Tali pramuka yang kuatnya masyaallah aja lama - kelamaan bisa putus seiring berjalannya waktu, lalu gimana kabarnya dengan hati manusia yang senggol dikit lukanya bisa sampai akar?
~
Bagi seorang Erlin, tak ada yang lebih penting dari kebahagiaan adiknya. Yah, Abqari Agam Agler, bintang kecilnya. Tak ada yang lebih penting dibanding melihat senyum merekah dari bocah berumur 5 tahun yang mungkin takkan ada artinya bagi orang lain. Melihat tangisnya, yang hanya sekedar merengek meminta mainan saja sudah mencubit hatinya begitu dalam, lalu sanggupkah ia melihat orang yang amat dicintainya itu menangis karena dirinya?
Tentu saja tidak. Melihatnya ngambek semalaman dengan tidak makan dan minum hanya karena sang kakak lupa membelikannya mainan saja sudah membuat Erlin frustasi tidak karuan. Untung saja, Erlin tidak sampai bunuh diri. Jika pun iyha, lalu siapa yang akan bertanggung jawab pada kehidupan Agam nanti?
Sejak 2,5 tahun yang lalu, Erlin bahkan tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Bagiamana rasanya mendapat kasih sayang orang tua, bagaimana rasanya mendapatkan cinta di masa abu-abunya, dan bagaimana rasanya menjalani kehidupan remaja seperti kebanyakan lainnya, Erlin tak pernah tahu. Karena tujuan hidupnya hanyalah satu, takkan membiarkan adiknya bertemu ‘dia'. Jahat memang jika ia benar melakukannya, tapi Erlin sekali pun takkan pernah sudi menukar kebebasan adiknya dengan kesengsaraan dibalik status hubungan seperti dulu lagi. Tak akan pernah.
“Eht kak, sini deh.” seru Erlin sembari melambaikkan tangannya begitu melihat Gavin memasuki kantin yang tak bisa dibilang sepi ini.
Melihat Erlin yang melambaikan tangannya, Gavin langsung bergegas menghampiri juniornya itu, yang kebetulan tidak sendirian. “Nape lo? Mau nangis-nangis lagi?” tanya Gavin menaikkan sebelah alisnya.
Mendengar itu, Erlin maupun Dira yang tengah sibuk menyantap makan siangnya pun langsung kompak mendongakkan kepalanya. “Lah, kapan lo nangis Lin?” tanya Dira mendahului.
“Ck, ember banget sih lo kak. Enggak bisa diem dikit buat kebaikan orang lain apa?” sungut Erlin dengan kesalnya.
Gavin langsung terkikik geli setelahnya.
“Lah, salah gua apa coba? Kemarin aja nangis-nangis kejer kayak cewek baru diputusin pacar.” sindir Gavin tersenyum miring.
Erlin langsung saja menyikut lengan Gavin yang tengah bertumpu di atas meja hingga membuat pemiliknya limbung ke depan. “Siapa yang diputusin pacar sih kak? Punya pacar aja enggak, ngaco banget deh lo.” ucap Erlin mengacung-acungkan garpu yang tengah dipegangnya.
“Weish, ini garpunya diturunin dulu pea, bahaya kalau sampa nusuk muka ganteng gua dek. Enggak punya, nah si Cakra siapa? Suaminya?” tanya Gavin menahan tawanya.
Mendengar itu, Dira yang tadinya hanya menjadi penonton saja langsung berseru riang setelahnya. “Hais, ternyata ikatan batin kita kuat yah kak. Gua juga mikirnya gitu, orang Bu Krani enggak pernah mau ngakuin si Pradana jadi pacarnya, jadi opsi yang tersisa yah, calon imamnya dong.” sambung Dira dengan sombongnya.
“Dasar geblek.” ucap Erlin dengan sinisnya.
“Gimana, adik lo suka kan?” tanya Gavin mengalihkan pembicaraan.
Erlin sejenak menghentikan kegiatan makannya untuk menatap sang senior sekilas. “Suka kok kak. Lega banget gua dia enggak ngambek lagi. Udah kayak cewek aja yah, ngambekan.” jawab Erlin terkikik geli.
“Ye, gitu aja adik lo pea.” cibir Gavin memutar bola matanya dengan jengah.
“Aish, pada ngomongin apa sih kok gua enggak ngerti?” tanya Dira gemas sendiri. Ia tentu merasa tak diacuhkan sekarang ini.
“Dengerin aja Dira. Kak, itu—kemarin beneran kakak ikutan kek gitu? Enggak salah? Kakak—waketos loh?” tanya Erlin beruntun.
“Enggak ada yang sempurna di dunia ini dek. Semuanya pasti punya kekurangan kan. Jangan judge buku lewat cover-nya.” jawab Gavin tersenyum tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Teen FictionPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
