.
.
.
Aira membuka pintu rumah dengan dongkol.
"Apa?" Tanyanya galak.
Ken hanya tersenyum kecil, "Pacar dateng, bukannya disuruh masuk. Hujan lo ini," Kata Ken, "Mama ada?"
"Mama gak ada," Jawab Aira galak.
Ken tau benar bahwa Aira sedang ngambek padanya.
"Raaa, Ken-nya suruh masuk. Luar ujan deres!!" Suara Mama terdengar samar.
"Mama ih," Gerutu Aira, membuat Ken tersenyum lebih lebar.
Aira malah tambah menekuk wajahnya, lalu berjalan lebih dulu masuk ke rumah.
Kembali duduk di depan televisi yang menyala.
Ken hanya mendesah dan masuk dengan baju basah.
"Aira, Ken basah-basah gini gak kamu ambilin baju ganti," Omel mama, Beliau menyodorkan sebuah handuk. "Ambil di kamar mama, di lemari papa ada banyak kaos,"
Aira ogah-ogahan naik ke lantai dua, suara mamanya masih samar-samar terdengar, menyuruh Ken masuk ke kamar Aira daripada di ruang keluarga.
Aira dengan malas kembali kemarnya, melihat Ken sedang duduk dengan berbalut handuk di atas karpet, bibirnya membiru.
"Nih, cepetan mandi pake air anget," suruh Aira sambil menyodorkan apa yang mamanya suruh ambil.
Ken mencegah Aira yang beranjak, "Mau kemana?" tanya Ken.
"Mau buat teh, buat kamu ini. Sana mandi cepetan," setelah itu Aira langsung pergi ke dapur tanpa menengok lagi.
Selang beberapa menit, Aira masuk lagi ke kamar dan menemukan Ken sudah duduk di atas sofa dengan bermain ponsel. Aira dengan kesal merampas ponsel Ken dan meletakkannya di dalam lemari.
"Nih," katanya sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Ken tak menjawab, hanya menyeruput sedikit.
Aira beranjak duduk di atas kasur, menghiraukan Ken.
"Geser dikit," kata Ken. Gelas tehnya sudah berpindah ke atas nakas. Aira dengan malas bergeser.
"Masih ngambek kamu by?" tanya Ken, tersungging senyum di wajahnya.
Aira memutar bola mata, kesal. "Iyalah,"
"Aku lupa beneran kalo kita aja janji. Jadi aku iyain temen buat ngebasket," bujuk Ken. tangannya mengelus puncak kepala Aira lalu turun lagi.
Aira mendengus, "Terus kenapa inget?"
"Gimana gak inget. Orang kamu nyepam sampe hp aku nge-hang," jawab Ken lugas.
"Kan aku khawatir," rajuk Aira. Ia membenamkan wajahnya di lutut yang terkekuk ke dada.
Ken terkekeh, lalu membawa Aira dalam pelukannya. "Kamu boleh nyepam aku sampe hp aku rusak By,"
Aira mendengus lagi, "Terus aku hubungin kamu pake apa kalo hp kamu rusak?"
"Gak usah dihubungin. Aku pindah rumah ke sebelah," Ken tertawa kecil.
"Aku nunggu lama capek,"
"Iya, maaf,"
"Gak tau, masih kesel,"
"Kesel kok ndusel-ndusel,"
"Serah aku," Aira makin mengeratkan pelukannya.
Ken tertawa, Aira ngambek adalah salah satu hal favoritnya. Pernah gadis itu ngambek karena Ken tersenyum kepada pelayan cafe ketika mereka berdua makan siang. Ada lagi, waktu itu hp Ken pernah hampir terinjak sepatu gadis itu karena Ken memfollow beberapa cewek di instagramnya.
Ken mengelus puncak kepala Aira lagi, lebih lembut seakan meninabobokannya.
"By," panggil Ken pelan.
"Hm?"
"Ily,"
"I love me too," Ken tertawa lagi.
.
.
.
Aira turun dari kamarnya, karena ia tak menemukan Ken di setiap sudut lantai 2. Gadis itu melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan jam lima sore. Dengan pelan, Iangkah gadis itu menuju dapur yang bisa dipastikan Mama sedang ada disana jam segini.
"Ma, Ken mana?"tanya Aira langsung.
Mama menoleh. "Bagus kamu udah bangun, ini anterin ke kamar tamu. Ken demam, tadi pingsan waktu mau pulang. Mama udah telpon Mama dia, kamu cepetan kasih ini terus ganti kompresnya,"
"Demam?"
Mama gemas, "Iya, udah sana cepetan," Mama mendorong Aira keluar dapur.
Aira mempercepat langkah, apa karena itu Dia tadi merasa sangat hangat di pelukan Ken? Tiba-tiba secercah rasa bersalah langsung memasuki lubuk hatinya. Ia dengan pelan membuka pintu kamar tamu, Ken tertidur dengan selimut hingga bawah dagu dan kompres air hangat di dahinya.
Gimana mau kasih makan? Orangnya aja ketiduran sampe kayak gini.
Aira hanya meletakkan bubur diatas nakas dan segera mengganti kompresnya. Sesekali Ken mengigau, memanggil namanya.
"Ken, Ken, By bangun. Ini aku," Aira memegang tangan Ken erat. Ken terbangun dengan rasa kaget, matanya bergerak-gerak tajam.
"Hey, Hey. Ini aku, Aira, " Aira menangkup wajah Ken dengan tangannya.
"Aira?" tanya Ken pelan. Aira mengangguk tak tega.
"Duduk dulu," kata Aira, "Minum," Ia menyodorkan segelas air putih. Ken menurut, meminum beberapa teguk lalu terdiam.
"By, mau makan dulu?" Tanya Aira.
Ken menggeleng, "Peluk?"
"Peluk? Kamu minta dipeluk?"
"Iya, " Ken mengangguk imut.
Aira merentangkan kedua tangannya, membiarkan Ken memeluknya erat.
"Mimpi apa kamu?" Tanya Aira pelan.
"Mimpi buruk tapi aku lupa,"
"Ada aku-nya?"
"Ada,"
"Hmm, makan dulu ya. Diliat mama gak enak, kamu masih anget gini. Besok gak usah sekolah dulu. Nginep sini,"
"Emang sama mama gak papa?"
"Kamu udah jadi anak emas disini," Balas Aira. "Makan dulu ya,"
Ken melepaskan pelukannya gak rela, lalu membiarkan Aira menyuapi dirinya dengan bubur.
"Maaf ya," Aira membenarkan letak rambutnya.
"Maaf kenapa?" tanya Ken, Ia menggapai tangan Aira dan menggenggamnya erat.
"Karena udah ngambek sama kamu, kamu jadi kesini hujan-hujan,"
Ken menggeleng, "Aku cuma sakit dikit, kamu gak usah pikirin,"
"Tetep aja ngerasa bersalah by,"
"Aku tau. Tapi kamu liat kan aku gak papa?"
"Cepet sembuh, nanti aku cepet ilangin rasa bersalahku,"
Ken mengangguk patuh, tersenyum lembut. "Maaf juga ya,"
"Karena apa?"
"Karena lupa janjiku, kalo aku gak lupa kan kamu gak bakal ngambek,"
Aira mengusap lembut rambut Ken lalu beralih kepada wajah cowok itu, "Gak papa, aku sadar kamu juga butuh waktu sama temen-temen kamu,"
Ken tak menjawab lagi. Ia membawa Aira ke pelukannya sebentar, dan mencium kening gadis-nya cepat.
.
.
.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Reasons Why {SELESAI}
Teen Fiction"Kecapekan lo ya? Sini, lo gak bersih banget," Kata Aira. Tangan kanannya memegang wajah Ken, sedangkan tangan satunya membersihkan hidung dan pipi Ken yang masih agak penuh dengan bercak darah. "Ai," "Hm?" "Gue boleh minta sesuatu gak?" Tanya Ken s...
