Aira membuka buka buku ilmu biologi di perpustakaan. Sudah hampir seminggu ia bersekolah, tetapi gadis itu belum memutuskan akan bergabung di ekskul mana saja.
Setiap pulang sekolah, Anggar dan Amara akan datang ke rumah Aira dan membuat gadis itu bener bener kesal. Biasanya tanpa permisi, mereka berdua akan membuka pintu dan langsung menyiapkan beberapa makanan dan mengeluarkan beberapa kaset film untuk ditonton di tv layar lebar milik Aira.
Sudah begitu, Aira langsung memutuskan tertidur di bawah selimut. Mengacuhkan pasangan yang sedang sama sama fokus dengan film.
"Hey,"
Aira terkejut. ulangi, sedikit terkejut dengan penampakan siswa lelaki yang tiba-tiba datang.
Dengan perasaan yang cukup bingung, Aira mengacuhkan siswa itu.
"Aira kan?" masih gencar, siswa itu kembali bersuara. Aira memilih duduk di bangku perpustakaan dengan buku biologi tetap di tangan.
Siswa itu menghela nafas, " Gue kesini dapet tantangan doang. Kalo gue berhasil bikin lo ngeluarin suara, gue pergi. Gampang kan?"
Aira menoleh, "tantangan apa itu?" ia kembali berpikir. Menyebalkan jika siswa itu tetap disini.
"Hem, kalo lo tetep gak bersuara, gue bakal tetep disini sampe lo ngeluarin suara," siswa itu mengambil tempat duduk tepat di depan Aira.
Aira berdiri lalu menggeleng, membuat rambut coklatnya yang dikuncir kuda bergoyang,"Nggak perlu, kamu bisa pergi dan keluar dari sini,"
Siswa itu mendongak, menatap mata bulat Aira lalu tersenyum.
"Nama gue Ken,"
Aira bergeming, kembali menutup mulut rapat rapat.
Ken beringsut, tangan yang semula di ulurkan ditarik kembali karena tidak diterima Aira.
"oke, makasih." Ken berjalan pelan keluar perpustakaan. Aira merasa terganggu dengan ekspresi Ken terakhir kali sebelum keluar perpustakaan, terlihat sekali kalau Ken kesal.
Aira menggeleng-geleng. Mencoba fokus dengan meminum sebotol air putih dan kembali membaca buku biologinya. Setampan-tampannya Ken, Aira merasa hatinya sudah mati.
***
Ken berjalan keluar perpustakaan, menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah melolong minta makan.
Aira cukup membuat Ia kalang kabut, tak pernah ada yang berani mengusirnya seperti itu. Apa Aira sudah lupa wajahnya pertama kali?
Tapi waktu seminggu tak akan cukup untuk melupakan wajah setampan Ken kan? Oke, lupakan.
"Gimana?" Dimas moro-moro sudah berjalan di samping Ken.
Ken menoleh sedikit sebelum memutuskan mengantri untuk sepotong roti.
Dimas terdiam lalu mulai terkikik, "Kenapa lo?"
"Berhasil kok gue, dia ngeluarin suara."
"Tapi?"
"Tapi suaranya nyuruh gue keluar dari sana,"
"Terus?" Dimas mengangkat kedua bahunya. Bingung. Ken terlihat kesal.
Ken melirik Dimas sinis, "Ya lo kan tau aja, gue gak pernah diusir sama cewek,"
Dimas tertawa lagi, sedikit lebih keras," Lo gak tau sifat Aira gimana? Semua orang udah asik gosipin dia,"
"Gosip? Gosip apa gak jelas banget, ghibah tau namanya," sambil membayar makanannya, Ken berceloteh.
"Mau denger gak lo?"
Ken cengengesan, "Iya iya. Emang apa?"
"Oke, Nama Aira udah dikenal hampir seluruh siswa disini sebagai 'JUMA'," ujar Dimas setelah menemukan tempat duduk.
Ken menggigit rotinya, "What is that?"
"Jutek manis, jutek karena dia hampir gak pernah ngomong sama anak cowok, kecuali sejenis ngusir atau bilang gak suka. Selain itu, dia terlalu cantik untuk jadi nyata." Dimas meminum teh manis milik Ken.
"Ekskul apa dia?"
"Nobody know,"
"Tapi gue pernah liat dia ngomong tuh sama Anggar, sampe cubit cubitan lagi. Emangnya Aira selingkuhannya Anggar?"
"Sembarangan lo kalo ngomong, masak lo juga gak tau fakta ini?"
Ken memutar matanya, "Jangan bertele-tele, Mas. Gue gak suka,"
"Aira itu sepupunya Anggar, dan selama dia bersekolah disini, gue cuma pernah liat dia akrab sama anggar dan pacarnya," ujar Dimas.
"Siapa dah nama cewek Anggar?"
"Amara bego,"
Tbc
🐝🐝
KAMU SEDANG MEMBACA
Reasons Why {SELESAI}
Teen Fiction"Kecapekan lo ya? Sini, lo gak bersih banget," Kata Aira. Tangan kanannya memegang wajah Ken, sedangkan tangan satunya membersihkan hidung dan pipi Ken yang masih agak penuh dengan bercak darah. "Ai," "Hm?" "Gue boleh minta sesuatu gak?" Tanya Ken s...
