Apa gua harus jadi anak pramuka dulu biar bisa paham kode apa yang lo pahami?
~
“Subhanallah Erlin, lo udah mendingan? Enggak ada yang sakit-sakit lagi kan?” tanya Handi begitu antusias hingga memutar-mutar tubuh Erlin dengan brutal.
“HANDI!” pekik Erlin seketika kala Handi tak kunjung menghentikan kegiatan tak beradabnya itu.
Seolah tak bertemu Erlin beberapa tahun, dan Handi baru bisa mengobati segala kerinduannya saat ini, ia tak sedikit pun menghiraukan pekikan Erlin maupun pelototan teman-temannya yang begitu mengerikan itu.
“Ekhem.”
Tubuh Handi langsung kaku seketika. Dengan memberanikan dirinya guna membuktikan bahwa dia itu laki-laki yang gentleman, Handi langsung membalikkan badannya dan langsung menampilkan cengirannya seketika. “Maaf deh Al, kangen ini gua sama teman satu,”
Alvi langsung menaikkan sebelah alisnya setelahnya, yang justru membuat Handi merasa ketahuan telah selingkuh di depan pacarnya, eht tapi Handi kan enggak punya pacar kan yah?
“Elah Al, belum taken aja lo udah posesif apalagi kalau udah taken eht? Cuma periksa-periksa aja ini kok,” sanggah Handi tanpa diminta.
Dira langsung memutar bola matanya dengan malas seketika. “Alah, drama banget si lo berdua sumpah,” ucap Dira sinis seperti biasa. “Kok udah berangkat sih ibu krani? Udah mendingan dong?”
Erlin langsung merengut setelahnya. “Emang gua enggak boleh sekolah lagi gitu? Kalau udah di sini ya berarti udah mendingan kali toa.”
“Kan, otaknya ketinggalan mulu kalau lagi sekolah,” cibir Alif dengan senyum miringnya. “Tapi kok yah, lo tuh suka banget bikin geger satu sekolah. Kemarin foto sweet bareng si Cakra, sekarang kecelekaan enggak terduga yang bikin semuanya khawatir berlebihan. Lo beneran enggak sengaja kan Lin?” lanjut Alif memicingkan matanya.
“Aduh,” pekik Alif seketika begitu merasakan jitakan tak lembut di kepalanya sedetik setelah ia selesai mengucapkan tebakan tak masuk akal pada seorang Erlin. “Suka banget sih lo main pukul-pukul orang.”
Dira langsung mengangguk setuju setelahnya. “Bener juga sih Al. Foto yang kemarin aja sampai viral banget kan. Sweet parah sumpah,” sahut Dira dengan semangatnya. “Apalagi semenjak lo sakit, beuh—ini tiga cowok kayaknya saingan mulu siapa yang sering jengukin. Tapi kok yah, gua rasanya si Cakra itu yang paling setia. Sampai nginep lagi.”
“Masa?” tanya Handi dengan tatapan penasarannya.
Dira langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali seperti pajangan boneka di dalam mobil. “Heem,”
“Enggak kaget sih, Cakra kan yang paling kelihatan klop tuh kalau sama si Erlin. Nah ini cowok satu, bawaannya narik urat mulu gimana mau klop. Apalagi—“
“Berisik.” potong Alvi denggan nada sinisnya secepat mungkin.
Senyum geli Dira langsung terlihat seketika. “Kenapa? Berasa kesaing gitu enggak bisa nemenin Erlin seharian? Lo kan—“
Erlin langsung memutar bola matanya seketika. “Lo kapan pada berhentinya sih? Minggir deh, gua mau duduk. Capek kali berdiri mulu.” ucap Erlin dengan wajah datarnya.
“Minggir woyy, ini srikandi mau duduk. Minggir Dira,” sahut Alvi diiringi senyum miring di akhir kalimatnya.
Secepat kilat, kerumunan yang tadi membuat Erlin kesusahan menerobos jalan, kini langsung membuka, mempersilahkannya untuk duduk di singgasananya.
Lagi-lagi, Erlin hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah kemudian.
***
Sudah manusiawi bukan jika begitu bel istirahat berbunyi, pasti anak-anak langsung berhamburan keluar dan suasana kelas yang tadinya khidmat pasti akan langsung rusuh seketika. Dan kelas Erlin sekarang bertambah rusuh tiga kali lipat begitu tamu tak diundang menyesaki kelas Erlin yang sungguh sudah sesak oleh para penghuninya yang memang rada-rada semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Teen FictionPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
