Chapter 30 - Insiden Malam

246 11 3
                                        

Langit terlihat mendung di malam dingin seperti ini. Dan beberapa detik kemudian, hujan mengguyur kota dengan derasnya. Dhani tak sedikitpun menghentikan langkahnya di tengah hujan deras seperti ini. Tak dihiraukannya tatapan aneh yang memandanginya karena berjalan sambil menangis seperti ini. Walaupun hujan, bisa terlihat dengan jelas ia sesenggukan karena menangis.
Entah kemana ia akan melangkah. Ia terus melangkahkan kakinya di sepanjang trotoar. Entahlah. Pikirannya sedang kacau. Ia masih belum bisa berfikir dengan logis. Pikirannya masih bertahta pada percakapannya beberapa menit yang lalu dengan mamanya itu. Menikah. Ternyata itu pilihan kedua orang tuanya. Dan ternyata, tak ada satupun yang berhasil memahaminya untuk sekarang. Seharusnya mereka sadar bahwa dalam hal ini Dhanilah yang amat terluka. Ia yang amat tersakiti dalam hal ini. Tapi kenapa mereka masih tak mengerti dan lebih mementingkan kebahagiaan mereka masing-masing?

Bruuuuuk

Karena tidak memperhatikan jalan, Dhani tak sedikitpun berfikir akan kemana ia melangkah. Lengan dan lututnya sudah terasa sakit. Entah apa yang baru saja di tabraknya tadi. Tapi yang jelas, ia bukan menabrak orang.

“Heh, kalau jalan lihat-lihat donk. Mau mati lo hah?” Teriak orang itu dengan kerasnya.

Dhani tak sedikitpun menjawab teriakan itu. Pikirannya masih melayang pada kejadian di cafe tadi. Entah kenapa semua itu masih bertahta dengan manis di pikirannya. Ia bahkan tak menghiraukan sedikitpun rasa sakit yang sedari tadi di tahannya.

“Heh, ditanya malah diem lagi.” kata orang itu sambil berjongkok menatap Dhani sekilas.

“Anjir. Kenapa lo diem aja sih. Ini lutut sama lengan lo luka elah.” kata orang itu sembari membantu Dhani untuk berdiri.

“Gua nggak papa.” kata Dhani lirih dan masih menundukkan kepalanya tak berniat sedikitpun menatap orang yang baru saja di tabraknya tadi.

“Nggak papa gimana? Itu sampai lecet gitu elah. Udah ayo gua anterin ke rumah sakit.” katanya sembari menggenggam tangan mungil Dhani dengan lembutnya. Entah kenapa, hatinya terasa sesak mendapat genggaman seperti itu.

“Nggak perlu. Gua bisa obatin sendiri.” kata Dhani sedikit bergetar. Ia juga masih sesenggukan karena sedari tadi ia menangis.

Mendengar suara yang bergetar dan sesenggukan karena tangis, cowok itu langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap cewek yang baru saja menabrakkan dirinya itu. Ditatapnya cewek itu dengan intens. Mata dan hidungnya terlihat merah. Ia pasti baru saja menangis. Dan, tubuhnya basah kuyup karena kehujanan. Astaga, kenapa dia tidak menyadarinya sejak tadi? Segera ditariknya cewek itu menuju halte terdekat yang ada disana.

Untung saja halte itu sedang sepi, jadi Dhani ataupun cowok itu tak perlu mendapat tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Segera di lepasnya jaket yang menempel di tubuh tegapnya itu. Setelah benar-benar terlepas, ia langsung memakaikannya di tubuh mungil Dhani. Dhani langsung tersentak kala sesuatu membalut tubuhnya. Segera diliriknya cowok yang sedang duduk manis di sampingnya itu.

“Lo ngapain?” tanya Dhani mengerutkan keningnya.

“Harusnya gua yang tanya lo kenapa. Nangis sambil hujan-hujanan terus sampai nabrakin diri lo sendiri. Mau mati lo huh?” tanya cowok itu dengan sinisnya.

“Emang harus ya gua jawab pertanyaan nggak penting lo itu.” jawab Dhani tak kalah sinisnya.

“Dasar cewek. Ditanya bener-bener juga.” ucap cowok itu sedikit berbisik. Tapi jarak dirinya dan Dhani yang sedikit dekat itu membuat Dhani bisa mendengar kalimat itu dengan jelasnya.

Setelahnya, Dhani langsung beranjak dari duduknya dan melepas jaket itu dengan kasarnya dan langsung melemparnya ke arah cowok itu duduk.
“Gua nggak butuh perhatian dari lo.” ucap Dhani dengan ketusnya tanpa melirik lelaki itu sedikitpun. Belum sempat ia melangkahkan kakinya, lengannya sudah di cekal oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan cowok itu?

Ramadhani (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang