Chapter 16 - Mimpi Buruk

334 13 4
                                        

Dhani sudah duduk di depan lab sejak beberapa menit yang lalu. Entah kemana Rama dan kedua sahabatnya itu. Padahal hanya mengambil tas saja, tapi sampai selama itu. Dasar lemot. Gumamnya dalam hati.

Tak biasanya Rama pulang selama ini. Biasanya ia paling antusias kalau berhubungan dengan jadwalnya pulang. Tapi kemana dia sekarang? Dasar cowok, ditungguin juga lama banget. Entah sedang apa dia disana sampai lupa dengan pacarnya sendiri. Nggak tahu apa kalau disini panas banget?

"Neng, sendirian aja. Boleh nggak abang temenin?" tanya Rama tersenyum geli.

"Neng neng, emang gua penjual ketoprak apa? Kemana aja sih lo ditungguin dari tadi juga nggak ngongol-nongol. Lo juga, ambil tas aja lama banget. Emang ambilnya dimana sih? Di Afrika?" tanya Dhani dengan muka yang sudah memerah.

"Ya elah Dhan, sante napha. Kita tadi ada urusan sebentar." jawab Rahma dengan nada yang lembut.

"Urusan apan sih? Segitunya sampai lupa sama sahabat sendiri." tanya Dhani menyelidik.

"Hehe, ada lah Dhan." jawab Rahma dengan cengengesan.

"Ya elah nyet, nggak usah ngambek gitu dech. Cantiknya nanti ilang lho." bujuk Rama.

"Bodo amat. Udahlah, gua mau pulang." kata Dhani sambil berlalu meninggalkan pacar dan sahabatnya itu.

"Eht eht, mau kemana?" tanya Rama sambil mencekal lengan Dhani.

"Lo nggak denger, gua mau pulang Rama." jawab Dhani dengan suara yang lirih.

"Gua anterin ya?" tawarnya.

"Nggak usah, gua bisa pulang sendiri." jawabnya singkat.

"Yah kok gitu sih, tadi kan udah nungguin gua lama masa pulang sendiri sih. Gua anterin ya ya?" tawarnya lagi.

"Nggak usah." jawabnya singkat.

"Yah, jadi ditolak nih. Ya udah gua nggak maksa dech. Padahal tadi niatnya mau ngajakin jalan, tapi kamunya nggak mau. Ya udah dech, gua ketemu penjual ketoprak langganan gua aja." kata Rama tersenyum sinis.

"Ohhh, jadi udah diniatin nih mau ketemu penjual ketoprak itu? Ya udah sana pergi sekarang, ngapain masih disini." kata Dhani dengan air muka yang sedikit jengkel.

"Hmmmm iyha juga ya. Keburu pulang dech nanti si nengnya. Gua duluan ya sayang. Hati-hati dijalan." kata Rama sambil melambaikan tangan meninggalkan Dhani yang sudah cemberut sejak tadi.

"Dasar bego." cibir Dhani sembari mengerucutkan bibir.

"Ahahahahahaha." tawa semua sahabatnya terdengar sampai di telinga Dhani.

Mendengar tawa itu, amarah Dhani semakin meninggi. Bisa-bisanya ya mereka tertawa disaat Dhani sedang kesal-kesalnya. Dasar sahabat yang patut.

"Hahahahah Dhani Dhani, lucu banget dech muka lo. Nggak usah gengsi gitu napha, gua tahu kok lo cemburu Rama bilang gitu." kata Delon dengan tawanya yang masih tersisa.

"Hahahahah, lucu banget ya " kata Dhani dengan senyum palsunya.

"Ya elah Dhan, udah jujur aja kalee keburu Ramanya udah jauh tuh." kata Rana dengan senyum mengejeknya.

"Bodo amat. Tau ahhh, lo semua sama aja." katanya sambil berlalu meninggalkan mereka semua yang masih tertawa dengan lepasnya.

Dhani berjalan dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke jalan menuju halte depan sekolahnya. Sesekali ia mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal dengan semua sahabatnya apalagi pacarnya itu. Padahal ia berharap Rama akan membujuknya habis-habisan sampai dia mau pulang bersama Rama. Tapi nyatanya? Hilang sudah harapan Dhani. Dan ternyata, cowoknya itu tidak peka sama sekali.

Ramadhani (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang