Chapter 18 - Mimpi Yang Lebih Buruk

266 15 4
                                        

Seharian ini, Rama tidak ada kabar sama sekali. Sudah berkali-kali ia mengirimi Rama pesan, tapi tak ada satu pun pesan yang ia jawab. Ia juga sudah menghubungi Rama berkali-kali, tapi tak ada jawaban sekali pun. Sebenarnya, kemana ia pergi? Kenapa ia sampai lupa tidak mengabari sama sekali? Dasar cowok aneh, kenapa dia senang sekali membuat Dhani khawatir?

Dhani tak bisa berkonsentrasi belajar sama sekali. Ia tetap memikirkan bagaimana keadaan Rama sekarang. Kenapa ia jadi khawatir seperti ini? Entahlah. Ia juga masih tak mengerti. Dipandanginya cincin pemberian Rama. Indah, dan sangat manis.

Rama, lo kemana sih? Gua kangen sama lo. Seharian ini lo ngilang nggak ada kabar. Kemana sih lo? Lagi ngumpet? Atau, lo lagi usaha ngejauhin gua kayak dulu? Gua bingung dech sama lo. Kadang lo kayak bayangan yang ngintilin gua kemana pun gua pergi. Tapi terkadang lo itu seperti ilusi yang gua ciptain sendiri. Kenapa sih jatuh cinta sama lo sesulit ini? Apa mungkin gua yang udah maksain kebahagiaan gua sendiri? Apa salah gua terlalu berharap sama lo setelah ketemu lo? Apa salah kalau gua udah beneran cinta dan sayang sama lo? Argh Rama, lama-lama lo bikin gua gila tahu. Cepet gih samperin gua. Gua kesepian disini sendirian bego. Lo nggak kangen apa sama gua? Ihhh dasar pacar nyebelin. Katanya sayang, tapi mana sayang lo? Kabur aja nggak kasih tahu ke gua. Pesan atau telepon gua aja nggak ada yang lo bales. Lo kemana sih Rama? Gua kangen.

Dhani terus saja bergumam pada cincin pemberian Rama seolah ia akan menjawab semua keluh kesah Dhani. Rama bilang, melihat cincin itu akan mengobati rindunya. Tapi nyatanya? Tidak sama sekali.

***

Dhani merasa ada yang berbeda sekarang. Sejak kemarin, Rama menghilang tanpa kabar. Sebenarnya kemana sih tuh orang? Ngilang tanpa bilang-bilang, dan pergi tanpa pamit sekali pun. Dasar ngeselin.

Terlebih, tak ada satupun sahabatnya yang tahu keberadaan Rama sekarang. Pesan atau teleponnya juga tidak berarti untuk saat ini. Entah sudah berapa kali pesan dan telepon ia kirimkan pada Rama, tapi tak ada satu pun yang ia balas. Tak hanya itu, ia juga tidak masuk tanpa keterangan. Lalu kepada siapa ia harus bertanya sekarang? Ihhh Rama, lo kemana sih? Gua bisa gila kalau gini.

"HEY! Ngelamun aja." kata Aldo sembari menapuk bahu Dhani.

"Ah nggak kok Do." jawabnya berbohong.

"Ileeeeh ngaku aja kalee. Gua tahu lo lagi mikirin Rama kan?" tebaknya.

"Heheheh, nggak salah juga sih." jawabnya cengengesan.

"Hahahah, gua paham kok. Rana sama Rahma kemana tuh orang? Tumben banget nggak kelihatan batang hidungnya." tanyanya sambil celingukan.

"Lagi pada ke koperasi. Katanya mau beli penggaris." jawabnya singkat.

"Penggaris aja nggak punya. Niat sekolah nggak sih tuh dua sahabat lo?" tanya Aldo tersenyum miring.

"Heh, kaya lo punya aja. Palingan juga lo pinjem."

"Hehehe, tahu aja lo Dhan." jawabnya cengengsan.

"Heleh, gua juga udah tahu kalee Do. Emangnya cowok dikelas ini ada yang mau modal ya, maunya aja pinjem terus. Dasar nggak modal lo para cowok."

"Heh, kok jadi jelekin cowok-cowok sih." katanya dengan tatapan yang sedikit berbeda.

"Kenapa? Emang gitu kenyataannya kan?"

"Apaan sih lo Dhan? Walau tampang gratisan gini kan kita tetep laki girl, daripada lo cewek-cewek yang murahan banget kalau digoda dikit sama cowok ganteng."

"Heh, lo lagi curhat Do? Lo diselingkuhin sama siapa sih. Pasti lebih ganteng ya dari lo? Hahahaha, ngaku aja dech."

"Kok lo malah jadi ngeledek sih?"

Ramadhani (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang