Chapter 27 - Tragedi Semalam

274 12 0
                                        

“Heh nyet lo kemana aja sih, kita cariin juga ” kata Rana dengan suaranya yang seperti toa.

“Lo nggak bisa biarin gua duduk dulu apa? Baru nyampe juga udah disemprot pertanyaan nggak guna gitu.” kata Dhani dengan ketusnya.

“Nggak guna lo bilang ? Kita cariin lo kemana-mana karena kita khawatir bego.” kata Rahma tidak terima.

“Ya dech ya sorry, gua nggak kemana mana kok.”

“Lah terus lo seharian dimana? Ngurung diri di kamar?”

“Ng--nggak.”

“Terus kemana coba? Gua chat, telepon juga nggak dijawab sama sekali.”

“Nah itu, gua lupa naroh handphone gua dimana.”

“Apa? Lo kok pikun banget sih.”

“Ya gua masih muda elah. Nggak usah ngledek gitu dech.”

“Nih handphone lo.” kata Adit sembari menyodorkan handphone Dhani.

“Kok bisa di lo sih?” tanya Dhani heran.

“Ketinggalan di ka--” Belum sempat Adit menjawab pertanyaan Dhani, Dhani langsung bangkit dari duduknya dan membekap mulut Adit.

“Hmmmm, sekarang gua ingat dimana gua lupa naroh handphone gua. Thanks ya.” kata Dhani tersenyum manis, tangannya masih setia membekap mulut Adit. Dan tentu saja, jarak wajahnya dengan wajah Adit hanya beberapa jengkal saja. Melihat kelakuan Dhani yang begitu tiba-tiba dan mengejutkan, terlebih sampai membekap mulut cowok yang paling dibencinya itu, penghuni kantin langsung menatapnya aneh. Tak hanya aneh, ada yang menatap senang, benci dan entahlah.

Melihat wajah Dhani yang sangat dekat dengan wajahnya, Adit merasa sedikit gugup. Entah mengapa sejak kemarin ia merasa ada yang aneh pada Dhani. Tiba-tiba dia yang menyender di bahunya, dan sekarang membekap mulutnya. Entah mengapa, ia merasa perjuangannya selama ini sedikit membuahkan hasil.

“Gua tahu gua ganteng, nggak perlu deket-deket gitu.” kata Adit tersenyum jahil.

“Ih najis lo.” kata Dhani merasa jijik.

“Nggak usah gengsian gitu dech Dhan, kemarin aja berduaan mulu masa sekarang berantem lagi sih.” kata Aji mengedipkan sebelah matanya.

“Heh sejak kapan lo jadi deket sama si Adit nyet? Kok gua nggak tahu sih.” kata Rahma mengerucutkan bibirnya karena kesal.

“Sejak kemarin pagi, waktu mereka--” Tanpa menunggu diperintah, Dhani langsung memotong ucapan Aji dengan cepatnya.

“Diem lo kampret. Nggak usah nyebarin gosip nggak bermakna dech.” kata Dhani dengan tatapan horornya. Tapi yang ditatap justru cengengesan tidak jelas.

“Gosip? Orang itu kenyataan kok. Gua punya buktinya lho.” kata Aji mengelak dengan senyum yang masih setia terukir di wajahnya.

“Bukti? Emang lo habis ngapain Dhani gua hah kutu kebo?” tanya Rana sedikit melotot.

“Lo belum tahu ya mereka berdua habis ngapain. Nih coba dech li--” Aji hendak menunjukkan foto Adit dan Dhani, tapi tangan Dhani dengan tiba-tiba sudah terulur untuk mengambil handphonenya. Refleks, ia langsung menjauhkan handphone kesayangannya itu dari Dhani.

“Ajinomoto kampret, sini nggak handphone lo.” kata Dhani masih berusaha menggapai handphone Aji.

“Kok malak sih lo. Lo kan punya handphone sendiri.” ucap Aji dengan tangan yang semakin meninggi ke udara.

“Aji--cepet dech sini.” kata Dhani tidak mau kalah.

“Ogah banget.” ledek Aji dengan menjulurkan lidahnya. Berhubung tinggi Dhani hanya sebahunya jadi dia bisa dengan leluasa mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Ramadhani (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang