Jika kamu memandang ketidaklayakan seutas tali temali dari bersih tidaknya, maka jangan menyesal jika aku, bukanlah partner cokelatmu yang terbaik.
~
Entah apa yang Erlin rasa, tapi terkadang ia merasa bingung sendiri. Bingung terhadap perasaannya yang berbeda. Bingung terhadap simpatinya yang tak biasa. Serta bingung terhadap penyesalannya yang tak beralasan.
Sangat klise memang.
Tapi, mengapa Erlin selalu merasa ‘berbeda’? Mengapa ia selalu merasa nyaman-nyaman saja, padahal jelas-jelas dia tak menunjukkan kenyamanan terhadap dirinya? Mengapa ia fine-fine saja ditugaskan, yang selalu ada dirinya? Dan mengapa, ia selalu merasa menyesal jika sudah mengabaikan—ataupun mengacuhkan dia dengan sengaja?
Astaga, kenapa jadi serumit ini? Padahal biasanya, ia tak pernah ambil pusing jika menyangkut hal tentang dia. Mentok-mentok, paling dia kesal sendiri dengan sikapnya yang kelewat datar kan?
Masih ia ingat nasehat itu. Dan masih ia ingat, ucapan Alvi—yang benar-benar mengejutkannya siang itu. Nasehat, serta ucapan—yang berhasil menyadarkannya akan satu hal.
Erlin—merasa bersalah.
Bukankah seharusnya ia tak berkata sekurang ajar itu terhadapnya sampai menggunakan embel-embel ‘partner organisasi’? Dan tak seharusnya bukan, ia menjauhi dia sebegitu takutnya.
Memangnya, apa yang perlu Erlin takuti?
Bukankah embel-embel ‘partner organisasi’ itu memang yang paling tepat untuk mereka? Lalu, mengapa ia harus ambil pusing masalah ini, padahal dia tak lebih dari pradana beda ambalannya bukan? Iyah, tapi—tapi—
“Lin,”
Erlin langsung menolehkan kepalanya seketika. “Kenapa?”
“Noh, pak Pradana lihatin lo mulu,” jawab Dira sembari menunjuk Cakra dengan dagunya.
“Biarin aja.” sahut Erlin anteng-anteng saja. Padahal, hatinya sudah tidak karuan begitu melihat Cakra, benar-benar tengah menatapnya begitu intens.
Dira langsung terkikik seketika. “Sejak kapan lo jadi salting gini sih dilihatin Cakra? Biasanya aja kalem-kalem wae mau berduaan kek, mesra-mesraan kek,” ucap Dira dengan mata memicingnya. Come on, Dira bukannya sosok teman baru yang baru-baru ini berteman dengan Erlin, dia—sahabat karib Erlin sejak SMP loh. Jadi, ia pasti hapal betul gerak-gerik Erlin—apalagi saat bersama Cakra.
Menghela napas dengan pelan. “Siapa yang salting juga. Gua—“
Dira langsung menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar Erlin menjeda kalimatnya.
“Gua ngerasa bersalah aja kemarin udah marahin—bukan sih, ngomong enggak pantes mungkin,” Erlin langsung menggigit bibir bawahnya dengan gugup. “Gua ngerasa gimana aja gitu setelah nyadar ngucapin hal itu.”
“Lo—serius?” tanya Dira dengan tatapan cengonya.
Erlin hanya mengangguk patah-patah sebagai responsnya.
“ARGHHHHH, GILA GILA.” pekik Dira dengan kerasnya seketika.
Erlin langsung membekap mulut toa Dira secepatnya. Dosa apa dia hingga membuatnya bisa mempunyai sahabat sebrisik Dira? “Diem ish, toa banget sih lo.” protes Erlin tanpa melepaskan bekapannya sedikit pun.
Dira langsung menepis tangan Erlin seketika. “Bau ihh,” cibirnya. “Tapi—lo sehat kan? Beneran enggak papa kan?” tanya Dira setelahnya.
“Ya baiklah. Emangnya gua kenapa coba?” tanya Erlin menaikkan sebelah alisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Teen FictionPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
