Harus ku sebut apakah diri ini yang tak mampu bertumpu pada satu hati?
~
Sebelumnya, berangkat sekolah dengan diantar itu hal paling tak disukai oleh seorang Calandra Erlina Auli. Jika dulu ia tak menyukainya karena ia sudah terbiasa selalu sendiri, juga karena melihat orang lain diantar saat bersekolah itu mengingatkannya pada sang ayah. Ayah, yang tak mungkin bisa mengantarnya seperti kebanyakan ayah yang lainnya. Maka dari itu, Erlin sangat tak menyukai hal seperti ini.
Lain dulu, lain sekarang. Ia justru tak menyukainya karena sang paman begitu posesifnya terhadap dirinya semenjak ia kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Sang paman tak akan mengizinkannya berpergian jika itu tidak diantarnya atau oleh orang yang dikenalnya. Dan Erlin, merasa menjadi anak kecil yang setiap langkahnya perlu pengawasan.
Tapi sekarang, ketidaksukaannya itu raib seketika. Erlin bahkan tak berhenti menyunggingkan senyumnya kala merasakan betapa bahagianya diantar oleh sang ayah. Ayah, sosok yang selama ini sangat diharapkannya.
“Nanti pulang jam berapa, biar ayah jemput,” tanya sang ayah tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
Entahlah, sepertinya Erlin mendadak jadi cewek pendiam yang merasa canggung hanya karena berdua dengan sang ayah. “Belum tahu, nanti Erlin chat aja,” jawabnya sedikit ragu. “Erlin—berangkat dulu.” pamitnya sembari mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang ayah.
Aura bahagia sepertinya langsung menguar dari diri Bani seketika. Tiga tahun tak menghabiskan waktu bersama putrinya yang sudah beranjak besar sungguh membuat Bani lupa bagaimana rasanya kembali menjadi sosok ayah yang sebenarnya.
“Hati-hati.” ucapnya singkat sembari mengusap puncak kepala Erlin dengan pelannya.
Senyum tipis Erlin langsung mengembang setelahnya. Dengan menguatkan hatinya, ia perlahan keluar dari mobil sang ayah dan menunggunya berlalu meninggalkan pelataran sekolahnya.
“Dianter ayah?” tanya Cakra begitu melihat kraninya tak kunjung beranjak dari tempat berpijaknya.
Erlin langsung menoleh dan menubruk dada bidang Cakra kemudian. “Ra, gua seneng banget,” ungkapnya dengan menggebu-gebu.
Cakra sempat terperanjat merasakan pelukan Erlin yang begitu tiba-tiba itu. Tapi tak urung, kedua tangannya sudah beralih membalas pelukan Erlin sejenak dan melepas pelukannya kemudian. Bisa-bisa diseret ke Ruang BK mereka berdua jika ada guru yang melihatnya. “Kenapa?” tanya Cakra penasaran lengkap dengan ekspresi datarnya yang tiba-tiba menguar.
Kedua sudut bibir Erlin langsung tertarik begitu lebarnya hingga membuat kedua maniknya langsung menyipit seketika. “Gua udah baikan sama ayah.” jawabnya tanpa menyurutkan senyumnya sedikit pun.
Senyum lebar Erlin langsung menular hingga Cakra ikut mengembangkan senyumnya. “Ini baru Erlin gua.” sahutnya sembari mengacak pelan puncak kepala Erlin dan menariknya memasuki gerbang kemudian.
“Kapan gua jadi milik lo sih Ra?” debatnya tak peduli pada beberapa anak yang sudah menatapi mereka penasaran sedari tadi.
Dan Cakra tetaplah Cakra Dikara Cendekia, Pradana SMK Tunas Bangsa yang senang sekali menggantungkan jawaban yang sedang dinantikan oleh seorang Calandra Erlina Auli.
***
Matematika. Siapa yang di dunia ini begitu menyukai pelajaran yang mayoritas berisi angka itu? Dan siapa pula yang tidak menyukainya karena terlalu malas untuk menghitung angka-angka yang seperti khayalan itu, seperti kebersamaanmu dengan sang pujaan.
Dan Erlin, menjadi salah satu makhluk yang tak menyukai pelajaran ini. Bukan karena ia tak bisa memperhitungkan angka-angka yang terlalu misterius seperti Cakra, tapi lebih karena pengajarnya yang begitu membuat Erlin ingin tidur di setiap mendengar deru napasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Erca (COMPLETED)
Novela JuvenilPramuka? Lelah, letih, capek dan tentunya banyak pengalaman. Kata siapa anak pramuka cuma bisa PBB, Satya Dharma, ataupun sandi-sandi? Karena nyatanya, anak pramuka juga manusia. Yang punya kehidupan masing-masing dengan seribu lika-liku perjalanann...
