapa menit yang lalu ia sudah berjanji akan pergi dan tidak akan menganggu gadis ini lagi, tapi hatinya justru yang menguasainya saat ini.
Nadine hanya bisa menangis tanpa harus menjawab ucapan Devin. Ia tidak tau hatinya seperti apa saat ini.
Seakan pertahanannya runtuh saat kalimat itu keluar dari mulut pria yang ia cintai dan pria yang menghancurkan hatinya secara bersamaan..
"Kalau kau datang hanya untuk mengatakan hal konyol agar dapat bayi itu, kau salah Dev. Bayi ini milikmu aku tidak pernah melanggar perjanjian kita selama ini" tangis Nadine semakin keras..
"Tapi tolong kali ini pergi dari hidupku, aku terus memikirkan mu Dev, aku selalu mencintai pria kejam sepertimu." Teriak Nadine sembari memukul dada kekar Devin.
"Aku bodoh, kenapa aku harus mencintai pria yang bahkan tidak pernah mencintaiku."
Devin memeluk tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu Nadine, sejak pertama aku melihatmu. Maaf karna aku tidak menyadarinya" bisik Devin.
Entah keberanian darimana, Nadine meletakan tangannya di pipi Devin dan perlahan ia menyatukan bibir meraka, hanya sebentar dan terasa sangat lembut.
"Pergilah Dev.." senyum Nadine terlihat sangat tulus.
Devin diam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun, sampai lututnya terasa lemas dan ia pun berlutut di hadapan Nadine.
Devin menunduk tanpa disadari airmatanya jatuh begitu saja, tubuh dan hatinya terasa hancur berkeping keping.
Mungkin ini yang dirasakan Nadine selama ini atas perlakuannya yang berulang ulang menyakiti.
Nadine hanya diam sampai ia menyadari ada sesuatu tetesan air yang jatuh ke celana Devin.
"Dev.." panggil Nadine pelan.
Devin hanya diam dan menundukan kepalanya.
Seperti ada es yang mencair dihatinya, ia tidak menyangka kalau pria sedingin Devin bisa menangis dan berlutut dihadapan wanita.
"Dev, aku memafkanmu. Dan aku tidak akan meninggalkanmu."
Devin yang mendengar kalimat tersebut semakin terisak, tapi kali ini tangisannya adalah tangisan kebahagian.
"Aku mencintaimu Dev, jangan nangis lagii." Kata Nadine sembari memeluk Devin.
"Kita rawat bayi kita, tolong jangan pergi.." rintih Devin pelan, Nadine mengangguk pelan.
'Aku mencintaimu Nadine' batinnya
Up up up!!!! Hihihi
Jangan lupa komen dan beri bintang yaa💞💞
Terimakasih masih setia dengan Nadine dan Devin..
KAMU SEDANG MEMBACA
-NADINE LINWOOD-
RomanceFOLLOW SEBELUM MEMBACAA!!!😊😊 TAMAT!!!!! Bagaimana bisa gadis 18 tahun seperti Nadine bisa terjebak satu kamar dengan pria dewasa yang tidak ia kenal Hidup Nadine Linwood akan berubah setelah kejadian itu dan pria itu penyebabnya.. Jangan lupa foll...
