Seven

1.3K 195 11
                                        


Kang POV

"Kang-ah, ayo bangun." Seseorang mencoba membangunkanku dengan mengoyang-goyangkan badanku. Aku tidak meresponnya, aku lebih memilih untuk tetap berada di alam mimpi.

Sreeettt!!!

Tiba-tiba tirai jendela kamarku terbuka lebar. Sinar matahari yang menerobos masuk memaksaku untuk membuka mataku. Dihadapanku terlihat Detektif Shin yang sedang berkacak pinggang, menatapku kesal.

"Ayo bangun! ini sudah setengah delapan dan kau baru bangun? kau harus belajar untuk disiplin Kang!" sungutnya kesal.

Aku mengucek-ucek mataku pelan dan mencoba mengusir rasa kantukku dengan mengubah posisiku menjadi duduk namun tidak berhasil. Rasa kantuk ini tidak mau pergi, akhirnya aku kembali tertidur lagi. Detektif Shin yang merasa aku tidak kunjung keluar dari kamar masuk kembali ke kamarku. Ia semakin kesal ketika melihatku yang masih tertidur.

Detektif Shin berjalan mendekatiku lalu mengangkatku ke pundaknya. Ia lalu menggendongku ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, ia menurunkanku didepan wastafel lalu membasuh mukaku dengan air keran yang dingin. Sontak aku langsung terbangun karena air keran yang sangat dingin itu.

Detektif Shin tersenyum senang merasa telah berhasil membangunkanku. Ia mengacak rambutku lalu berkata, "Bangunlah pemalas, aku tunggu kau di ruang makan." lalu ia berjalan keluar dari kamar mandi. Aku masih berdiri didepan wastafel menatap wajahku yang terlihat sangat berantakan. Aku membasuh mukaku sekali lagi lalu berjalan kearah ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, aku melihat Detektif Shin yang sedang membuat minum. "Apa kau mau secangkir teh?' tanya Detektif Shin begitu aku duduk di meja makan. "Tentu tuan, jika boleh." jawabku masih dengan mata terpejam. Detektif Shin langsung membuat teh dengan cekatan. Tidak lama kemudian secangkir teh sudah tersedia dihadapanku. Aku menyeruput teh tersebut, tiba-tiba Byul datang dan duduk disampingku.

"Kau baru bangun eh?" tanyaku. Dia menggeleng, "Tidak, aku sudah bangun daritadi." Aku meminum tehku lagi. Byul juga meminum teh yang barusan diberikan oleh Detektif Shin.

"Lalu darimana saja kau?" aku bertanya kembali. "Aku pergi keluar sebentar tadi." jawabnya masih sambil menyeruput tehnya. "Kemana?" Byul hanya diam saja tidak menjawab.

"Kau membuntuti seseorang bukan?" tanya Detektif Shin tiba-tiba. Kepala Byul terangkat, memandang Detektif Shin kaget, "Bagaimana anda bisa tahu?". Aku juga memandang Detektif Shin heran. "Aku melihatmu pergi tadi." jawab Detektif Shin.

"Anii.. maksudku bagaimana anda tahu aku pergi membuntuti seseorang?" Byul masih bertanya merasa bahwa Detektif Shin belum menjawab pertanyaan sebelumnya. "Aku bahkan tahu bahwa kau ketahuan Byul-ah." jawab Detektif Shin sambil terkekeh melihat sikap Byul sekarang.

"Uwaah! kau benar tuan!" seru Byul tak percaya sembari mengarahkan dua jempolnya kepada Detektif Shin. Detektif Shin kini duduk dihadapan kami. Ia menyeruput kopi yang ia buat. Aku masih menatap Detektif Shin seakan meminta penjelasan.

"Berhenti menatapku seperti itu kang," ucap Detektif Shin tanpa memandang kearahku. "Kalau begitu tolong jelaskan mengapa anda bisa tahu apa yang dilakukan Byul?" tanyaku mengebu-gebu. Dia menyeruput kopinya lalu menatapku, "Aku memperhatikan apa yang berubah darinya." Aku menoleh kearah Byul, namun aku merasa tidak ada yang berubah darinya.

"Kau harus benar-benar mencermatinya Kang," ujar Detektif Shin. Aku terus memperhatikan Byul dari atas sampai bawah, tidak ada yang berubah. "Aku tak mengerti tuan." ucapku menyerah. "Lihat celananya." aku langsung melihat celana Byul. Celananya itu agak robek dibagian lututnya. Tapi aku masih tak mengerti hubungan celana Byul yang robek dan ketahuan saat membuntuti orang.

"Celananya di bagian lutut sedikit robek bukan? Bukankah disana terdapat noda tanah didekat robekannya? noda itu masih baru jadi ia pasti terjatuh saat mencoba kabur tadi, selain itu Byul tidak pergi terlalu lama sehingga ia tidak akan berkeringat sebanyak itu kecuali ia berlari kembali kesini karena ketahuan." jelas Detektif Shin singkat.

Aku menatap Detektif Shin tak percaya, ia begitu teliti dengan perubahan disekitarnya. Sekarang aku semakin yakin aku telah membuat keputusan yang tepat. Aku percaya Detektif Shin akan merubahku menjadi lebih baik.

"Apakah kalian sudah selesai? Sekarang cepatlah bersiap lalu ikut aku." ucap Detektif Shin memerintahku dan Byul. Kami pun segera berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang makan.

..

Joohyun POV

Aku bangun kesiangan hari ini. Dua malam terakhir aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku menatap wajahku dicermin, kantong mataku terlihat semakin besar dan semakin hitam sekarang.

"Joohyun-ah apakah kau sudah bangun?" tanya ibuku dari luar kamar. "Nde Eomma, aku sudah bangun." jawabku. "Cepatlah keluar, sarapan sudah siap." suruh ibu.

"Nde Eomma~" aku langsung bangun dari kasur dan masuk ke kamar mandi. Aku memutuskan untuk mandi dulu sebelum sarapan. Selesai mandi aku menyiapkan peralatan sekolahku lalu keluar kamar. Di meja makan sudah tersedia berbagai macam masakan.

"Pagi Appa," aku menyapa Appa yang sedang membaca koran. "Pagi juga sayang," Ayah balas menyapaku lalu melipat korannya dan menaruhnya di sebelah piring makannya. "Mengapa kau lama sekali?" tanya ibuku padaku. "Aku baru selesai mandi tadi, hehe." jawabku seraya tersenyum kearah ibu.

Selesai sarapan aku bergegas memakai sepatuku. "Joohyun-ah," panggil Ayah dari arah kamarnya. "Nde Appa?" kepala Ayah menyembul dari kamarnya, "Appa tidak bisa mengantarmu lagi hari ini, maafkan Appa." ujar Ayah merasa bersalah. "Tidak apa Appa, aku bisa pergi dengan Pak Han." ucapku sambil tersenyum.

"Eh? Pak Han belum memberitahumu?" tanya Ayah yang terkejut. Aku menggeleng. "Istri Pak Han sedang melahirkan, kemarin dia izin cuti ke Appa." jawab Appa menjelaskan. "Oh? benarkah? wahh seharusnya aku memberinya selamat kemarin!" ucapku agak terkejut karena mendengar kabar gembira itu.

"Jadi bagaimana sayang? Hari ini kau berangkat naik apa?" tanya Appa yang sekarang sudah berada disampingku. "Sepertinya aku akan naik bus saja Appa." jawabku lalu berdiri dan memeluk Appa. "Baiklah, hati-hati dijalan ya, sayang." ucap Appa, tangannya mengelus punggungku lalu melepas pelukan kami. "Nde Appa, aku berangkat dulu!" aku membuka pintu lalu keluar dari apartemen.

MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang