Jalanan terlihat ramai karena hari sudah semakin sore, kebetulan juga ini saatnya orang-orang kantor pulang ke rumahnya. Dhani sesekali menyelipkan rambutnya yang menghalangi penglihatannya ke belakang telinganya karena ia tidak memakai helm. Rama yang melihat Dhani sesekali mengerucutkan bibirnya karena rambutnya itu merasa gemas dari balik spionnya.
Dhani memandangi jalanan dengan tatapan kosong. Terlebih Rama tidak mengajaknya mengobrol sama sekali. Ia mulai merasa bosan. Tiba-tiba, ada sesuatu yang langsung menarik perhatian Dhani. Ia seperti mengenal orang itu. Ia mulai menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang ada disana. Setelah berfikir agak lama, Dhani mulai menyadari siapa orang itu. Refleks, Dhani langsung memukul-mukul punggung Rama agar ia menghentikan motornya.
"Aduh sayang, kamu kenapa sih? Tiba-tiba nyuruh berhenti aja." kata Rama sambil melepaskan helmnya.
Dhani tak menyahuti pertanyaan Rama sedikit pun. Ia langsung menghampiri orang itu tanpa memperdulikan tatapan aneh dari Rama sedikit pun.
"Oh, jadi ini perempuan nggak tahu diri itu." kata Dhani to the point.
"Dh--Dhani, kenapa kamu disini?"
"Papa nggak perlu tahu kenapa aku bisa disini. Harusnya aku yang tanya kenapa papa sama perempuan nggak tahu diri ini."
"Mas, cewek ini siapa?" tanya perempuan yang ada di sebelah papanya Dhani, Ina.
"Di--dia putriku." jawab Sandi gugup.
"Kenapa? Lo baru nyadar ya lo udah hancurin keluarga gua? Lo itu pura-pura bego atau emang lo nggak ngerti sih. Gua tahu, lo itu temen mama kan? Nggak usah pura-pura nggak kenal dech. Kebohongan lo itu udah ketahuan tahu nggak. Harusnya lo itu malu, udah gangguin keluarga gua padahal lo sendiri juga punya keluarga. Lo nggak mikir ya gimana perasaan putri lo yang masih kecil itu kalau tahu kelakuan mamanya yang nggak tahu diri. Eht, kayaknya lo nggak punya harga diri dech ya."
Plaaaak
"DHANI, JAGA BICARA KAMU. DIA ITU LEBIH TUA DARI KAMU. KAMU HARUS SOPAN SAMA DIA."
"Ohhh jadi sekarang papa lebih belain perempuan nggak tahu diri ini dibanding putri papa sendiri. Waw, aku nggak nyangka papa tega ngelakuin ini sama aku. Dan denger ya lo perempuan nggak tahu diri, kalau lo itu emang bener orang tua harusnya lo itu sadar diri. Orang tua itu harusnya bisa jadi contoh yang baik buat anak-anaknya. Dan kelakuan lo, sama sekali nggak guna buat dicontoh. Lo tahu kenapa? Lo itu nggak pantes disebut orang tua. Apalagi disebut sebagai perempuan? Nggak pantes sama sekali. Lo aja berani nyakitin hati perempuan lain, juga putri lo sendiri, lantas apa pantasnya lo disebut perempuan. Gua tahu gua udah nggak sopan sama lo. Tapi kelakuan lo yang menjijikan gini yang ngajarin gua buat nggak sopan sama lo."
"DHANI CUKUP!"
"Kenapa pa? Papa mau nampar Dhani aku? Ayo tampar pa. Tampar aja sesuka papa sampai papa puas. Tamparan ini itu nggak sebanding sama sakitnya hati aku sama mama yang udah papa sakitin sejak beberapa tahun yang lalu. Aku minta maaf karena aku udah bicara kasar sama papa. Papa sendiri yang ngajarin aku buat jadi gini. Harusnya papa itu sadar, mama itu lagi nungguin papa di rumah. Tapi nyatanya? Papa malah lagi asik sama perempuan ini. Apa ini bukti cinta papa sama mama? Nggak etis pa. Papa segitu mudahnya tergoda sama perempuan model kayak gini setelah bertahun-tahun papa sama mama. Harusnya papa itu sadar kelakuan papa itu nggak bener. Papa egois. Papa bahkan nggak pernah mikirin gimana perasaan aku sama sekali. Apa ini bukti sayangnya papa sama aku?"
"Dhani cukup. Dengerin apa kata papa ok."
"Dengerin apa lagi pa? Papa mau bilang kalau papa udah nggak nyaman lagi sama mama kan? Harusnya aku yang tanya papa, kenapa papa biarin perempuan ini dateng untuk ngusik keluarga kita. Harusnya papa tanya kenapa perempuan ini ganggu kenyamanan papa sama mama. Papa juga kenapa nggak sadar sih kalau dia juga udah punya suami? Kenapa sih papa jadi kayak gini? Dhani aja sekarang kayak nggak kenal sama lelaki yang ada di depan Dhani sekarang. Papa itu udah berubah. Papa udah seperti orang asing bagi Dhani. Papa egois. Papa jahat. Dan papa itu tega banget udah ngelakuin ini sama Dhani juga sama mama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Roman pour Adolescents"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
