WQ-12

25.1K 1.1K 3
                                        

happy reading...

Gimana cara kalian ngilangin swing mood yang parah....

_______________

Napas Natha tersenggal-senggal ia membungkukkan badannya mencoba menetralkan napasnya, tangannya meraih kenop pintu menutup mata sambil terus berharap.

Kening Natha berkerut dan mencoba kemutar kenop pintu dan mendorongnya tidak bisa? Apa tidak ada orang didalam?. Ponsel Natha berdering menandakan jika ada pesan masuk.

'aku ditaman apartemen mu kemarilah'

Natha mengusap peluh dipelipisnya memejamkan mata, didalam benaknya bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan ditaman. Ia merasa was-was maka dari itu begitu melihat pesan yang masuk ia langsung pamit untuk pulang dan memang sudah waktunya untuk pulang.

Kali ini Natha berjalan dengan perlahan sambil menggigit bibir bawahnya, tidak seperti tadi ketika ia menaiki bus dan turun layaknya orang yang kesetanan. Ia harus bisa terlihat sesantai mungkin.

Natha mengernyit ketika orang yang ia kenali duduk diayunan sendirian sambil tersenyum memandang lurus kedepan, siapa lagi orang gila itu jika bukan Jenny. Ketenangan Natha tidak bertahan lebih lama ketika pikirannya tertuju kembali kepada pria itu, dimana dia?.

Natha mencoba mencari keberadaannya namun nihil kemudian ia memperhatikan Jenny yang masih menatap lurus, disana ada truk es krim dan yah disana pria itu, dengan? Seorang wanita yang bergelayut manja ditangannya? Natha berkedip-kedip memastikan penglihatannya apa minnya bertambah sekarang?.

"tidak perlu memandanginya seperti itu"

Natha menoleh dan benar saja suara itu adalah suara Jenny yang tersenyum sumringah untuknya.

"itu pangeranmu, aku rasa itu kekasihnya"

Bibir Natha dengan spontan tersenyum sinis, hatinya terasa terbakar ada yang sakit sangat didalam sana apa ia harus menangis sekarang?.

"sedang apa mereka disini?" suara itu terdengar begitu sinis, membuat tawa dari mulut Jenny menyembur.

"aku tau kau cemburu tidak perlu marah kepadaku, bagaimanapun mereka terlihat begitu cocok"

"yah" suara Natha terdengar begitu samar dan parau

"ayo kita temui mereka"

"NO"

Dengan spontan Natha menjawab dengan suara kerasnya "em.. maksudku kita disini saja, menungu mereka"

Kening Jenny berkerut "hey kau ingin menginginkan pria itu tapi tetap berdiri disini kapan dia akan mengenal kita oh tidak, tidak kau saja tapi aku juga ingin berkenalan dengannya sih"

"kau belum berkenalan dengannya?"

"memangnya aku punya waktu untuk hal, itu kau ini"

Natha tersadar " jadi kau belum berkenalan denganya? Tunggu lebih tepatnya kalian tidak bersama?"

Jenny menggeleng menatap heran kearah Natha yang menghela napas kasar dan memalingkan wajahnya.

"aku hanya mengabarimu jika aku bertemu dengannya, jangan-jangan kau berharap aku sudah duduk santai dengannya?"

Tawa Jenny menggema hingga beberapa orang melihat kearah mereka dengan penasaran.

Karena kesal Natha berbalik dan berjalan menghentakkan kakinya, namun idak bisa dipungkiri jika ia meresa lega jika Jenny tidak berkenalan dengan pria itu disisi lain ia juga penasaran dengan wanita disamping Adrey siapa wanita itu?.

"Jen sebaiknya kau menginap dihotel saja"

Mereka sudah duduk diruang tamu apartemen Natha, ok apartemen Adrey maksudnya. Jenny masih saja sibuk menertawainya, namun bukan itu yang sekarang dipikirkan Natha, jika pria itu ada ditaman ada duan kemungkinan jika tidak sehabis dari apartemen maka pria itu akan segera keapartemen dan kemungkinan yang pertama tidak mungkin karena Jenny terus didalam apartemen.

Yang paling memungkinkan adalah opsi kedua, apa pria itu akan membawa wanitanya keapartemen? Natha meringis mengingat hal itu ada yang menyengat didalam sana. Namun sekarang bukan itu hal yang paling peting.

"kau mengusirku karena menertawakanmu atau karena tidak dapat berkenalan dengan pria itu"

Natha menghela napas "direktur tidak akan suka jika kau terlambat ikut seminar besok pagi"

"ish.. tidak perlu membawa-bawa pria sialan itu, aku tau apa yang harus aku lakukan lagi pula aku memang tidak ingin berlama-lama disini"

"aku tidak bermaksud mengusirmu"

"ya... ya... ya... terserah kau saja"

"sekarang aku yang penasaran, kau menyukai pak direktur?"

"aku tidak akan pernah menyukainya" "lagi" lanjut Jenny pelan

"kalau begitu dia yang menyukai... Jen"

Natha membelalak kaget ketika ucapan terakhir Jenny sampai ketelinganya, ia cukup penasaran dengan hubungan keduanya dan sepertinya pirasatnya benar jika mereka pernah memiliki status lebih.

____________________

Setelah mengantar Jenny, Natha pulang dengan napas sedikit ya hanya sedikit lega otaknya masih berpikir keras siapa perempuan yang menggandeng mesra tangan suaminya ditaman dan apakah suaminya akan pulang membawa kejutan itu untuknya.

Dengan berat hati Natha membuka pintu dengan napas yang ditahan, ia siap menerima apapun pemandangan yang akan terjadi didalam sana nantinya.

Perlahan Natha melangkahkan kakinya dengan kepala menunduk, tidak, tidak, tidak tuhan dia belum siap melihat apa yang akan terjadi, Natha sibuk memperhatikan lantai dengan pikiran yang melayang entah kemana hingga tidak sadar ia menambrak sesuatu hingga terjerembab dan memekik nyaring.

Seseorang yang berdiri bersandar dipintu balkon terkujut dan spontan berbalik hampir saja Adrey menyemburkan tawanya ketika melihat Natha terjerembab dengan tidak anggunnya dilantai, bukannya menolong Adrey malah terkekeh dan hanya memperhatikannya.

Natha belum sadar jika ada orang lain yang sudah memperhatikannya dengan kesal ia menggerutu sambil memukul-mukul tempat sampah yang tadi ia tabrak.

"dasar kau sakit tau" kesalnya pada tempat sampah itu "lagi pula siapa yang meletakkamu disini?" masih dengan posisi duduk Natha menendang tempat sampah plastik itu hingga tutupnya terpisah dari badannya.

Semua itu tidak luput dari pengamatan Adrey, tak tahan berdiam Adrey pun mengeluarkan suaranya.

"kau yang punya mata kenapa menyalahkannya" kemudian Adrey menyesap minumannya untuk menutupi senyum diwajahnya.

Mengangkat kepalanya pipi Natha bersemu merah apa Adrey melihat semua kejadian tadi, semoga saja tidak. Dengan wajah masih memerah Natha berdiri memperhatikan Adrey yang bersandar dipintuk balkon.

Teringat sesuatu Natha memperhatikan seluruh ruangan tidak ada tanda-tanda siapapun selain Adrey dalam ruangan itu, Natha lupa memperhatikan sepatu didepan tadi sangking asiknya menunduk.

Belum Natha bernapas lega suara seorang wanita dari belakangnya membuat Natha berbalik dan mematung seketika.

"Will apa sabun dikamar mandi mu habis"

Wanita itu berjalan mendekat sambil menunduk merapikan roknya hingga tidak sadar ada orang lain disana, ketika mengangkat kepalanya barulah ia sadar ada seseorang disana ia langsung tersenyum dan menyapa Natha.

"hai..." kemudian sedikit memiringkan kepalanya ia melongo kearah Adrey "apa dia pembantu mu Wil? Ah aku pesankan untuk mu urus rumah William dengan baik karena dia tidak pernah perhatian dengan rumahnya sendiri"

Wanita itu terkekeh dan mengambil tasnya "aku pulang dulu"

Wanita itu pergi meninggalkan Natha dengan sejuta Tanya dalam benaknya dan tentu saja juga sakit dihatinya. Memang penampilannya seperti pembantu ralat memang dia bekerja menjadi pembantu tapi apa harus wanita itu berkata seperti itu didepannya, dan ia yakin Adrey tidak memberitahu wanita itu jika ia sudah menikah.

"siapa dia?"

William's Queen (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang