Bukan pramuka namanya jika tak mengerti dasa dharma. Dan bukan cinta namanya jika tak siap menjadi pelipur kesakitan.
~
Aneh memang jika Erlin berterima kasih. Berterima kasih, pada ‘dia’, yang telah memberinya luka perih dalam hatinya hingga membuatnya sadar, jika ‘dia’ juga manusia, bukan malaikat seperti yang ia anggap selama ini.
Miris. Seseorang yang membuatnya sempat terpesona, sangat bersyukur bisa memilikinya, kini justru membuatnya terpuruk. Jatuh pada lubang yang paling dalam hingga ia tak bisa merangkak keluar. Iyah, sesakit itu.
Katanya, ayah itu seorang pahlawan. Tapi nyatanya, itu hanya sekedar fiksi belaka.
Erlin menyesal. Ia sungguh menyesal telah kembali berharap pada ‘dia’ yang jelas–jelas pernah mengecewakannya. Harusnya ia tak berharap, bahwa ia akan membantunya. Berharap, bahwa ia akan mengirimkan pesan membahagiakan yang berhasil mengusir gundah gulana yang Erlin rasakan selama beberapa hari ini.
“Ke mana lagi Lin?” tanya Fendi memecah keheningan.
“Hah?” Erlin terperanjat seketika. Refleks, ia langsung bangun dari lamunan yang telah menghanyutkannya sedari tadi.
Putra tampak berdecak seketika. “Ck, nape sih lo? Ngelamun mulu? Ini mau nyari di mana lagi?” tanya Putra kemudian.
Erlin langsung terdiam beberapa saat. Iyah, harusnya ia tak merepotkan mereka. Harusnya mereka tak perlu bersusah payah membantunya, yang jelas-jelas tak membuahkan hasil apapun. Bukannya pesimis, tapi entah mengapa Erlin yakin betul bahwa seseorang tengah mempermainkannya sekarang. Jadi, percuma saja ia mencari Agam sampai ke ujung dunia pun, ia takkan pernah menemukannya. Sebab apa? Karena ia, begitu dekat dengan Erlin. Yang sayangnya—tak Erlin ketahui siapa orangnya.
“Pulang aja deh. Ini udah sore juga, kasihan kalian. Gua bisa nyari lagi nanti.” jawab Erlin dengan senyum tipisnya.
Ketiga cowok itu benar-benar lega melihat senyum tipis Erlin yang tak dilihatnya beberapa hari ini. Tuluskah? Tentu saja mereka berharap senyum itu bukanlah senyum palsu. Mereka tentu tahu, bagaimana sakitnya Erlin saat ini. Mereka tahu—Erlin butuh penopang.
“Gua anterin,”
***
Tak pernah disangkanya, jawaban dari ‘dia’ akan dalam bentuk seperti ini. Tak pernah disangkanya, bukti kepeduliannya akan ditujukan dalam keadaan seperti ini. Dan tak pernah disangkanya, rasa yang sempat ia katakan berulang-ulang kepadanya akan diungkapkan dengan cara seperti ini.
Tentu saja Erlin terkejut.
Senang, tapi sedih secara bersamaan.
Tes
Tak dihiraukannya air mata kebahagiaan sekaligus kesedihannya itu sedikit pun. Langkahnya perlahan mendekat pada sesosok malaikat yang ia miliki selama ini. Malaikat kecil yang begitu dirindukannya. Malaikat kecil yang menjadi penyemangat sekaligus kelemahannya. Dan malaikat kecil, yang sempat menghilang keberadaannya beberapa hari ini.
“Kak Elin,”
Erlin langsung mendekap malaikat kecilnya itu erat–erat. Air matanya justru mengalir bertambah deras sekarang. Rasanya, mendekap malaikat kecilnya saat ini tak akan cukup mengobati semua rasa yang sempat dirasanya selama beberapa hari ini. Itu—terlalu sederhana.
“Kamu dari mana aja? Kenapa enggak ngabarin kakak? Kenapa enggak izin dulu sama kakak?” Dikecupnya pipi gembul serta kening Agam itu berulang kali. Dan tak sedikit pun Agam menolak perlakuan manis yang Erlin berikan.
“Agam pergi sama ayah kok. Kakak jangan nangis lagi yah.” jawab Agam sembari melepaskan pelukan Erlin yang tak kunjung dilepaskannya.
Erlin mematung di tempat. Tak sedikit pun ia menolak dekapannya yang perlahan diuraikan oleh Agam sendiri. Ditatapnya kedua manik bocah yang tentu saja sangat berarti di hidup Erlin itu. Murni tanpa kebohongan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Teen FictionPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
