Twenty Eight

715 121 4
                                        

"Nona ini hanya mengalami memar dan shock ringan, saya sarankan ia untuk menginap semalam disini"

"Baiklah dok, besok kami akan kesini lagi untuk mewawancarai korban." ucap Joohyun.

"Kalau begitu saya permisi dulu" kemudian dokter itu pergi keluar dari kamar pasien.

Joohyun menyusul keluar dari ruangan itu. Disebelah pintu, terdapat Il Seung yang sedang tertidur. Joohyun berdiri didepan Il Seung, menatap wajah bawahannya itu dengan seksama.

Wajahnya sedikit tidak asing bagi Joohyun, tapi tetap saja itu tidak mengurangi rasa curiganya terhadap Il Seung. Apalagi dalam penyelidikan kali ini, bawahannya itu bersikap sangat aneh.

Ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan tapi selalu saja Il Seung mengelak untuk menjawabnya.

Joohyun kemudian tersadar jika Il Seung sama sekali belum mendapat perawatan untuk lukanya. Ia menepuk pelan pundak pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

Il Seung menggeliat pelan. Ia kemudian membuka mata sipitnya dan menemukan Joohyun yang sedang menatapnya.

Ia membulatkan matanya, terkejut. Refleks ia menegakkan badannya karena ketahuan tertidur saat bertugas oleh atasannya sendiri.

Joohyun tertawa kecil.

"Maafkan aku Letnan, saya tidak sengaja tertidur" ujar Il Seung.

"Tidak apa, untuk kali ini aku akan menganggap tidak melihat kau tertidur. Lagipula kita harus mengobati lukamu itu"

"Tidak usah Letnan, ini hanya luka kecil. Nanti juga sembuh sendiri" tolak Il Seung dengan halus.

Joohyun berdecak kesal, "Lihat lukamu, memar hingga biru begitu. Bahkan bibirmu ada yang sobek, jika tidak segera ditangani nanti bisa infeksi."

"Ayo ikut aku" ujar Joohyun sambil berjalan. Il Seung hanya terdiam sambil memandangi punggung Joohyun yang semakin menjauh.

Joohyun yang merasa tidak ada orang yang mengikutinya kemudian berbalik badan. Ia melihat Il Seung yang masih terduduk di kursi penunggu pasien.

"Hei! Apa instruksiku tadi kurang jelas?" ucap Joohyun sedikit berteriak.

Il Seung segera berdiri lalu berjalan kearah Joohyun yang sudah menunggunya diujung koridor.

.

.

.

"Akh!" Il Seung meringis begitu merasakan dinginnya kompres diujung bibirnya.

"Jangan banyak bergerak. Ini memang akan sedikit sakit, jadi tahan dulu saja sebentar" ujar Joohyun, memperhatikan Il Seung yang sedang diobati.

Sedangkan perawat yang mengobati Il Seung masih fokus membersihkan luka pada wajah Il Seung.

Sekitar dua puluh menit kemudian, perawat itu memasang sebuah plester disudut bibir Il Seung. Menandakan bahwa rekan kerja Joohyun itu sudah selesai diobati.

"Setelah ini kita akan kembali ke kantor lalu melapor kepada kapten apa yang terjadi hari ini" ucap Joohyun begitu mereka sudah keluar dari gedung rumah sakit.

"Jika kita ke kantor, lalu siapa yang akan menjada gadis tadi, Letnan?" tanya Il Seung.

"Itu sudah jadi tugas dokter, perawat, dan karyawan yang disini jadi kita bisa meninggalkan gadis itu untuk sementara waktu" tutur Joohyun.

Hanya saja Il Seung merasa kurang puas dengan jawaban atasannya itu.

"Emm, maaf sebelumnya Letnan, tapi bolehkah saya tinggal disini sementara? Saya merasa tidak bisa meninggalkan gadis itu sekarang" mohon Il Seung.

MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang