Twelve

1.1K 180 10
                                        

Satu bulan kemudian

"Byul, kau pergi ke sana, aku akan mengalihkan perhatian mereka, jika sudah aman jangan lupa nyalakan gps nya." perintah Kang. Byul mengangguk mengerti lalu berlari menuju sebuah gang yang lebih sempit. Terlihat dia berlari sambil membawa sebuah handycam. Byul terus berlari dengan kencang tanpa melihat ke belakang. Untung saja dia sudah hafal jalan-jalan tikus di kota ini jadi dia bisa lolos dengan mudah.

Kang juga terlihat ikut berlari dibelakangnya namun dia berlari sedikit lebih lambat. Saat terlihat beberapa orang yang mengejarnya, dia langsung berbelok ke arah yang berlawanan dari Byul. Orang-orang dibelakangnya terus meneriakinya untuk berhenti. Namun Kang tidak bodoh, ia tahu jika ia berhenti maka itu bisa menjadi akhir dari hidupnya.

Mereka berdua memang sedang ditugaskan oleh Detektif Shin untuk mencari tahu tentang sekelompok pengedar narkoba terbesar di Seoul. Mereka berhasil mendapatkan sebuah rekaman percakapan dan juga rekaman transaksi penjualan narkoba tersebut. Namun sayang waktu mereka hendak pergi, seorang penjaga melihat mereka sehingga mereka harus segera kabur.

Kang terus berlari hingga sampai ke sebuah perempatan. Ia berlari semakin kencang ketika lampu tanda boleh menyebrang berganti menjadi hijau. Namun saat hendak menyebrang, ia mendapat sebuah ide. Ia berhenti sejenak, menunggu orang-orang berjas itu mendekat.

10...

9...

8...

Jarak antara mereka semakin menipis. Orang-orang itu terus meneriakinya. Bukannya panik, Kang sekarang malah tersenyum angkuh

7...

6...

5...

4...

Orang-orang itu semakin dekat, namun kang segera berlari menyebrang. Ia terus berlari tanpa melihat ke belakangnya.

3...

2...

1...

Lampu berganti menjadi merah lagi. Orang-orang itu berhenti karena kendaraan yang melaju kencang. Kang yang melihat itu tertawa kencang. Orang-orang itu terlihat kesal. Puas menertawakan mereka, Kang pergi meninggalkan orang-orang yang menunggu dengan kesal di seberang.

.

.

.

Joohyun POV

Hari ini sungguh menyebalkan. Aku lupa membawa kaos olahraga sehingga aku harus menyapu sekaligus mengepel aula sekolah yang sangat luas. Selain itu aku sungguh kesal dengan teman-teman Jihyo. Bisa-bisanya mereka membuatku tersandung dan membuatku basah kuyup karena ember yang kubawa mengguyur tubuhku.

Aku tidak habis pikir dengan mereka. Hanya karena Jihyo suka dengan Daniel dan aku dekat dengan Daniel bukan berarti dia bisa semena-mena denganku. Aku bahkan tidak mempunyai rasa pada Daniel.

Untung saja Wendy masih menyimpan seragam cadangan di lokernya, jadi aku tidak perlu merasa kedinginan karena memakai seragamku yang basah di sekolah hingga sekolah berakhir.

"Kau tidak apa, Rene?" tanya Wendy melihat raut wajahku yang masih kesal. Aku mendengus kesal memikirkan kejadian tadi.

"Tenangkan dirimu Rene, hari ini kau tidak seperti biasanya." bisiknya pelan, mencoba menenangkanku. Aku menoleh kearahnya, "Mereka sudah keterlaluan Wen!" gumamku kesal.

"Arra, tapi apa yang bisa kau lakukan? kau sendiri yang memutuskan untuk menutupi identitasmu."

Aku terdiam, tidak bisa membalasnya. Apa yang dikatakan Wendy itu benar. Aku memang tidak ingin orang-orang tahu bahwa aku anak dari CEO Bae Group karena jika mereka tahu pasti aku akan dikelilingi oleh orang-orang bermuka dua sehingga aku lebih memilih untuk menutupi identitasku.

Wendy tahu siapa diriku sebenarnya karena ia memag sudah mengenalku sejak lama. Lagipula keluarga kami cukup dekat karena sering bertemu saat rapat perusahaan. Paman Son dan keluarganya sangat baik padaku, begitu pula sebaliknya.


Teng teng teng


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Setelah Pak Lee keluar kelas aku segera berjalan keluar. Wendy mengikutiku keluar kelas lalu berjalan disampingku.

"Apa kau ingin aku menghiburmu?" tanyanya.

"Tidak usah Wen, aku sedang ingin sendiri." tolakku halus. Dia mengangguk paham, "Baiklah jika begitu."

"Apa hari ini kau akan pulang naik bus lagi?" Wendy bertanya lagi. Aku menggeleng, "Hari ini Pak Han sudah mulai bekerja kembali, aku akan dijemput olehnya."

"Benarkah? aku rasa aku harus memberikannya ucapan selamat nanti." ucap Wendy riang. Aku terkekeh melihatnya.

"Sepertinya kau tidak akan bisa Wen." ucapku. Dia menatapku heran, "Mengapa?" aku menunjuk sebuah mobil berwarna silver dengan daguku, "Kau sudah dijemput kawan."

"Aku bisa meminta sopirku menunggu." ucapnya cepat. Aku menggeleng pelan, "Tidak usah, kau pulang saja biar aku yang menyampaikan ucapan selamatmu kepada Pak Han nanti."

Setelah berdebat sebentar akhirnya Wendy memutuskan untuk mengalah dan pulang. Aku melambaikan tangan ketika mobilnya mulai berjalan pergi. Ia melambai balik padaku seraya berteriak, "Jangan lupa sampaikan salamku!" aku membalasnya dengan membentuk tanda 'ok' dijariku.

.

.

.

"Nona.. kita sudah sampai." panggil Pak Han membangunkanku. Aku terbangun kemudian mengucek mataku. Pak Han masih menungguku sadar sepenuhnya disamping pintu mobil dengan sabar. Setelah berhasil mengumpulkan nyawa, aku mulai berjalan keluar dari mobil.

"Saya rasa Nona perlu istirahat lagi, saya akan menelpon tuan besar agar mengizinkan Nona untuk tidak pergi les." ujar Pak Han memberi saran. Aku menggeleng, "Tidak apa Pak Han, aku baik-baik saja." ucapku menolak saran Pak Han. Pak Han kemudian mengangguk dan terseyum tipis, "Baiklah jika begitu Nona."

Aku berjalan memasuki apartemen. Seperti biasa, apartemen ini sangat sepi hanya ada aku seorang. Walaupun begitu Ayah dan Ibu tidak pernah melupakanku, bisa dibilang aku ini prioritas pertama bagi mereka. Jadi aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari mereka.

Setelah meletakkan tas sekolah dan mengganti bajuku aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas, mengambil sebotol minuman segar kesukaanku. Aku membuka botol tersebut lalu berjalan menuju balkon. Aku duduk di ayunan gantung sambil memperhatikan pemandangan disekitar apartemen.

Tiba-tiba sesosok anak laki-laki yang tengah berlari mengalihkan perhatianku. Aku memicingkan mata untuk memperjelas penglihatanku.

"Bukankah itu Kang?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku melihatnya bersembunyi disebuah semak didekat apartemenku. Tidak lama kemudian aku melihat beberapa orang yang memakai jas yang sepertinya mengejar Kang.

"Apa yang sedang ia lakukan?" aku masih memperhatikan Kang dari balkon. Setelah orang-orang itu melalui tempat persembunyiannya, Kang keluar dari semak-semak tersebut dan berlari menuju arah sebaliknya.

Aku tahu Kang tidak bersembunyi karena mencuri sesuatu. Orang-orang yang mengejarnya tampak sangat marah dan wajah mereka sungguh seram. Aku yakin mereka bekerja untuk seseorang yang bisa dibilang jahat. Aku sebenarnya tidak peduli dengan orang-orang itu. Tapi yang membuatku penasaran adalah, mengapa mereka mengejar Kang?

Setelah melihat kejadian tadi kepalaku sekarang penuh dengan pertanyaan, tetapi inti dari semua pertanyaanku adalah












' mengapa aku peduli dengannya?'

MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang