WQ-30

22.8K 1K 1
                                        

Hari sudah pagi ketika Natha mengerjapkan matanya. Tubuhnya masih polos di balik selimut, pipinya bersemu merah dengan bibir tersenyum malu-malu mengingat hal yang terjadi tadi malam. Natha menoleh kesampingnya, kosong.

Natha mencoba bangkit dari tidurnya, bagian bawah tubuhnya terasa ngilu dan sakit, ia meringis sambil melilitkan selimut ketubuhnya dan berjalan kekamar mandi.

Air hangat sudah tersedia di dalam bathtub dengan aroma terapi yang menguar dari sabun yang sudah berbuih di dalam bathtub dan juga dari lilin aroma terapi yang menyala. Natha mengedarkan pandangannya dengan bingung, masih memengang gagang pintu, ia baru sadar ada sebuah postnote yang di temple di depan pintu ketika akan menutup pintu, mungkin Adrey ingin mandi, pikirnya. Namun ketika membacanya ia kembali tersenyum dan tersenyum malu, Adrey sungguh manis.

'mandilah'

Hanya karena tulisan itu Natha tidak henti-hentinya tersenyum. Ia menyimpan terlebih dahulu kertas petak berwarna biru itu, barulah ia masuk kedalam kamar mandi.

Tidak lama Natha berendam dengan masih menggunakan handuk di kepala dan bathrob, ia keluar mencari keberadaan Adrey, berharap pria ittu masih menunggunya sebelum pergi kerja.

"Ad?"

Natha mencari Adrey dan memanggilnya namun pria itu tidak juga muncul, ia berjalan kearah dapur, ia kembali menemukan post note di atas meja.

'makanlah, jika sudah dingin kau bisa memanaskannya'

Natha menyimpulkan jika pria itu sudah pergi, namun wajahnya masih bersemu merah dan bibirnya terus tersenyum tidak henti. Hari ini Adrey tidak ada kelas jadi wajar saja jika pria itu pergi lebih pagi.

'aku di apartemen mu. Kau dimana?'

Sebuah pesan masuk ke ponsel Natha, keningnya mengernyit. Untuk apa Anne keapartemennya?. Ia tidak berniat membalas pesan Anne, biarkan saja sebentar lagi wanita itu pasti akan menelpon. Benar saja ponselnya sudah berdering dengan nama wanita itu.

"Natha kau dimana? Aku di depan apartemen mu. Kau tau? Aku baru saja menerima kemarahan si Hostkin tua dan ini semua karena mu Natha"

"kau yakin An? Seingatku dia menerima surat cuti ku dengan tenang, kau membuat masalah lagi dengannya Anne?"

"dengan mengikutimu mengambil cuti dan mengajar di kampus baru mu, itu saja sudah menjadi masalah baginya Nath. Kau tau professor tua itu begitu menyayangiku"

"ya, ya, ya Anne. Kau sudah berulang kali mengatakan jika Prof Hostkin menyayangi mu"

"lupakan itu Nath, sekarang kau dimana? Aku karatan menunggu mu di depan"

"aku tidak di apartemen ku Anne"

Diseberang sana Anne berdecak kesal "kenapa tidak mengatakannya sedari tadi, jadi kau dimana? Biar aku yang mendatangi mu"

"jika kau mau bermacet-macetan selama dua jam tidak masalah"

"kau dikampus? Bukannya hari ini kau tidak masuk?"

"ya, aku di dekat kampus lebih tepatnya."

"ok, kalau begitu aku hanya ingin menyampaikan jika si tua Hostkin menginginkan mu datang ke acara pesta anaknya. Aku tidak tau apa maksudnya, dia sampai mengancamku jika kau tidak datang. Aku yakin anaknya adalah salah satu penggemar mu"

Setelah panggilan terputus senyum di bibir Natha belum menghilang, sepertinya hari ini akan menjadi hari yang paling indah dalam sejarah hidupnya. Beruntunglah untuk mahasiswanya yang memiliki janji bimbingan hari ini, Natha berencana mebagi waktunya dengan mereka. ia berharap semoga tiba-tiba Adrey sudah pulang begitu ia kembali, ia begitu merindukan pria itu sekarang.

Sore harinya senyum belum hilang dari bibir Natha. Ia sudah membeli berbagai makanan dari restoran, berharap Adrey pulang dengan cepat. Hidup memang tidak pernah sesuai dengan harapan, Adrey pulang ketika matahari sudah sempuran tenggelam dan sudah berganti dengan bulan.

Natha tersentak dari tidurnya di atas sofa ketika mendengar suara-suara dari dapur, ia tidak mendengar Adrey masuk tadi. Sekarang pria itu sudah berdiri dengan pakaia santainya dibalik kompor.

"masak apa?" ucap Natha sambil mendekat.

Adrey hanya meliriknya sekilas dan menunjukkan telur yang ada di atas pen. Natha menganggukkan kepalanya.

"disana ada makanan, ak-"

"aku tau dan aku sudah melihatnya, aku tidak suka semua makanan itu" Adrey menekan setiap perkataannya dan menatap Natha tajam.

Mata Natha mengerjap ia mengangguk dengan wajah polosnya, mungkin besok ia bisa menanyakan Adrey suka makanan apa untuk makan malam mereka.

Langkah kaki Natha mengikuti kemana langkah kaki Adrey berjalan, seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya. Adrey sengaja menghentikan langkahnya hingga Natha menabrak punggungnya.

"kau tidak ingin makan malam? Duduk sana"

o...oh! Natha membulatkan mulutnya dan menangguk, ketika Adrey duduk ia juga ikut duduk di hadapan Adrey. Walau harus memutari meja bar lagi Natha tidak akan menyia-nyiakan bisa melihat wajah Adrey yang tengah menyantap makan malamnya.

Makanan yang tadi di belik Natha terhidang dihadapannya, ia bingung makanan itu terlihat menguarkan asap, bukankah seharusnya sudah dingin?.

Suapan sendok Adrey berheti ketika melihat Natha hanya memperhatikan makanan dihadapannya, menghela nafas kesal Adrey meletakkan sendoknya dengan kasar, meraih beberapa makanan kedalam piringanya dan mengambil sebuah piring lagi mengisinya dan meletakkanya di hadapan Natha.

"makan" ucapnya sinis.

"tapi kau tidak suka"

"diamlah, makan saja"

Ketika ingin melanjutkan makannya Adrey melihat pas bunga di ujung meja Bar, ia kenal bunga dalam pas itu.

"bunga itu kenapa ada disana?"

"ketika pulang aku melihatnya di tempat sampah, karena masih segar aku meletakkannya disana"

Adrey berdesis kesal ketika Natha tersenyum manis kepadanya, jika Adrey tidak ingat tadi siang mungkin ia sudah mengurung Natha dari tadi sore di dalam kamar. Ia sengaja jauh-jauh memutar hanya untuk makan siang dengan Natha dan menyiapkan segalanya, tapi apa yang ia dapatkan? Menyebalkan, Natha makan dengan teman-temannya dan pria menyebalkan itu.

William's Queen (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang