Tidak ada yang aneh ketika Natha berjalan memasuki ruangan para professor dan dosen-dosen berada, karena itu merupakan pemandangan yang biasa. Tadi Adrey mengatakan jika ia sudah pulang dan meminta Natha untuk menjumpainya di ruang rektorat, pria itu megatakan jika ia lelah, bagaimana tidak lelah kemarin begitu sampai Adrey langsung menjumpai kliennya untuk menyelesaikan masalah hingga larut malam dan di lanjutkan pagi tadi, begitu selesai Adrey langsung pulang.
Begitu Natha mebuka pintu hanya ada Adrey, seorang pria dan seorang wanita yang sama sekali tidak di kenal Natha.
Adrey tersenyum menyambutnya, dengan isyarat mata Adrey mempersilahkan Natha duduk di sampingnya sedang ia masih melanjutkan percakapan dengan kedua orang di hadapannya.
"I miss you"
Suara bas Adrey terdengar di telinga Natha membuatnya bersemu merah, beruntung sepasang manusia tadi sudah tidak ada di dalam ruangan itu.
Terkekeh pelan Adrey menyenderkan kepalanya ke bahu Natha dan menutup matanya, rasanya begitu nyaman.
"jangan tidur disini, ayo kita pulang"
"tidak mau, kita disini saja, jika di rumah pasti tidak bisa seperti ini"
Adrey memeluk pinggang Natha dan menyerukkan wajahnya ke leher Natha. Adrey tidak tau apa yang salah dengan dirinya tapi akhir-akhir ini ia benar-benar nyaman berada di samping Natha, ketika ia lelah dengan hanya melihat keluguan Natha semua lelahnya hilang pergi entah kemana. Adrey sadari satu hal begitu mudah mencintai wanita di sampingnya ini, ya walaupun menurut Adrey otak wanita ini perlu di isi walau hanya sedikit karena biasanya Adrey tidak menyukai wanita berotak kosong tapi dengan Natha ada yang berbeda.
"bagai mana kelas mu hari ini?"
"begitulah"
"begitulah bagai mana? Apa kau tidak mendengarkan dosenmu bercerita?" Adrey terkekeh pelan sembari menutup matanya.
"entah lah. Ayo kita pulang"
"kau harus berjanji terlebih dahulu, jika kita pulang temani aku tidur seperti ini"
Setelah lelah berdebat tentang menemani tidur, Adrey baru mau di ajak pulang setelah menetapkan kesepakatan jika Natha harus menemaninya tidur setiap hari. Entah dari mana datangnya perdebatan dan kesepakatan mereka hingga menjadi Natha yang harus menemaninya tidur setiap hari, biarlah sejak kapan Natha bisa menggunakan otak untuk berpikir jika di dekat pria ini yang ia pikirkan saat ini hanya keluar dari ruangan rektorat agar mereka tidak berjumpa dengan sang pemilik ruangan. Natha bisa malu jika berjumpa dengan pria tua itu.
Tidak banyak perbincangan di antara mereka ketika di dalam mobil, mereka hanya meresapi kebersamaan mereka sambal menikmati alunan lembut music dari radio rasanya begitu pas.
Ketika sampai di rumah juga begitu. Mata Adrey begitu berat rasanya maka dari itu ia langsung menarik Natha ketempat tidur dan menajdikannya guling tanpa mendengar ucapan wanita itu lagi, terakhir yang ia dengan sebelum memejamkan matanya adalah 'aku ingin bertanya sesuatu' yang di jawab gumaman Adrey 'apa saja setelah kita bangun tidur'.
--------------
Berbagai makanan terhidang dengan sempurna di hadapan satu keluarga yang tengah menunggu seorang lagi datang.
"Selamat malam, maafkan anak dan adik kalian ini yang terlambat" Suara melengking memenuhi ruangan makan malam itu.
Cessa menciumi satu persatu pipi keuarganya yang ada di ruangan itu mulai dari ibunya lalu ayahnya dan kemudian kakak laki-lakinya yang akhir-akhir ini jarang terlihat bersama mereka, berlawal dari hilangnya istrinya dan anaknya dan belum di temukan hingga saat ini.
"kau masih mengingat kami ternyata Ken"
"Cessa" tegur ibunya
Cessa terkenal dengan sikap ceplas-ceplosnya begitu berbanding terbalik dengan kakak perempuannya Quennatha yang begitu santun dan sedikit Nerd.
"ok ma, ayo kita mulai makan kalua begitu aku sudah begitu lapar" sahut Cessa dengan antusias.
"kau ini..." sinis Ken
"adik mu yang cantic ini lapar kakak ku sayang. Andai saja Natha disini"
Mendengar nama Natha keluar dari mulut Cessa semua mata menatapnya tajam. Ups sepertinya dia salah membahas topik, dengan cengiran lebarnya Cessa mengisi piringnya.
"selesaikan makan mu. Kita harus semua harus berbicara malam ini"
Beginilah keluarganya sebulan sekali pasti ada 'siraman rohani' dari sang ayah dan ibu, namun hanya beberapa bulan terakhir yang tidak ada karena Ken sibuk dan Cessa juga begitu apalagi Natha kakaknya itu, memang kapan ia tidak sibuk dengan urusan-urusan remehnya itu. Tapi kali ini Natha benar-benar beruntung tidak harus mengikuti sesi ini, itu menurut Cessa karena ia benar-benar mengantuk dengan ceramah kedua orang tuanya yang itu-itu saja.
Pernah satu kali mereka di haruskan berkumpul untuk 'siraman rohani' tersebut padahal mereka sedang sibuk-sibuknya. Mereka semua pulang masa itu masih ada istri Ken juga. Hari itu karena lelah Cessa benar-benar mengantuk mendengar omongan kedua orang tuanya jadi ia mengusulkan untuk membuat games di tengah-tengah 'ceramah' dan boleh di lanjutkan setelah mereka bermain dan tentu saja semua menerima disanalah Cessa mengelabui orang tuanya agar tidak melanjutkan ceramah dan itu terus berlangsung hingga 'ceramah' yang mereka dengar tidak berlangsung lama namun sepertinya malam ini berbeda, bukan haya gamesnya saja namun suasananya juga.
"bagai mana bisa kau memfasilitasi kakak mu sendiri bekerja di rumah keluarga Harrem?"
Kunyahan di mulut Cessa berhenti dan melirik satu persatu semua orang di sana, tidak ada yang menuntut jawaban, mereka masih asyik dengan hidangan di piring mereka.
"kau tau sendiri Ken adik mu yang satu itu benar-benar menyebalkan dan keras kepala"
"yeah I know, tapi kenapa harus Harrem? Kau tau usaha Multilevel marketing mereka yang tidak jelas barangnya itu dan masih dalam penyelidikan belum lagi terlibat kasus pajak, di tambah lagi dengan kasus penyeludupan minyak illegal mereka, bagai mana jika namanya ikut terseret?"
"aku dengar juga dia dan anaknya yang bekerja di kantor pajak itu terlibat penggelapan dana yang di simpan atas nama pembantunya kalua tidak salah" itu suara kalem kepala keluarga disana, tidak ada beban seperti hanya berita restoran yang baru buka.
"kau tidak mengatakan itu kemarin pa? bagai mana jika namanya memang sudah terlibat, oh anak ku" gusar Carry
Tangan pria tua itu terulus dan mengelus pelan tangan istrinya dengan senyum hangat yang selalu membuat Carry tenang.
"tenang saja sayang, kau tau sendiri siapa suaminya dan itu tidak akan terjadi."
"yep kau benar pa, Natha tidak akan terkena masalah" seru Cessa riang, hanya sedetik wajah riangnya berubah menjadi kusut "tapi aku tetap tidak suka suaminya pa, aku lebih suka Asley yang menjadi suaminya" Cessa tampak berpikir sejenak.
"ah... aku tau! Aku akan membantu Asley untuk mendapatkan Natha kembali"
"PRINCESSA" serempak mereka semua memekik, Cessa terkekeh dan melanjutkan makannya dengan santai tanpa menghiraukan semua tatapan tajam mereka kearahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
William's Queen (end)
Chick-LitWilliam Adrey Walter, seorang pengacara handal dengan reputasi sempurna dimata semua orang harus pulang kerumah karena harus menggantikan kakaknya untuk menikahi seorang gadis yang sudah menjadi tunangan kakaknya.
