“Nghhhhhh,” Dhani mulai mengerjapkan matanya kala sinar matahari mulai menerangi kamarnya lewat celah jendela yang ada disana. Dhani merasa kepalanya sangat sakit dan--berat. Diliriknya ‘seseorang’ yang ada disampingnya itu melalui ekor matanya. Ternyata dia masih tidur, dan ternyata mereka tidur dalam kondisi seperti ini ‘lagi’.
Beberapa detik kemudian, Adit tampak sudah membuka matanya. Kala terbangun, senyum indah langsung menghiasi wajahnya itu saat didapatinya Dhani sudah bangun dari tidur lelapnya.
“Pagi,” sapa cowok itu dengan senyuman indah yang terus terbit di wajah tampannya.
Dhani hanya memutar bola matanya dengan malas. Ternyata cowok yang menjadi musuh bebuyutannya ini tetap saja berlaku seperti ini terhadapnya. Segera disingkirkannya kepala cowok yang tengah bersandar diatas kepalanya itu dengan kasarnya.
“Pagi kutu kebo,"sapa Dhani dengan nada juteknya.
Adit hanya terkekeh kala melihat sikap Dhani yang seberanya telah muncul kembali. Jujur, ia merindukan sosok Dhani yang selalu berusaha mengacuhkannya seperti ini. Beberapa hari tak berinteraksi dengan dirinya sungguh membuat Adit gelisah tidak karuan, apalagi setelah menyadari jikalau Dhani mulai menjauh dari dirinya.
“Ternyata lo masih bisa jutek juga ya kalau lagi sakit,” ucap Adit tersenyum simpul.
“Bisa lah, kepala gua tambah sakit gara-gara kepala lo nyendar diatas kepala gua.” ucap Dhani dengan jengkelnya.
“Lah, kepala lo nyandar dibahu gua aja gua nggak comment kenapa sekarang lo jadi banyak comment gini sih cewek jutek.” ucap Adit mengerutkan keningnya.
“Ish, lo jadi cowok nggak peka banget sih kutu, wajar donk kalau cewek nyender dibahu cowok. Nah lo kan tahu gua lagi nggak fit dan kepala gua tuh lagi peningnya minta ampun, tapi nyatanya kepala lo malah nyender diatas kepala gua, ya jadi tambah sakit lah kutu, secara kepala lo kan berisi.” jelas Dhani dengan wajah cemberutnya.
Adit hanya menyunggingkan senyum tipisnya kala melihat ekspresi cemberut Dhani yang tak biasa itu. Suasana seperti inilah yang membuatnya semakin sadar jika kesalahan yang sengaja ia buat itu begitu besar efeknya bagi seorang Dhani. Sekuat-kuatnya seorang perempuan, ia juga pasti bisa merasakan kecewa dan sakit hati bukan?
“Kemarin sih bilangnya bukan cewek lemah ya? Tapi kok sekarang beda gini sih? Minta dipekain nih sekarang?” tanya Adit mengedipkan sebelah matanya.
Dhani bergidik melihat wajah Adit yang terasa mengejek baginya itu. Apalagi kedipan mata yang tak biasa itu membuatnya berbeda saja diperlakukan berbeda dari biasanya ini. Sebenarnya dia habis makan apa sih semalam, kenapa jadi gini?
“Telat pekok, harusnya tuh--“
“Ckckckck, masih pagi gini tenyata kita udah dapet tontonan gratis aja.” ucap Dino tiba-tiba dengan senyum mengejeknya.
Dhani dan Adit terbelalak kaget kala melihat ke arah sumber suara, dimana keempat sahabatnya itu tengah berdiri dengan senyuman mengejek mereka masing-masing. Dhani hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar kala mengetahui bencana lain akan segera menghampirinya setelah ini.
“Ngapain lo pada?” tanya Dhani dengan ketusnya.
“Ck, nggak terima nich Dhani kita gangguin guys. Pulang aja yuk,” jawab Delon menarik sudut bibirnya dengan lebarnya.
“Yah--nanti donk, lagi seru nich. Nanggung guys nanggung. Penasaran gua adegan selanjutnya itu apa. Siapa tahu ada--” Belum sempat Rana melanjutkan kalimatnya, sebuah bantal guling sudah melayang tepat ke arah wajahnya hingga membuatnya mendesis dengan kasarnya. Sedangkan yang melempar hanya cengengesan sembari mengangkat tangannya membentuk huruf V.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Roman pour Adolescents"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
