Bab 17 : Hana

693 82 7
                                        

***

Bagi gue, lo yang lebih lucu.

~Fito Dinanta

🌈

Riuhnya hujan meredamkan suara langkah kaki. Namun, tidak dengan langkahnya. Gera tetap melangkah pergi keluar rumah meski hujan yang lebat pun ia tempuh demi tugas kelompoknya. Ia harus pergi ke toko fotocopy untuk mem-fotocopy tugas kelompok nya itu. Jika tidak, maka dialah yang disalahkan nantinya karena semua teman sekelompoknya menyerahkan semua amanah itu pada Gera.

Gera memberhentikan langkahnya di sebuah toko fotocopy, yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Gera meletakkan payung yang masih terkembang di tepi teras toko. Ia mengambil beberapa tugasnya dari kantong plastik yang sejak tadi ia peluk.

Setelah dari fotocopy, perut Gera berulah, hingga ia pun pergi ke minimarket untuk perutnya yang sudah berteriak di dalam. Syukurlah, hujan telah reda, hingga membuat Gera kian leluasa berjalan. Dalam perjalanan Gera ke minimarket, Gera berhenti sejenak ketika melihat pemandangan asing di depannya.

"Lah, Kak Bara kok sama cewek lain? Shana kemana? Berduaan lagi," gumam Gera, heran. "Eh, Kak Luthfi ngapain pake sembunyi segala, memantau Kak Bara lagi. Udah kek stalker aja. Aduh, udah kek sinetron aja." Gera menggeleng kan kepalanya, prihatin. "Mending gue pergi lanjutin perjalanan gue." Gera melanjutkan langkahnya.

Entah mengapa, melihat Bara dengan cewek lain, Gera tak merasa sakit, apa dia sudah move on? Atau yang terjadi sebenarnya, Gera tak ikhlas jika Bara dengan Shana? Astaga, semua ini membuat kepala Gera merasa pusing. Gera hanya bisa menghembuskan napas lelah.

Sesampainya di minimarket, Gera meletakkan payung di tempat yang telah disediakan. Gera membuka pintu minimarket tersebut, lalu segera mencari snack yang bisa mengganjal perut nya.

Gera mengedarkan pandangannya diantara banyaknya snack yang tersedia, lalu ia melihat snack keripik kentang yang hanya tinggal satu biji. Dengan cepat, ia meraih snack itu. Namun..,

"Eh." Gera kaget karena ada tangan yang juga ingin meraih snack yang ingin dia ambil. Gera menoleh bersamaan dengan orang itu. Mata Gera auto melek, lalu mengerutkan dahi, keheranan.

"Fito?" ucapnya, tanpa sengaja sambil menganga.

Fito melepaskan tangannya dari snack yang tadi hendak ia ambil. "Embel-embel kakaknya lo kemanain, ha?!" Fito menyentil dahi Gera.

Diam. Tak ada pergerakan sama sekali dari Gera. Ia mematung, rada terkejut dengan perlakuan Fito, yang menurutnya aneh dan merasa deja vu.

Melihat Gera yang masih terdiam, Fito menyeringai kesenangan. "Gue tahu kok, gue ganteng. Jadi, ya, wajar aja sih, kalau lo terpesona," ujar Fito sambil terkekeh geli.

Seketika Gera mendelik kesal, dan menatap Fito dengan sinis. "Najis!"

"Dasar cewek, lain dikata, lain dihati," ucap Fito yang tersenyum miring.

"Lo ngarep, ya, kalau gue terpesona sama lo?" tanya Gera menyudutkan Fito.

"Bukan gue yang ngarep, tapi itulah faktanya. Lo terpesona," ucap Fito dengan bangga.

"Bodo amat." Gera pasrah, lalu menatap snack yang ada ditangannya. "Jadi, buat gue nih?" tanya Gera sambil memegang snack itu.

"Buat lo, apa yang engga sih?"

"Lo aneh, Kak. Sikap lo bikin gue curiga." Gera menatap Fito dengan tatapan menyelidik. "Lo sakit, ya? Atau kepala lo kejedot pintu?" lanjutnya.

Gera ingin meletakkan tangannya di atas dahi Fito, namun ditepis oleh Fito. "Gak lucu, Ra." Fito menatapnya datar. "Padahal, gue lagi, baik-baiknya malah dicurigain. Dasar cewek, curigaan mulu!" serunya kesal.

Grafi [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang