"HARUS BERAPA KALI AKU BILANG ITU BUKAN SIAPA-SIAPA. ITU NOMOR TEMEN KERJA AKU!"
Rama menautkan kedua alisnya bingung mendengar teriakan dari dalam rumah Dhani. Dia tidak tahu siapa itu, tapi yang jelas itu membuat Dhani kembali mengeluarkan aura menyeramkannya lagi dengan terus menatap gerbang rumahnya tanpa ekspresi.
"KALAU GITU KENAPA KAMU HARUS TELEPON SEMBUNYI-SEMBUNYI DARI AKU? AKU TAHU, ITU PASTI SELINGKUHAN KAMU KAN? AYO CEPET BILANG!"
"SIAPA YANG SELINGKUH? AKU ENGGAK SELINGKUH. SIAPA LAGI YANG NGADU SAMA KAMU HAH? AYO BILANG SAMA AKU, BIAR AKU LANGSUNG BICARA SAMA DIA."
"KAMU ENGGAK PERLU TAHU AKU TAHU DARI SIAPA. SEKARANG AKU UDAH TAHU KEBOHONGAN KAMU, SEKARANG JAWAB, SIAPA PEREMPUAN ITU?"
Rama mendelik sembari menatap Dhani yang sekarang tengah berdiri sambil memunggungi rumahnya dengan berpegangan pada motor Rama. Matanya terpejam dengan napas yang diusahakannya teratur untuk meredam amarahnya. Terlihat dari tangannya yang menggenggam erat rok seragamnya sampai kusut.
Ingin sekali Rama menegur Dhani, tapi ia urungkan. Ia lebih memilih mendengarkan pertengkaran itu lagi. Dan menurutnya, Dhani juga masih ingin mendengar kelanjutan dari pertengkaran itu.
"PEREMPUAN MANA? AKU ENGGAK NGERTI MAKSUD KAMU."
"ENGGAK USAH PURA-PURA ENGGAK NGERTI. AKU TAHU KAMU SELINGKUH. KAMU PUNYA WANITA SIMPANAN DI BELAKANG AKU. AYO JAWAB, SIAPA PEREMPUAN ITU!"
"KAMU INI NGOMONG APA SIH? JADI KAMU NUDUH SELAMA INI AKU PUNYA SELINGKUH HAH?"
"AKU ENGGAK NUDUH. UDAH ADA BUKTINYA. SEMUA ORANG JUGA UDAH TAHU HAL ITU."
Rama melihat Dhani mengembuskan napasnya dengan kasar. Perlahan, ia mulai membuka kedua matanya dan manik hitamnya langsung beradu pandang dengan kedua manik Rama.
"Hey, lo kenapa? Kok pucet gitu sih?"
Rahang Rama mengeras, rasanya mau jatuh saja saat melihat Dhani tersenyum dengan jenakanya. Dengan cepat, ekspresi Dhani langsung berubah. Aura yang bersahabat mendadak langsung menguar saat Dhani mengajukan pertanyaan tadi kepada Rama, pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada Dhani.
"Hey, Rama Danil Hendry Saputra, lo enggak papa kan?"
Rama mengerjapkan matanya saat Dhani melambaikan tangannya di depan wajahnya. Masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi, cerah, hangat dan sangat bersahabat.
"Thanks ya, udah nganterin gua balik. Pulang gih, nanti keburu malem lho."
"Ini udah malem." kata Rama dengan ketusnya.
"Ya maksud gua, jadi tambah malem. Gitu aja enggak tahu. Resek banget sih lo." cibir Dhani dengan sewotnya.
"Gitu aja ngambek. Ya udah, gua pulang ya. Kalau ada apa-apa, kabarin gua aja ok. Jangan bikin tetangga lo enggak bisa tidur gara-gara denger lo nangis." kata Rama tersenyum miring.
"Apaan sih lo. Ngledek nih ceritanya." sungut Dhani sambil memukul bahu Rama dengan kerasnya.
"Ish sakit bego. Ya udah, gua balik dulu ok. Bye Dhan, inget jangan nangis mulu." katanya sambil menaiki motornya.
Dhani hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Tentu saja, itu senyum palsu.
***
Rasanya canggung sekali masuk ke rumah setelah mendengar semua pertengkaran tadi. Tapi, Dhani berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Seperti tak pernah mendengar apapun.
Setelah membuka pintu, Dhani bisa melihat Lina sedang duduk manis di sofa sambil membaca majalah. Sedangkan papanya, Sepertinya sedang ada di ruang kerjanya. Yah, tentu saja menghindari mamanya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ramadhani (COMPLETED)
Teen Fiction"Lo tahu kenapa gua milih judul itu ? Ramadhani. Dua nama yang nggak pernah bisa bersatu. Dua nama yang nggak akan pernah bisa bersama. Semuanya cuma ilusi kutu. Imajinasi gua terlalu tinggi. Karena tingginya gua bahkan sampai lupa sama takdir yang...
