Dhani melangkahkan kakinya menuju kelas dengan langkah yang gedebag gedebug. Ia sungguh merasa kesal dengan cowok satu itu. Kenapa ia bisa sesantai itu seolah merasa tidak bersalah sama sekali? Dasar cowok nyebelin. Harusnya kan dia minta maaf, atau ngapain kek. Cowok yang tidak tanggung jawab.
Karena kesalnya, Dhani sampai tak memperhatikan jalan yang ada di depannya. Tanpa sengaja, ia menabrak Rana dengan kerasnya hingga ia tersungkur di lantai.
"WOYYY NYET, KALAU JALAN LIHAT-LIHAT DONK, SAKIT NIH PANTAT GUA," teriak Rana sembari bangkit dari duduknya.
"Sorry Ran, gua nggak lihat," kata Dhani menampilkan sederet gigi putihnya, seolah berkata maaf dech Ran.
"Nggak lihat? Orang segede gini lo nggak lihat Dhan? Mata lo rabun atau gimana sih?" tanya Rana dengan emosi yang sudah memuncak.
"Ya ya, gua minta maaf dech. Nggak usah lebay gitu dech Ran. Gua lagi kesel nih, jangan bikin gua tambah emosi elah," jawab Dhani sambil melangkahkan kakinya menuju bangkunya.
"Harusnya gua yang kesel sama lo, kenapa jadi lo yang emosi sih?" tanya Rana heran.
"Heh toa, bisa diem nggak sih lo. Telinga gua serasa mau pecah nih denger celotehan lo yang nggak jelas itu," kata Anton sembari mengusap telinganya.
"Diem lo kampret. Nggak usah ikut-ikutan dech. Gua lagi ngomong sama Dhani, bukan sama lo,"
"Ya elah Rana, kayak nggak tahu Anton aja sih lo. Emangnya kenapa sih? Dhani habis bocorin ke anak-anak kalau lo tembus?" tanya Aldo dengan nada meledeknya.
"ALDOOOOOOOOOOO, DIEM DECH LO," teriak Rana dengan marahnya.
"Sorry dech sorry," kata Aldo tersenyum miring.
"Heh onyet, kenapa sih lo kesel gitu? Harusnya kan gua yang kesel sama lo," tanya Rana mengulang.
"Gimana nggak kesel coba. Adit udah nyiram gua pakai kuah bakso sampai dihukum gini tapi dia malah nggak ada rasa bersalah sedikit pun. Dia justru ngolok gua habis-habisan,"
"Hah? Yang bener lo Dhan? Lo habis ketemu sama si Adit?" tanya Rahma tidak percaya.
"Nggak sama Adit aja, tapi sama Delon juga si Dino,"
"Ahahahahahah ternyata Dhani yang dulu udah balik lagi woyyy. Barusan di kantin lo marahin Adit habis-habisan sampai lo nyuruh dia buat jauhin lo. Dan sekarang, lo kesel karena dia ngeledekin lo. Apa itu artinya sekarang ada yang beda ya? Kayaknya sih, ada yang udah berhasil move on nich guys," ledek Rana dengan tawa khasnya.
"Anjay, kenapa lo jadi ngeledekin gua juga sih?" tanya Dhani mengerucutkan bibirnya.
"Gua bukannya ngeledek sayang, tapi itu kenyataan. Lo sekarang udah mulai nerima Adit di hidup lo," jawab Rana meyakinkan.
"Ini berarti lo udah berhasil ngelewatin masa-masa sedih lo. Secara nggak nyata, lo udah mulai buka hati lo buat orang lain Dhani. Rama emang nggak pernah salah," tambah Rahma sembari menggenggam tangan Dhani dengan eratnya.
"Kenapa lo jadi bawa-bawa Rama sih?" tanya Dhani dengan raut wajahnya yang berubah muram seketika.
"Buat ngingetin, kalau lo itu nggak mungkin bisa benci sama Adit. Sekesel-keselnya lo sama dia, dia tetep nggak ada bedanya sama Rama. Cowok yang udah berhasil buat seorang Lutfia Dhani Fadlika jatuh cinta sampai segila ini. Lo nggak mungkin bisa bohongin hati lo Dhan," jawab Rahma menyemangati.
"Lagi pula, lo itu harus bangkit Dhan, nggak selamanya lo harus sedih berlarut-larut begini. Kalau di depan sana udah ada cowok yang siap ngelindungin lo sebagai penggantinya Rama, kenapa harus lo sia-siain?" tambah Putri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Teen Fiction"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
