Twenty Nine

705 115 3
                                        

"Aku pulang!" seru Il Seung begitu masuk ke apartemen.

"Eoh, selamat datang kembali, hyung." balas Seho dari dalam kamarnya. Setelah Il Seung menaruh barang-barangnya, ia segera menuju ke kamar Seho.

"Jadi, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Il Seung segera setelah ia membuka pintu kamar Seho. Seho menggeleng, "aku sudah mencobanya daritadi, tapi selalu saja akses ditolak. Aku jadi tidak bisa mendapatkan apa-apa."

Dahi Il Seung berkerut mendengar penjelasan dari Seho, tidak biasanya Seho tidak bisa mendapatkan sesuatu.

"Apa kau sudah mencoba meretasnya?" tanya Il Seung sambil mendudukan diri dipinggir kasur Seho.

"Tentu saja sudah, tetapi selalu saja tidak berhasil. Harus kuakui, sistem pengamanannya sangatlah baik." jelas Seho.

Il Seung terdiam, ia tampak berpikir sejenak.

"Baiklah, kau bisa beristirahat sekarang. Kerja bagus, Seho-ya" ucap Il Seung kemudian.

"Nde?"

"Sekarang kau bisa beristirahat, Seho-ya." ulang Il Seung lagi.

"Ani, aku akan mencoba sekali lagi, hyung." tentang Seho.

Il Seung menyentuh bahu Seho, "Istirahatlah, Seho-ya. Biar aku yang menggantikanmu." ucapnya sambil menatap Seho dalam. Seho tidak bisa menentang lagi, akhirnya ia bergerak menuju kasurnya.

"Jika kau butuh aku, kau bisa membangunkanku, Hyung." ucapnya sebelum mengambil posisi untuk tidur. Il Seung tersenyum lalu mengangguk .

Setelah memastikan adiknya tidur, ia kembali menuju kamarnya, mencoba mencari tahu perihal Gook Cha Kyung beserta orang-orangnya. Namun hasilnya sama saja, ia tidak menemukan apa-apa. Setiap kali ia ingin menelusuri lebih jauh, pasti aksesnya selalu ditolak.

Ia mengacak rambutnya kesal, kasus ini buntu. Ia tidak punya petunjuk apa-apa. Sedangkan ia sendiri ingin segera menyelesaikan kasus ini lalu pergi kembali ke Amerika. Memikirkannya saja membuat ia semakin kesal.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia bangkit dari kursi kerjanya dan mengambil ponsel miliknya. Dahinya mengkerut, 'nomer yang tidak dikenal?'

Ragu-ragu ia menjawab panggilan tersebut, "Halo?"

.

.

.

"Halo, Ibu?"

"Ada apa, Hyun?"

"Aku sedang dalam perjalanan pulang, apakah Ibu sudah makan?"

"Bagaimana bisa aku sudah makan, sedangkan anakku satu-satunya belum juga pulang?"

Joohyun terkekeh mendengar jawaban dari Ibunya itu.

"Baiklah, aku akan mampir untuk membeli makan malam, mungkin aku baru sampai rumah sekitar jam sepuluh nanti." ujarnya sambil melihat jam tangannya.

"Nde, hati-hati menyetirnya. Saranghae"

"Nde, Nado Saranghae"

Setelah menutup telponnya, ia segera membelokkan mobilnya menuju restoran langganannya. Tidak sampai setengah jam kemudian, mobilnya sudah terparkir rapi. Ia segera turun dan memesan menu kesukaannya di restoran ini.

Sambil menunggu, ia duduk disalah satu kursi restoran tersebut. Restoran ini sedikit membuatnya terkenang, ia punya banyak cerita di restoran ini.

Entah mengapa, malam ini ingatan-ingatannya tiba-tiba muncul kembali. Saat ia bersama keluarganya, ayahnya, teman-temannya, dan juga anak itu.

MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang