Bab 32 : Takut Terluka

527 49 1
                                        

***

Jika hanya takut terluka. Mending tak usah punya rasa. Karena malah akan mengundang luka yang bahkan lebih dalam lagi.

🌈

Pintu cafe Samantha berbunyi tatkala Shana mendorongnya. Sontak seseorang yang telah menunggunya, melambaikan tangan. Shana tersenyum sejenak.

Shana duduk didepan Gera. "Lo baik-baik aja, 'kan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Gera tersenyum kecut, menandakan bahwa dirinya tak baik-baik saja.

"Tumben lo mau jujur. Kenapa?" tanya Shana disela-sela ia sedang membolak-balikkan buku menu.

Gera menghembuskan napas lelah. "Jangan bahas gue dulu, 'napa? Hubungan lo sama Bar—"

Shana mengangkat tangan kanannya. "Wait, gue mau manggil pelayannya dulu," jawabnya.

Gera mengangguk, mencoba mengerti. Shana melambaikan tangan tinggi-tinggi kepada pelayan yang ada. Pelayan tersebut berjalan mendekat.

"Kayak biasa 'kan?" tanya Shana kepada Gera.

Gera mengangguk. Setelah memilih beberapa menu, si pelayan meninggalkan mereka berdua.

"Lo nanya apa tadi?" tanya Shana yang sadar memotong pertanyaan Gera tadi.

"Hubungan lo sama kak Bara?" tanyanya.

"Udah putus. Udah lama malah. Setelah gue kasih tahu lo pindah," jawab Shana dengan santai.

"Lah? Kenapa? Jangan bilang kalau gara-gara gue?" tebak Gera.

Shana menggeleng. "Enggak. Bukan karena lo kok. Tenang aja. Emang gue udah gak nyaman lagi sama dia, dan diapun juga begitu. Kita pisah secara baik-baik kok," jawab Shana membuat Gera heran.

"Cuma karena gak nyaman kah?" tanya Gera seraya mengangkat sebelah alisnya.

"Ya. Gak ada hal lain, yang bisa mempertahankan hubungan antara gue dan kak Bara. Lagian, gue mau fokus buat satu hal," jawab Shana meyakinkan Gera.

"Fokus tentang apa?" tanya Gera penasaran.

"Gue mau fokus buat menebus semua kesalahan di masa lalu. Gue gak mau mengecewakan orang lagi," ujar Shana menatap Gera dengan serius.

"Maksudnya?"

"Lo gak bakal paham."

"Oh, oke."

"Katanya lo mau ngomong, kok malah gue yang diinterogasi sih?" protes Shana yang merasa kesal.

Gera hanya nyengir lebar. Gera bingung bagaimana ia menceritakan tentang Fito kepada Shana. Jujur, ia tak pernah suka yang namanya menceritakan, ia lebih suka menuliskan tanpa perlu orang tau. Tapi, buku gak pernah ngasih saran, gak pernah ngasih jawaban di setiap tanda tanya yang ia tulis. Ia perlu seseorang untuk bisa hidup diluar kerumitan ini.

Gera menghembuskan napas sejenak, hingga akhirnya menceritakan semua hal tentang Fito. Shana mendengarkan dengan baik, meski merasa aneh karena ini untuk pertama kalinya seorang Gera menceritakan kisah romansanya kepada Shana.

Shana menatap Gera dengan kesal, setelah mendengar semua cerita itu.

"Lo bodoh, Ra," umpat Shana.

"Santuy dong! Ngegas terus lo ah," jawab Gera yang ikutan kesal di caci. "Ini nih, yang bikin gue males curhat sama lo," lanjutnya.

"Ye, lagian sih. Kenapa lo gak terima dia, tapi malah terima orang yang bahkan gak masuk ke kategori orang yang menarik bagi lo sama sekali. Tapi malah sebaliknya, dia nyebelin 'kan bagi lo?!" sewot Shana kesal.

Grafi [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang