WQ-39

38.6K 1K 8
                                        


Semua karya milik mu begitu bagus dan mengesankan Ms. Queen. Ah, ya. Aku tidak yakin itu merupakan nama asl mu.

Tapi dalam karya mu satu ini, kau mentumkan nama ku dan belum meminta izin ku.

SHOULD WE TALK ABOUT IT?

Adrey ingat ia pernah menuliskan kata-kata itu dalam selembar kertas yang ia semprotkan parfumnya. Tapi ia tidak menyangka jika sampai saat ini kertas itu masih tersimpan dengan rapi di dalam dompet istrinya, walaupun terlihat seperti sudah pernah di remas.

Kemarin sore mereka sudah sampai di apartemen. Setelah pertemuan mereka dengan tamu – yang menurut Adrey sangat menyebalkan, Adrey langsung memesan tiket untuk besok siangnya dan meminjam heli. Beruntung kali ini ia bisa menggunakan heli yang di sediakan, karena jika tidak Adrey berencana membeli heli baru dari sekitar sini – entah itu ada atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting ia sudah berencana dan tidak ingin istri tercintanya lelah untuk berkendara menuju bandara.

Adrey berpikir untuk bulan madu, setelah anak mereka lahir atau nanti setelah Natha dan anak mereka sanggup melakukan perjalanan jauh. Kali ini ia akan pastikan tidak akan ada yang mengganggu bulan madu mereka lagi, seperti wanita tolol yang menyodorkan kakaknya itu. Sudah dengan jelas Adrey katakana jika Natha itu istrinya, milikya, tetap saja wanita itu ingin Natha berkencan dengan kakaknya. Tidak cukupkah hanya Asley saja yang menjadi rintangannya. Adrey tidak akan pernah terima hal macam itu, dari pada ia membunuh orang lebih baik mereka pulang saja.

Natha baru saja keluar dari kamar mandi selesai mandi, masih mengenakan baju handuk di tubuhnya. Adrey yang setengah berbaring di atas ranjang dengan tangan terlipat di bawah kepala memanggilnya untuk duduk di sampingnya.

"Ada apa?"

Adrey tersenyum, menarik tangan Natha hingga Natha terjatuh di atas dada bidangnya.

"Apa aku boleh bertanya?"

Kening Natha mengernyit dan kembali menegakkan badannya, tangan dinginnya masih di dalam genggaman Adrey yang mengelusnya, sesekali mengecup.

"Apa saja"

"Kenapa semua buku mu yang berjudul 'William's Queen' yang pernah di cetak di Tarik dan tidak di produksi lagi?" Natha menatap Adrey sambil mengerjab. Otaknya buntu ia tidak bisa mengarang untuk saat ini.

"Satu hal lagi kenapa kau masih menyimpan kertas ini?" Adrey memegang ujung kertas yang ia ambil dari dompet Natha karena tidak sengaja melihatnya ketika ia lupa membawa dompetnya untuk membayar Natha menyerahkan dompetnya dan terburu-buru ke toilet ketika di bandara kemarin.

"Itu... Itu..."

Pipi Natha memerah, malu. Adrey menatapnya penuh selidik. Apa Natha harus jujur sekarang. Natha memalingkan wajahnya dan menjawab satu tarikan napas dengan nada kesal yang di buat-buat.

"Bukannya kau tidak suka jika aku menyebut nama mu dalam buku ku aku tidak suka bebururusan dengan pengacara di pengadilan"

Adrey menyipitkan matanya tidak mengerti. Menghela napasnya ia menarik Natha dan menggulingkannya di atas ranjang kemudian memeluknya dengan erat. Mencium kening Natha dan menatap Natha menggoda.

"Jadi itu alasan mu menyimpan surat ku" kekeh Adrey membuat pipi Natha kian memerah "Takut berurusan dengan pengacara? Sayang, surat ku tidak akan membuat mu bebas jika aku menuntut mu. Lalu, Bagian mana dari surat ku yang menandakan aku tidak menyukai nama ku disana"

"Baca saja sendiri" Kesal Natha namun tetap ia merasa malu. Untuk menutupi pipinya yang kian menjadi ia menarik tangan Adrey untuk menutup wajahnya.

"Aku hafal di luar kepala isinya hingga saat ini dan aku sama sekali tidak mengerti bagian mananya yang membuat mu melakukan hal gila yang merugikan itu."

"Aku tidak gila! Kau tidak sadar kau yang gila, mengahfal kata-kata semacam itu"

"Baiklah, kita sama-sama gila kalau begitu. Kau gila karena menyimpan kertas ini dan aku yang tergila-gila pada mu dan menghafal kalimat yang berulang kali ku tulis dan berakhir di tong sampah karena tidak menemukan kata yang tepat"

"Ad, sejak kapan kau menyukai tulisan ku?" Natha menurunkan lengan Adrey dari wajahnya dan menatap serius pria itu.

"Bisa di koreksi. Aku tidak menyukai karya mu, aku mencinta orang yang menulisnya"

"sama saja Ad"

"Jauh berbeda Natha. Sudahlah kau tidak akan mengerti perasaan ku yang ketika membaca bait pertama saja jantung ku sudah berdebar dan mencari nama pengarangnya. Dari karya pertama mu dan pembeli pertama dalam bungkusan yang belum di buka. Sayang sang pembeli pertama tidak bisa menjadi orang pertama membelinya, karena aku yang membacanya lebih dahulu jadi buku itu menjadi milik ku"

"Marta?" Ucap Natha sedikit ragu.

Adrey mengangguk "Dia adik dari teman ku" Natha langsung meraih bantal dan menimpuk Adrey. "Marta pembaca setia ku" Kesalnya.

Natha terkekeh mengingat satu hal "Berarti kau yang lebih dahulu mencintai ku"

"Memang begitu adanya, kau baru saja mencintai ku sudah bangga" Gerutu Adrey.

"Tidak, aku juga sudah lama. Love at the first sign" Adrey mengernyit meminta penjelasan. Natha terkekeh dengan malu-malu ia berkata "Apa kau ingat, kau pernah memberikan kantung plastic yang berisikan cemilan di depan ruang sidang?"

Adrey mencoba mengingat-ingat kembali. Ia menggaruk tekuknya belum bisa mengingat. Ia tidak pernah lagi membawa kantung plastic berisi cemilan kecuali ketika ia magang dan yang terakhir ia di minta tiba-tiba keruang sidang dan...

"Sayang" ujarnya curiga "Kau gadis yang mengenakan topi dan masker?"

Bibir Adrey langsung menyambar bibir Natha. Sudah selama itu tapi kenapa pertemuan mereka harus sedramatis ini, tidak bisakah lebih elegan lagi dan selama ini ia hanya menghabiskan waktu terus menghidari perasaannya kepada pemilik aslinya.

"Katakan pada ku, kenapa Asley bisa menjadi MANTAN calon suami mu dulu?"

Natha mengedikkan bahunya "Aku tidak tau. Waktu itu aku hanya mengetahuinya. Cessa yang begitu mengenalnya dan memujanya. Tiba-tiba dia datang untuk melamar dan di terima kedua orang tua ku begitu saja, lebih tepatnya karena hasutan Cessa. Pilihannya hanya dua waktu itu menerima atau mencari dalam waktu terbatas. Dalam waktu panjang saja, aku hanya bisa mencintai mu, bagaimana lagi dengan waktu singkat. Aku rasa dia hanya kasihan pada ku, karena pengasuh ku di bawa adiknya"

"Greta pengasuh mu?"

Natha mengangguk dan terkekeh mengingat ketika ia menjerit histeris ketika Greta pergi meninggalkannya dan memilih untuk menemani Adrey.

"Semenjak ia mengetahui Greta itu pengasuh ku dari mulut ember Cessa. Ia sering menghadiahi ku berbaga hal. Bahkan aku tidak merasa mengenalnya dengan baik. Apa lagi ketika tiba-tiba dia melamar ku, bersyukur aku tidak memiliki riwayat sakit jantung"

"Jangan menerima pemberiannya lagi" tegas Adrey dengan wajah serius.

"Sayang" Natha mengelus rahang pria itu yang mengeras "Dengar, dia itu kakak mu. Tidak ada salahnya. Lagi, aku rasa dia melamar ku hanya tanda terima kasihnya karena aku merelakan Greta untuk menjaga mu karena dia begitu menyayangi mu dan itu juga perbuatan Cessa yang selalu curhat padanya jika mama mengatakan di setiap ada kesempatan jika ia ingin segera menimang cucu. Aku selalu mengganggapnya seorang sosok kakak, makannya tiap kali dia memanggil lembut diri ku atau sedikit saja mesra, aku merasa ngeri dan merinding. Aneh saja"

Seperti ada beban berat yang di angkat dari pundak Adrey. Ia menghela napas lega dan menciumi wajah Natha. Jangan katakana Adrey tidak memiliki rasa bersalah kepada Asley ketika menikahi Natha, sebenarnya rasa bersalahnya begitu dalam dan ia takut menyakiti pria itu.

***

Maafkan diri ku yang labil ini.

Aku berubah pikiran jadi aku publish aja ini dan part terakhir.

Terima kasih Banyak-Banyak untuk kalian yang sudah membaca sampai sejauh ini.

Lope-lope...

William's Queen (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang