***
Penasaran dengannya? Yakin gak ada rasa yang terselip tuh?
🌈
"Ra!" seru seseorang pada Gera, sambil berlari.
Gera terhenti, lalu membalikkan badannya agar mengetahui siapa yang memanggilnya. "Eh, Erick, ada apa?"
"Hosh.. Hosh.. i-itu" Napas Erick ngos-ngosan.
"Iya, lo tenang dulu," ujar Gera.
Setelah bisa bernapas dengan baik, ia bersuara.
"Gue cuma mau kasih tahu, nanti sore ada ekskul voli."
Kirain apaan sampe-sampe ngos-ngosan gitu, eh taunya cuma info latihan voli doang batin Gera
"Oh. Oke."
"Ya udah, gue balik dulu," ucap Erick sambil melenggang pergi meninggalkan Gera.
Oh, ya, kalian pasti belum tau. Setelah beberapa hari berlalu, Gera memutuskan untuk masuk ekskul voli. Dari dulu, Gera memang selalu masuk ekskul voli, dari jaman SMP. Gera tak pernah berniat untuk menukar ekskulnya, karena dia memang paling suka bermain voli. Bisa dibilang, voli adalah hidup Gera. Tiap hari dengan rutin, Gera pasti main voli, kalau gak disekolah, ya, dilapangan dekat rumahnya.
Walaupun begitu, Gera bukan termasuk anak yang tomboy dan juga gak bisa dibilang gadis yang feminim. Bisa dibilang netral aja sih. Kadang tomboy jika di lapangan, kadang feminim jika bepergian keluar rumah.
Walau Gera terbilang tak punya teman disekolah, Gera malah terbilang orang yang selalu punya teman jika didekat rumahnya. Ia selalu ramah pada tetangga, bahkan ia kenal semua orang yang merupakan tetangganya. Hanya saja, ketika melihat Luthfi di daerah komplek rumahnya, ia bingung. Kenapa Luthfi berada disana? Apa ia tinggal komplek dekat rumah Gera? Ingin bertanya pun, Gera juga bingung, ia tak terlalu kenal dengan Luthfi, dan sampai sekarang pun, Gera tak pernah menemukan Luthfi disekolah.
Bagi Gera, Luthfi orang paling misterius. Entahlah, semakin dipikirkan, malah membuatnya semakin penasaran. Maka dari itu, ia tak terlalu memikirkan tentang Luthfi.
Oh ya, Erick adalah rekannya di ekskul voli. Cuma Erick, cowok yang ia kenal di ekskul voli. Ada juga Relyan, satu-satunya cewek yang mau berteman dengannya di ekskul voli. Sama dengan Gera, Relyan juga bersifat dingin, bedanya Gera masih punya sifat bawel, sedangkan Relyan tidak.
Dan Gera bersyukur, setidaknya, ada orang yang menerimanya sebagai teman selain Cika. Ia lega, jadi ia sekarang takkan bergantung lagi pada Shana dan Bara.
Sudah dua minggu setelah pertemuan terakhirnya dengan Shana. Waktu memang selalu terasa cepat. Anehnya, dulu malah, waktu selalu terasa lambat sekali. Mungkin dikarenakan akhir zaman.
Sekarang pikiran Gera berada dalam alam lamunannya, ia terus berjalan tanpa kesadaran yang utuh. Tiba-tiba...
Brukk!
Tubuh Gera menabrak seorang cewek. Cewek itu melirik Gera dengan tajam sambil mendelik kesal. Sontak, Gera tersadar, ia membelalakkan matanya agar sadarnya kembali seutuhnya.
"Lo kalau jalan pake mata! Anak baru aja, songong lo!" bentak cewek itu sambil mendelikkan matanya.
Gera menatap cewek itu, ia tahu cewek yang dihadapannya ini, cewek itu yang bisa dibilang paling sok segalanya. Sok berkuasa, Sok paling cantik, dan lain sebagainya. Dari penampilannya saja sudah jelas, make up tebal, pernak pernik yang serba berlebihan, dan gayanya yang angkuh membuat Gera ingin meludahinya saat ini juga. Namanya Angel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Ficțiune adolescenți[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)