WQ-38

27.6K 1.1K 11
                                        


Wangi sedap masakan tercium begitu Natha dan Adrey keluar dari kamar, dua orang pelayan baru saja selesai menata makanan di atas meja. Setelah mereka berdua pamit, Adrey dan Natha langsung duduk menyantap makan siang mereka yang sudah lewat dari beberapa jam yang lalu.

Adrey memperhatikan Natha yang makan dengan lahap makanan yang ia pesan, sedang makanan yang Natha sendiri memesannya tidak ia sentuh sedikitpun.

Suara bel membuat Natha menghentikan makannya dan mengangkat kepala menatap Adrey, dengan mulut yang masih penuh. Adrey terkekeh, tangannya terulur untuk membersihkan ujung bibir Natha yang belepotan.

"biar aku saja yang membuka" sahut Adrey masih tersenyum dan beranjak dari duduknya.

Kedua pipi Natha yang masih menggembung, bersemu merah. Ia kembali menundukkan kepalanya.

'bodoh' bisiknya

Dua orang wanita berjalan bersisian kearahnya, yang satu melipat tangannya dan menatapnya tajam dan yang satunya tersenyum cerah.

"hello dear. Bagaimana kabar mu? Kemarin malam Jenny mengatakan jika kau sakit. Ku lihat pagi ini, kau makan lahap sekali" Anne tersenyum konyol dan menusuk-nusuk pipi Natha yang menggembung dengan jari telunjuknya.

Terdengar suara decakan kesal dari arah mereka datang tadi "jangan ganggu dia, dia masih makan. Jika kalian ingin berbicara nanti saja setelah istriku selesai makan"

Adrey menarik kursi sedekat mungkin di samping Natha, sebelah tangannya memeluk pinggang Natha posesif. Kepala Natha beralih dan menatap Adrey lalu ia tersenyum malu-malu dengan pipi yang memerah. Adrey ikut tersenyum dan mengelus pipinya pelan. Jenny dan Anne meringis melihat sepasang love bird itu.

"makanannya belum habis, mau aku suapi?" Natha mengangguk masih dengan gaya malu-malunya, membuat kedua manusia di hadapannya kembali meringis ngeri. Yang satu menggaruk kepala yang tidak gatal, yang satu mengedip-ngedipkan matanya. Sepertinya mereka salah masuk ruangan. Sepertinya tadi malam wajah Natha masih muram karena pria ini, tapi sekarang?!.

"Natha sepertinya kabar yang ku terima dari Jenny tadi malam, cukup membuat mu tidak bisa bangun dari tempat tidur untuk beristirahat hari ini" Anne menatap Natha penuh selidik, ia memperhatian wajah polos Natha, benar-benar polos seperti tidak mengerti apapun. Anne berani bersumpah baru kali ini ia melihat wajah Natha sebegitu tololnya, ups. Tapi benar jika ia selalu melihat wajah cerdas Natha, tidak seperti sekarang ini.

"kau mendoakan istri ku tidak bisa bangun hari ini begitu?"

"tidak bukan begitu!" sergah Anne tidak mau kalah "tadi malam Jenny menelpon ku karena khawatir meninggalkan Natha sendiri, tapi sepertinya dia baik-baik saja"

"teman macam apa yang meninggalkan temannya dalam keadaan sakit sendirian"

"hey, jaga mulut mu. Aku tidak meninggalkannya, aku hanya..." Jenny kehabisan kata. Memang benar ia meninggalkan Natha sendiri.

"benar bukan sayag, dia meninggalkan mu tadi malam?" suara Adrey terdengar begitu lembut, berbeda dengan suaranya ketika berbicara kepada Jenny dan Anne tadi. Natha hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Natha ada apa dengan mu? Kau terlihat begitu tolol. Ya tuhan, cukup satu aku memiliki teman yang terkadang lola, kau jangan lagi ku mohon" Jenny menangkupkan kedua tangannya dengan raut wajah frustasi.

"jangan berbicara begitu keras padanya, dia terkejut melihat mu begitu. Lagian siapa kau mengatai istriku" sinis Adrey.

Jenny berdecih sambil bertolak pinggang, biasanya ia berbicara lebih keras dari ini Natha tidak ada masalah.

William's Queen (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang