Twenty Four

1K 156 12
                                        

"Taruh barang-barangmu disitu, mulai sekarang itu adalah meja kerjamu" ucap Joohyun sambil menunjuk sebuah meja yang bersebrangan dengan meja kerjanya.

"Ah nde, terima kasih Letnan" ujar Il Seung lalu mulai menaruh barang-barangnya di meja tersebut.

"Yo anak baru, siapa namamu?" tanya Sersan Lee yang tepat berada disamping kiri Il Seung.

"Oh Il Seung imnida" ucap Il Seung memperkenalkan diri.

"Senang bertemu denganmu Sersan Oh, aku Lee Seoyeon dan yang disana itu Jang Gyuri" ujar Sersan Lee sambil menunjuk Sersan Jang yang sedang mencari berkas di almari.

"Saya juga senang bertemu dengan anda Lee sunbae" ucap Il Seung sambil tersenyum lebar.

"Kau kelahiran tahun apa? Tahun kerbau? Tikus? Kuda?" tanya Sersan Lee lagi.

"Saya kelahiran tahun anjing, Sunbae" jawab Il Seung.

"Tahun anjing?! kalau begitu kau lebih tua dari aku"

"Benarkah?"

"Nde, aku lahir di tahun harimau, Sersan Jang lahir ditahun kerbau, lalu Letnan Bae lahir ditahun anjing" jelas Sersan lee.

"Kalau begitu, berarti Sersan Oh dan Letnan Bae lahir ditahun yang sama?" Sahut Sersan Jang.

"Kau benar hyung, wah ini sangatlah menarik" ucap Sersan Lee membenarkan.

Il Seung hanya tersenyum kikuk menyaksikan percakapan kedua sunbaenya itu. Sedangkan Joohyun sama sekali tidak tertarik dengan percakapan itu, ia lebih memilih untuk mengamati kembali rekaman cctv tadi.

"Yak Sersan Oh, kau mau aku bicara formal denganmu atau tidak?" tanya Sersan Lee lagi.

"Terserah saja, aku besar di Amerika, jadi hal itu tidak begitu kupermasalahkan" jawab Il Seung.

"Baiklah kalau begitu, kita tidak usah bicara dengan formal, terlalu kaku buatku."

Il Seung mengangguk setuju. Ia lalu berjalan ke kursinya dan duduk. Ia memperhatikan Letnan Bae yang sedang serius bekerja.

.

.

.

'Apa dia Joohyun yang kukenal?' batinku. Aku menggeleng, tidak mungkin dia Bae Joohyun yang itu. Lagipula hal itu sudah lama sekali, aku pasti salah ingat.

Plak

Aku menampar pipiku pelan. Aku harus fokus. Aku dikirim kemari untuk menyelidiki kasus Bae Jung Won, aku tidak boleh teralihkan.

"Kau sudah gila?" tanya seseorang. Aku mengangkat kepalaku,Letnan Bae berada didepan mejaku.

"Tentu saja tidak Letnan, aku hanya merasa ini hanyalah mimpi" ucapku.

"Kalau begitu, bangun dari mimpimu dan mulai bekerja"

"Ini" ucap Letnan Bae sambil menyodorkan sebuah dokumen padaku.

"Apa ini?" tanyaku.

Letnan Bae menghela napas, "ini adalah laporan kasus yang sedang kita kerjakan, pelajari laporan ini" jelas Letnan Bae.

Aku mengangguk mengerti lalu menerima dokumen tersebut.

Aku mulai membuka dokumen itu dan membacanya.

'Eung? Kasus penguntitan?'

Ini sedikit diluar ekspektasiku. Di masa sekarang ini, sudah sangat langka kasus penguntitan seperti ini. Apalagi korban bukanlah seorang artis ataupun pemuka negara.

Tapi yang mengherankan adalah, yang melapor bukanlah korban. Dan juga sebenarnya istilah 'korban' kurang tepat karena belum ada tindakan dari tersangka yang secara terang-terangan mengusik korban.

Lalu darimana pelapor tahu bahwa korban sedang diikuti? Apakah dia mengikuti sang penguntit atau yang melapor adalah sang penguntit?

"Em ... Letnan Bae ?" panggilku.Letnan Bae melihat kearahku, "ada apa?"

"Kasus ini-"

"Ya ya ya, itu memang agak membingungkan"

"Kenapa anda mengambil kasus ini?" tanyaku.

"Awalnya aku tidak tertarik dengan kasus ini. tapi beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar jika tersangka adalah seorang psychopath" Joohyun membuka berkas laporan. Ia mengambil selembar dokumen dari dalam folder tersebut.

"Aku tahu kita tidak seharusnya mengambil kasus ini, kita menyelidiki kasus ini tanpa bukti kuat. Hanya saja, aku merasa jika aku tidak menyelidiki ini, seseorang akan terbunuh." jelas Joohyun.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Aku sudah mencoba melihat rekaman cctv dari tempat korban bekerja, tapi sia-sia saja" keluh Letnan Bae.

Aku beranjak dari kursi, berjalan menuju meja Letnan Bae, "Boleh saya lihat?"

"Eh? T-tentu saja boleh" ucap Letnan Bae lalu memberiku ruang untuk melihat rekaman cctv tersebut.

Aku mengamati dengan seksama rekaman tersebut. Dilaporan tidak tertulis dengan pasti tersangkanya laki-laki atau perempuan, jadi bisa siapa saja yang ada didalam rekaman cctv.

Ck. Kasus ini sangatlah menyusahkan. Laporannya terlalu umum, tidak ada detail tentang ciri-ciri tersangka. Kalau begini terus, kasus ini tidak akan terpecahkan.

"Aish kenapa orang-orang selalu saja datang lalu pergi, menyusahkan saja" keluh Letnan Bae.

"Eh?"

"Kenapa?"

"Anda tadi bilang apa?"

"Aku bilang, orang-orang yang datang lalu pergi itu menyusahkan, kenapa?"

Aku menyeringai, aku mengerti sekarang, "Letnan Bae, apa pekerjaan korban?"

"Pramusaji, bukankah dilaporan sudah disebutkan?" JawabLetnan Bae.

"Benar, hanya saja dilaporan tidak disebutkan jika korban adalah pramusaji restoran cepat saji, bukan?"

Letnan Bae mengangguk, "lalu kenapa?"

"Orang-orang yang datang ke restoran cepat saji biasanya tidak akan makan dalam waktu lama bukan?"

Letnan Bae mengangguk lagi. Seringai di wajahku makin lebar, "bukankah tidak wajar jika ada orang yang makan di restoran cepat saji dalam jangka waktu yang lama?"

Lagi-lagi Letnan Bae mengangguk, "jadi apa maksudmu?" tanyanya tak sabar.

"Kalau begitu, kita tinggal mencari orang yang makan di restoran cepat saji itu dalam waktu yang lama" jelasku.

"Apa kriteriamu untuk menentukan orang yang makan dalam 'waktu yang lama' ?" tanya Letnan Bae.

"Hmm.. menurut saya, orang tersebut mungkin akan berada di restoran tersebut sekitar lebih dari lima jam walaupun makanannya sudah habis" jawabku.

"Kalau dia tetap disana karena menunggu atau sedang mengerjakan sesuatu bagaimana?"

"Kalau begitu, anggap saja pelaku adalah pengunjung yang makan disana dalam waktu yang lama dan tidak mengerjakan apapun dan dia sendirian hingga dia pergi dari restoran tersebut, bagaimana?"

"Um.. baiklah, kita akan memakai asumsimu untuk mencari tersangka, kerja bagus"

Aku tersenyum senang, "terima kasih Letnan"

"Ya ya, sekarang kembali ke tempatmu" titah Letnan Bae. Aku mengangguk mengerti, lalu berjalan kembali ke mejaku.

Aku kembali mempelajari laporan kasus penguntitan ini. Jujur dalam laporan ini tidak ada informasi apapun yang bisa kuperoleh.

Aku pun membuka ponselku dan mengetikkan sebuah nomer, aku memencet tombol panggil. Tidak lama, panggilan itu diangkat.

"Byul,aku ada tugas untukmu"

MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang