Malam itu merupakan malam yang cukup istimewa bagi Dhani. Baru pertama kali ini ada seorang cowok yang bermain ke rumahnya. Dan baru pertama kali ini ia berbicara dengan santainya bersama seorang cowok yang sangat asing menurutnya.
Percakapan malam itu mengalir begitu saja seperti air. Rama berhasil membuat Dhani melupakan semua masalahnya. Ia berhasil membuat tawa yang sebenarnya di wajah Dhani tanpa dibuat-buat. Dan ia berhasil membuat Dhani tertawa dengan ringannya.
Mungkin benar, Dhani adalah cewek asing yang datang di kehidupan Rama begitu saja. Cewek polos yang tidak mengerti apa-apa soal cinta dan cowok berandalan seperti Rama. Tapi entah mengapa, Dhani begitu menarik perhatian seorang Rama yang notabennya sangat acuh dengan para cewek. Entah mengapa, ia begitu tertarik dan ingin tahu soal Dhani lebih dalam lagi.
Hatinya seperti teriris saat mengingat wajah Dhani di malam itu, malam dimana ia dan Dhani mendengar semua pertengkaran itu. Dadanya terasa sesak melihat seorang cewek seperti Dhani bisa begitu tegarnya menghadapi masalah seperti itu. Ia sendiri tahu, dalam hatinya yang paling dalam Dhani menangis sekeras-kerasnya. Ingin sekali ia mendekap gadis itu dalam pelukannya agar ia bisa menumpahkan seluruh kesedihannya bersama Rama.
Kepolosan, ketegaran, serta kepura-puraan Dhani membuat Rama semakin simpatik terhadapnya. Ia ingin dekat dengannya melebihi apapun. Ia ingin menjadi orang pertama yang menghapus air matanya saat ia menangis. Ia ingin menjadi orang pertama yang menjadi tempat curahan hati pertama Dhani sebelum kedua sahabatnya itu. Entahlah, ia pun tak mengerti kenapa ia jadi segila ini terhadap Dhani.
***
Pukul 06.30, Dhani sudah sampai di sekolah. Ia merasa lega karena hari ini ia tidak terlambat. Segera, ia berjalan melewati koridor menuju kelasnya yang berada di pojok lantai tiga. Tapi entah mengapa, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Segera ia berbalik dan menoleh ke kanan dan kirinya, tapi hasilnya nihil. Tak ada siapa pun yang mencurigakan. Hanya ada beberapa siswa yang sibuk mengobrol di depan kelas atau sekedar bermain handphone-nya.
Sesampainya di depan kelas, ia merasa aneh dengan tingkah laku teman sekelasnya itu. Mereka sedang tersenyum-senyum sambil melirik ke arah Dhani. Dan bahkan ada beberapa teman cowoknya yang mengedipkan sebelah matanya seolah sedang mengejeknya. Eht tunggu, mengejek? Apa ada yang salah dengan penampilannya hari ini? Segera ia merapikan seragamnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Enggak usah salting gitu deh Dhan. Kasihan tuh cowok lo diacuhin mulu dari tadi." ejek Aldo dengan kekehannya.
"Hah cowok? Maksud lo apa sih? Enggak usah ngejek gua deh." kata Dhani mengerutkan keningnya bingung.
"Pura-pura enggak tahu atau pura-pura enggak lihat sih? Tuh di belakang lo ada cowok yang setia nungguin lo cuma buat nungguin senyum termanis lo." kata Anto dengan sewotnya sembari melirik ke arah belakang Dhani.
Dhani masih menangkap semua kata-kata Anto secara perlahan. Dan sebenarnya, sejak tadi ia juga merasa ada yang mengikutinya. Refleks, ia pun segera membalikkan badannya dan--
Bruuuuk
Entah sejak kapan ada dinding yang berdiri di tengah jalan seperti ini. Segera, ia mendongakkan kepalanya dan mendapati ada seseorang yang tak asing sedang tersenyum manis ke arahnya.
"Sakit?" tanyanya setengah berbisik.
"Ya sakitlah. Ngapain juga lo berdiri di belakang gua? Udah kayak penguntit aja tahu." jawabnya sambil mengelus jidatnya yang terasa sakit.
"Ya udah, sini gua obatin. Gua bukan jadi penguntit lo, tapi gua cuma mau nganterin lo sampai depan kelas lo aja." kata Rama sambil mengelus dan meniup jidat Dhani dengan lembutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Novela Juvenil"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
