Langit sudah mulai menghitam. Sinar matahari yang tadi teriknya bukan main, sekarang entah pergi kemana. Cuaca sore menjelang malam ini seketika berubah menjadi dingin, sedingin hati Dhani yang terasa membeku sejak tadi.
Dipeluknya erat kedua lututnya itu sembari menatap kendaraan yang masih lalu lalang dari balkonnya. Dinginnya cuaca sore ini tak sedikit pun membuat Dhani tersentuh untuk segera memasuki kamarnya yang terasa lebih hangat. Semuanya terasa sama saja bagi Dhani untuk sekarang ini. Entah cuaca, ataupun suasana hatinya.
Kepalanya terasa pusing kala semua kalimat yang tadi Ivan ucapkan terngiang-ngiang dalam kepalanya. Semuanya bak pemutaran film yang enggan pergi dari pikiran Dhani. Hatinya mendadak terasa sesak kala mengingat semua kata itu. Kata yang tak pernah ia duga. Kata yang jauh lebih terasa menyakitkan untuknya. Kata yang terasa jauh lebih menyayat hatinya dibanding kepergian Rama yang tak pernah diinginkannya. Dan kata, yang membuat Dhani sangat ingin bertemu Rama untuk saat ini.
“Kenapa nggak masuk? Bentar lagi hujan lho,” ucap Adit yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Dhani. Tangannya langsung terulur membalutkan jaket miliknya ke tubuh mungil Dhani kala melihatnya tengah meringkuk memeluk kedua lututnya sendiri.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Adit, Dhani langsung melepaskan kembali jaket yang sudah membalut tubuhnya dengan sempurna dan bergegas pergi meninggalkan Adit seorang diri.
“Kenapa? Emang ada yang salah?” tanya Adit mencekal lengan Dhani dengan cepatnya kala melihat cewek itu bangkit dari duduknya.
“Pikir aja sendiri.” jawab Dhani dengan ketusnya.
“Kalau ada masalah, seenggaknya bilang. Gua bukan dukun apalagi cenayang yang bisa baca pikiran lo hingga gua tahu apa yang udah buat lo marah ke gua,” ucap Adit sedikit terkekeh. Entahlah, disaat seperti ini, ia masih saja bercanda dikala mood Dhani sedang hancur-hancurnya.
“Ck, gua baru sadar kalau lo nggak akan bisa jadi Rama. Sampai kapan pun.” ucap Dhani sembari melepas tangan kekar Adit yang melingkar di lengannya dengan kasarnya.
Adit hanya menghembuskan napasnya pelan kala melihat Dhani yang langsung berlalu meninggalkannya begitu saja. Entahlah, dia sendiri juga merasa bingung apa yang tengah merasuki pikiran cewek itu hingga membuatnya semarah ini terhadap Adit. Yah, tak biasanya seorang Dhani semarah ini terhadap Adit. Walau Adit sendiri menyadari sikap Dhani yang tak begitu menyukainya bahkan cenderung cuek terhadapnya, tapi dia bisa membedakan dengan jelas mana Dhani yang sedang ceria dan mana Dhani yang sedang marah.
Diikutinya cewek itu hingga mereka sampai di ruang tamu yang sudah terlihat acak-acakan karena ulah keempat sahabatnya itu. Langkah Adit seketika terhenti kala menyadari jikalau Dhani sudah berbelok arah menuju ruang keluarga yang terlihat sepi dan jauh lebih menenangkan. Ditatapnya punggung cewek itu yang semakin menjauh dengan intensnya. Sedetik kemudian, dia langsung mengalihkan perhatiannya dan melanjutkan kembali langkahnya menghampiri keempat sahabatnya itu.
“Kenapa lagi? Berantem?” tanya Delon dengan mulut yang sudah penuh diisi kacang polong.
Adit hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Delon sedikit pun. Diambilnya handphone kesayangannya itu yang tergeletak manis di atas meja untuk mengalihkan kegaulaunnya itu. Tapi belum sempat ia membuka sandi handphonenya, Delon sudah menyambarnya dan meletakkannya kembali ke atas meja.
“Kalau ada orang nanya itu dijawab, sensi amat sih lo jadi cowok.” sindir Delon dengan kekehannya.
“Heh, kalau ngomong ngaca dulu kaleee Lon, lo juga kadang sensian kalee,” sindir Rana menyahuti.
“Kok gua sih? Mana ada gua sensian. Lo aja kaleee Ran.” tolak Delon memutar bola matanya jengah.
“Ck, kalau cewek sensi itu mah wajar, kalau cowok sensi itu baru nggak wajar.” ucap Rana mengibaskan rambutnya yang menghalangi pemandangannya itu dan tanpa sadar mengenai Delon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Novela Juvenil"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
