Adit sedang melepaskan helm dari kepala mungil Dhani. Entah mengapa, tangannya terulur untuk melepas helm itu. Sedangkan Dhani? Ia hanya terdiam menyadari jarak wajahnya yang hanya berapa jengkal saja dengan wajah Adit. Lagi-lagi Adit membuat jantungnya seperti lari maraton saja. Dalam hati, ia mati-matian menahan rasa gugupnya di depan musuh bebuyutannya itu.
Dhani langsung terpelonjak kaget kala ada sebuah klakson mobil yang menggema di telinganya. Refleks, ia langsung membalikkan badannya melihat siapa pemilik mobil itu. Lutut Dhani terasa lemas kala ia mengenali siapa pemilik mobil itu. Dadanya mendadak sesak kala melihat ia keluar dengan seorang perempuan.
"Kamu darimana saja hah jam segini baru pulang?" tanya Sandi dengan wajahnya yang sudah memerah.
"Emang biasanya Dhani pulang jam segini." jawab Dhani dengan santainya.
"KAMU SEKARANG BERANI YA MENJAWAB PAPA." katanya menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Tadi kan papa tanya aku darimana, yah aku jawab donk." kata Dhani dengan santainya. Tak terlihat raut tegang ataupun takut sedikitpun. Ia sudah merasa biasa jika di interogasi seperti ini.
Plak
Dhani merasa sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental merah seketika. Pipinya sudah terasa memanas sekarang. Dan seketika, ia langsung menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah seketika.
"SEJAK KAPAN HAH KAMU JADI ANAK TIDAK SOPAN SEPERTI INI?" tanya Sandi dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan.
"Sejak papa lebih memilih perempuan nggak tahu diri itu dibanding keluarga papa sendiri." jawab Dhani dengan lantangnya. Ia tak peduli betapa susahnya ia harus menahan rasa sakit karena berbicara dengan sudut bibir yang terluka seperti itu. Pipinya terasa berdenyut kala ia mulai membuka mulutnya.
"DHANI! DIA ITU MAMA KAMU SEKARANG. PAPA NGGAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU UNTUK BERBUAT TIDAK SOPAN SEPERTI INI PADA ORANG TUA."
"Mama? Perempuan kayak dia nggak pantes di sebut mama pa. Papa masih aja nggak sadar ya. Emang ada seorang mama yang berani nyakitin hati perempuan lain termasuk putrinya sendiri. Ada nggak pa?"
Mendengar pertanyaan itu Sandi terdiam di tempatnya. Ia tak bisa menjawab pertanyaan putrinya itu sedikitpun. Entah kenapa ia kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu.
"Dan lo perempuan nggak tahu diri, emang lo nggak punya malu ya? Bisa-bisanya lo dateng kesini. Urat malu lo udah putus apa gimana sih? Nggak nyadar ya posisi lo dimana? Lo itu nggak pantes nyandang sebutan mama. Nyandang sebutan perempuan aja lo nggak ada pantes. Emang ada ya perempuan yang dengan sengaja nyakitin hati perempuan lain? Lo punya hati nggak sih?" tanya Dhani dengan sinisnya.
"Dhani, jaga bicara lo!" ucap Adit sembari menarik bahu Dhani.
"Lo siapa berani ngatur gua?" tanya Dhani dengan beraninya.
"Pantas aja Mas Sandi ninggalin keluarganya. Emang nggak pantes cewek kayak lo itu punya papa kayak Mas Sandi. Yang ada Mas Sandi itu malu punya anak kayak lo. Nggak ada sopan-sopannya ngomong sama papa sendiri. Lah ini, jam segini baru pulang dari sekolah sama cowok lagi. Apa itu masih nggak pantes di sebut cewek murahan? Harusnya gua yang tanya lo masih punya harga diri nggak? Masih kecil juga udah berani ngajak cowonya ke rumah, apalagi rumahnya sepi nggak ada orang tuanya. Dasar cewek murahan. Ternyata anak sama ibunya sifatnya nggak jauh beda ya." jawab Ina--ibu baru Dhani dengan santainya.
"Gua nggak salah denger? Lo ngomong apa barusan tadi? Cewek murahan? Cuma lo yang pantas nyandang sebutan itu buat cewek yang suka ngerusak keluarga orang. Emang lo masih nggak puas sama keluarga lo sendiri sampai-sampai lo harus ya hancurin keluarga orang. Harusnya lo itu ngaca sebelum lo ngatain mama gua. Mama gua nggak sehina lo yang bisanya ngerebut laki orang. Mama gua nggak setega itu nyakitin hati perempuan terutama gua yang notabennya adalah putri dia. Dan soal ngajak cowok Emang lo tahu gua mau ngapain sama si kutu kebo ini hah? DIA CUMA NGANTERIN GUA BALIK. Dan gua nggak ada niatan apa-apa sama dia. Nggak kayak lo, yang berani-beraninya ngelarang papa orang buat ngak pulang ke rumahnya. Apa itu masih disebut cewek hah? Nggak ada cewek yang sehina lo Ina. Nggak ada." kata Dhani menegaskan setiap katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Roman pour Adolescents"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
