Anggota OSIS yang kelelahan mulai berbondong-bondong keluar dari Ruang OSIS dan bergegas pulang ke rumahnya. Tapi tak sedikit pun Rama melihat sosok Dhani di antara kerumunan tersebut. Segera ia bangkit dari duduknya dan hendak melangkahkan kakinya ke Ruang OSIS. Tapi langkahnya seketika terhenti kala seorang cowok bertubuh jangkung mulai menghampirinya.
"Dhani mana?" tanya Rama to the point.
"Dhani lagi tidur. Ngapain juga lo di sini?"
"Kenapa lo biarin Dhani tidur satu ruangan sama cowok-cowok sok senior itu sih? Lo enggak mikir apa kalau Dhani bakal diapa-apain sama mereka?"
"Lo enggak sopan banget ya jadi anak. Denger ya, Dhani itu udah seperti adik gua sendiri, juga keluarga bagi semua anggota OSIS yang ada di sini. Dia bakal selalu aman di deket kita. Kita enggak mungkin berani ngapa-ngapain keluarga kita sendiri. Harusnya gua yang khawatir sama lo, bisa aja kan lo ngapa-ngapain Dhani. Dasar cowok berandalan."
"Buat apa gua sopan sama cowok sok kayak lo? Tadi lo bilang apa? Cowok berandalan? Seberandalannya gua, gua enggak bakal tega nyakitin Dhani. Enggak kayak lo pada yang pura-pura suci di depan Dhani. Katanya keluarga, tapi kalian enggak pernah tahu Dhani itu sekarang lagi rapuh banget. Keluarga macem apa lo?"
"Lo bilang gua sok suci? Munafik lo. Seenggaknya kita itu enggak bikin Dhani malu setelah gabung sama kita. Enggak kayak lo. Dhani itu malu deket sama cowok berandalan, suka ngerokok, enggak tahu aturan kayak lo. Lo itu enggak pantes buat Dhani."
"Pantas enggaknya itu terserah Dhani. Dia yang nentuin, bukan lo. Dia berhak cari kebahagiaannya sendiri."
"Dhani emang pantes cari kebahagiaannya sendiri, tapi bukan sama lo juga. Dhani pantes dapat yang lebih baik dari lo. Dan sampai kapan pun, lo itu enggak bakal pantes buat Dhani."
Rama terdiam mendengar semua perkataan itu. Semuanya terasa begitu menyakitkan. Tapi semua itu juga tak bisa dielak kebenarannya. Ia menyadari siapa dirinya sekarang. Ia menyadari jikalau dirinya jauh dari kata pantas untuk seorang Dhani. Dan dia sadar, apa posisinya di mata Dhani.
***
Jalanan terlihat sangat sepi. Sinar bulan begitu terang menerangi jalanan. Dan suara hewan ikut terdengar meramaikan jalanan yang terlihat sepi ini. Sedangkan Rama dan Dhani? Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Ram." panggil Dhani ragu.
"Hmmm." jawabnya dengan malas.
"Kenapa tadi siang lo berantem?" tanya Dhani penasaran.
Rama hanya terdiam mendengar pertanyaan Dhani. Ia masih saja sibuk dengan semangkuk baksonya.
"RAMA DANIL HENDRY SAPUTRA." panggil Dhani sedikit berteriak.
"Eht apa?" tanyanya dengan kaget.
"Ish resek banget deh lo. Gua lagi tanya juga dicuekin." jawab Dhani dengan ketusnya.
"Kenapa? Lo malu jalan sama cowok berandalan kek gua?" tanya Rama tiba-tiba.
"Heh? Lo ngomong apa si? Emang salah gua tanya sebab lo berantem tadi siang?" tanya Dhani dengan muka cengonya.
"Itu semua karena lo!" jawab Rama sedikit berteriak.
"Gua? Kenapa jadi gua? Emang gua salah apa sama lo?" tanya Dhani tidak percaya.
"Udah enggak perlu dibahas, enggak penting. Ayo pulang." jawabnya sambil berlalu meninggalkan Dhani yang masih terdiam di tempat duduknya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Teen Fiction"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
