Bab 4 : Pertikaian

1.4K 184 21
                                        

***


Sekecil apapun masalahnya, jika itu menyakiti hati seseorang teramat dalam. Percayalah! Hal itu bisa saja mengubah hidupnya. Bahkan berubah drastis dari segala kebiasaannya yang lalu.

🌈

"Cuma banci yang berani main fisik sama cewek." Fito menatap tajam tepat ke manik mata Kano.

Datangnya Fito membuat para kaum hawa yang berada dikantin mendadak iri kepada Gera. Gera yang awalnya menutup mata, mulai membuka matanya ketika mendengar ucapan Fito.

Perasaan takut Gera perlahan sirna. Wajahnya kembali kepada semula. Datar. Tak berekspresi.

"Gak usah ikut campur deh, lo!" Kano membalas tatapan Fito tak kalah tajam.

Tatapan itu berlangsung lama hingga Gera bosan sendiri melihatnya. "Ekhem. Mau sampai kapan kalian tatapan begitu?" Gera bertanya dengan wajah dan nada yang datar. Sedetik kemudian, Gera kembali santai menatap layar handphonenya.

Seketika Fito dan Kano sama-sama berpaling dan berdecak kesal. Gera kembali memerhatikan kedua sejoli didepannya itu.

"Oh ya, gak usah nge-drama. Kalo pengen nge-drama pergi ke Korea aja noh. Banyak!"
"Hidup itu simple. Cukup mengabaikan gue aja. Kalo bisa anggap aja gue gak ada. Gitu aja, kok ribet?" Gera beranjak pergi meninggalkan kedua sejoli itu, yang menatapnya aneh.

"Dasar gak tahu terima kasih," gumam Fito.

"Ck. Dasar cewek aneh," gumam Kano.

Semua orang yang berada dikantin hanya bisa menganga takjub mendengar ucapan Gera yang diluar dugaan. Mereka mulai berbisik bisik.

"Hebat juga tuh cewek. Bukannya bilang makasih, eh, malah ngatain. Ck, ck, ck."

"Gak tahu malu banget sih tuh cewek. Murid baru aja, songong."

Begitulah kata-kata yang Gera dengar sewaktu melangkah keluar dari kantin. Ia tak memperdulikan hal itu dan tetap melanjutkan langkahnya kesebuah tempat yang ia yakini, tempat yang cocok untuk menenangkan diri.

Cika hanya bisa mengekori Gera dengan perasaan khawatir.

Ketika sampai ditangga menuju rooftop, Gera menghentikan langkah kakinya. Spontan, langkah Cika ikut terhenti. Cika menatap punggung Gera dengan tatapan bingung. Gera berbalik badan sehingga berhadapan dengan Cika.

"Ka?" ucap Gera hati-hati.

"Ya?"

"Lo bisa gak, biarin gue sendiri? Gue butuh waktu sendiri sekarang. Maaf kalau kesannya gue kaya mau ngusir lo. Gue gak bermaksud begitu, kok. Boleh, ya?" tanya Gera dengan sangat hati-hati. Hingga terdengar suaranya yang lembut.

Cika mengangguk paham. "Gue ngerti, kok. Gue pamit, ya?! See you!" Cika tersenyum tipis lalu pergi menghilang dari hadapan Gera.

Gera berbalik badan, lalu menaiki tangga satu persatu. Ketika sampai dirooftop, Gera disambut oleh angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.

Hello my life. Thank you for the his speech.

🌈

Cika melangkah pergi meninggalkan Gera. Ia pergi menuju ke kelasnya untuk mencerna apa yang tengah terjadi. Cika yakin, bahwa semua ini ada alasannya. Bahkan, Cika percaya bahwa Gera tak akan kejam kepadanya. Dan, karena alasan itulah, Cika semakin penasaran akan yang terjadi dihidup Gera.

Grafi [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang