Sebuah pionering pasti akan membutuhkan percobaan untuk menguji seberapa daya tahannya, begitu juga cintamu yang memerlukan percobaan untuk menguji seberapa seriusnya.
~
"IBU KRANI!"
Erlin refleks langsung menjatuhkan handphone-nya begitu mendengar teriakan Dira yang begitu memekakkan telinganya. Tak sakitkah itu tenggorokan tiap hari dibuat teriak-teriak tak ada habisnya?
"Lo tahu enggak kemarin gua dianterin pulang sama siapa?" tanya Dira menaik-turunkan kedua alisnya dilengkapi senyum pepsodent ala dirinya.
Erlin langsung menatap Dira dengan intensnya tanpa berkedip sedikit pun hingga membuat Dira yang tengah bahagia mendelik seketika. "Ish, kok responsnya gitu amat sih?" decak Dira seketika.
"Berisik elah." sungut Erlin diikuti gerakan perlahan memungut handphone-nya.
Dira langsung mengerucutkan kedua bibirnya seketika. "Ck, kok lo jahat banget sih ibu krani? Padahal gua tuh mau berbagi berita bahagia tahu enggak sih. Eht malah respons lo gitu,"
Erlin langsung mengembuskan napasnya dengan kasar setelahnya. "Ini tuh masih pagi Dir, jangan bikin gua narik urat sepagi ini deh," sahutnya. "Lagian berita bahagia apa sih? Penting banget gitu?" tanyanya mencoba penasaran.
Senyum lebar Dira langsung tercipta seketika. "Kemarin gua dianterin Putra." jawabnya singkat, padat, dan jelas.
"HAH?"
Dira langsung terkekeh setelahnya. "Tuh kan, gua bilang juga apa?" jawabnya meremehkan. "Iyah, lo enggak lagi salah denger ataupun lagi mengkhayal kok Lin. Kemarin gua beneran diantein Putra. Sampai mampir terus ngobrol-ngobrol sama bunda lagi. Gimana gua enggak bahagia coba?" tanyanya mendramatis.
Erlin masih tetap dalam ekspresi cengonya. Astaga, benarkah dia tidak salah dengar barusan?
Putra? Mengantar Dira? Sepertinya akan ada kerusuhan besar setelah ini.
"Lo-enggak lagi ngarang kan Dir?" tanya Erlin tidak percaya.
Dira langsung mengangguk mantap merespons pertanyaan Erlin.
Dan fiks, Erlin benar-benar harus menutup kedua telinganya setelah ini.
Pernahkah kalian menyukai seseorang dan orang itu tak kunjung merespons perasaan kalian? Dan seperti datangnya petir di siang hari yang begitu mendadak, dia sekarang dengan sukarelawan mengantar kalian pulang? Ayolah, bagi seorang cewek jika berhasil diantar sang doi pasti sudah termasuk kebahagiaan tak terkira bukan? Dan sepertinya, Erlin harus turut berbahagia melihat seorang Dira tengah berada dalam mode alay nan berlebihannya.
***
Erlin langsung mengemasi buku-bukunya kala Bu Mahi sudah beranjak keluar dari kelasnya. Dan setelahnya, ia langsung beralih mengambil handphone-nya yang sudah bergetar sedari tadi.
"Srikandi!"
Erlin langsung menengadahkan kepalanya seketika sembari meletakkan handphone-nya kembali ke atas meja. "Kenapa?" tanyanya dan langsung beralih kembali pada layar handphone-nya.
"Itu disuruh ngumpulin tugas. Ayo deh cepetan." jawab Alvi sekenanya.
"Hah apaan?" tanya Erlin bingung sembari menatap Alvi yang sudah duduk di depannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Erlin sedikit pun, Alvi langsung menarik pergelangan tangan Erlin seketika dan mengangsurkan beberapa buku kepadanya tanpa berkata sedikitpun.
"Eht kok gua sih? Lo kan bisa bawa sendiri Alvi," protes Erlin dengan geramnya.
Alvi langsung menghentikan langkahnya sejenak dan menolehkan kepalanya ke belakang seketika. "Gua lagi pengin ditemenin. Ayo cepetan srikandi,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Teen FictionPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
