Kok rasanya enggak karuan gini sih setelah kenal kalian?
~
Kumpul-kumpul itu sudah menjadi rutinitas bagi kalangan remaja, terutama bagi kaum lelaki yang memiliki persahabatan erat. Seperti Alvi, Handi, dan juga Alif. Kumpulnya mereka tidak seperti kumpulnya anak pramuka yang akan membahas kegiatan, tapi untuk membuang-buang waktu luang tentunya.
Dan di sinilah Alvi berada, rumah tercintanya menunggu sang saudara ketemu besar. Entah kemana dua sahabatnya itu pergi hingga membuatnya menunggu seperti ini. Padahal Alvi tak pernah suka menunggu loh, menunggu Erlin contohnya. Eht eht, kok sampai situ sih.
Tak berselang lama, deruman beberapa motor terdengar menyambangi halaman rumahnya. Dan tak butuh waktu lama, sorak-sorakkan salam yang tak pantas langsung meramaikan suasana rumah Alvi yang terlihat sepi.
“Eht eht, ngapain lo bawa anak orang?” tanya Alvi bingung begitu melihat beberapa gadis juga ikut masuk ke dalam rumahnya. Lia dan gerombolannya.
Tanpa disuruh, Handi langsung ikut duduk di samping Alvi dengan leluasanya. “Ketemu di minimarket depan tadi. Tanya mau ke mana ya gua jawab mau ke sini. Eht malah dianya minta ikut. Kalem sih Vi, sekali-kali ada yang seger di rumah lo.” jawabnya sembari mengerling jahil.
Alif yang baru kembali setelah mengambil beberapa cemilan langsung melempar satu tutup toples ke arah Handi seketika. “Seger seger kata lo mereka buah yang baru di ambil dari kulkas apa,” sahut Alif dengan sewotnya.
Alvi langsung mendengus seketika. Memang sih bukan masalah besar ada beberapa gadis yang memasuki rumahnya, toh Erlin juga pernah ke sini kan? Eht, kalau dia tahu gimana yah responsnya?
“Hai Vi, lama deh enggak ketemu,” sapa Lia sembari duduk di samping kanan Alvi yang masih kosong.
Karena sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang menyangkut Erlin, Alvi jadi tak memperhatikan tamunya dengan semestinya. “Hai, iyha nih.” jawabnya kelewat terpaksa lengkap dengan senyum canggungnya.
Come on, memang kemana perginya seorang Alvi yang biasa tebar pesona terhadap semua cewek? Kenapa sekarang dia jadi lemah kek kerupuk yang disiram air sih?
“Kok chat gua enggak pernah dibales sih Vi? Lo—udah punya pacar yah?” tanya Lia penasaran.
Bukan hanya Alvi saja yang langsung menoleh ke arah Lia setelah mendengar pertanyaan itu. Tapi Handi juga Alif langsung menoleh ke arahnya lengkap dengan senyum mengejeknya. “Belum sih, baru otw. Makanya harus jaga perasaan gebetan.” jawab Alvi dengan mantap.
Sumpah demi apa, Handi juga Alif benar-benar jijik dengan ekspresi Alvi yang sok setia. Inginnya mereka mengabadikan ekspresi tadi untuk mengejeknya yang mendadak sudah menjadi bucin. Ciaelah, karena siapa coba?
Teman Lia langsung ikut menginterupsi setelahnya. “Baru juga jadi gebetan, enggak perlu sesetia gitu kan Vi? Emangnya gebetan ke berapa nih?” tanyanya tersenyum mengejek.
Ayolah, selain dikenal bengal dengan sikapnya yang tak tahu aturan, sudah banyak cewek yang menjadi korban Alvi di SMK Tunas Bangsa loh. Jadi wajar-wajar saja jika orang sekelas teman Lia yang beda jurusan tapi satu sekolah itu akan paham bagaimana ranah perjalanan cinta seorang Alvi.
Bukannya tersinggung, Alvi langsung terkekeh seketika. “Gebetan sih, tapi cintanya udah melebihi mantan gitu loh. Enggak cuma cantik, garangnya bikin gua takut buat berpaling. Apalagi banyak cowok yang ngantre selain gua.”
Kan kan, definisi bucinnya Alvi sudah naik satu level. Kapan lagi juga melihat Alvi yang seterang-terangan ini mengumbar perasaannya? Sama sang pelakunya aja dia kek kucing ketakutan yang ketemu anjing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Fiksi RemajaPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
