***
Aku adalah angin yang kamu abaikan. Kamu adalah oksigen yang aku butuhkan.
🌈
Sang Matahari mulai menghilang, cahayanya mulai redup, dan senjapun datang. Suara air yang dituangkan makin terdengar jika sunyi melanda, namun sayangnya saat ini tak terdengar karena ramainya yang menggelegar. Lampu kuning agak redup menyinari setiap sisi tempat. Wanginya kopi terlihat menggiurkan, namun disisi lain, rasanya mungkin tak seenak yang tercium. Karena semua hal tak bisa disimpulkan sesenaknya saja, tanpa tahu kenyataan.
Satu seruput kopi menenggelamkan rasa, menghilangkan luka atau mungkin bahagia? Menampakkan kehampaan yang melanda, tanpa tahu kenapa bisa datang? Matanya mulai lelah, hidupnya tak jua terang.
Tapi, sekarang saatnya bangkit dari masalah yang berada dimasa lampau. Masalah yang selalu terbayang dikala sepi. Masalah yang menyakiti tanpa sadar. Masalah yang menyekiknya yang membuatnya selalu lelah terhadap hidup.
Seorang cowok menunggu seorang yang mungkin akan mencampakkan masalah itu darinya. Cowok itu adalah Fito yang menunggu Bara. Satu hal yang belum Fito selesaikan. Minta maaf pada Bara, yang dibuat babak belur oleh Fito.
Maka dari itu, Fito tadi siang meminta nomor Bara pada Lezra—teman Fito ketika di sekolahnya yang lama—dan akhirnya dapat.
Dengan cepat, Fito menelpon Bara untuk bertemu dengannya di kafe Samantha dekat sekolah Bara.
Mata Fito menjelajahi setiap sudut kafe Samantha. Tanpa mengetahui, bahwa ada seorang gadis yang ia kenal berada di tempat yang sama.
Ting!
Bel pintu kafe berbunyi, menandakan ada seseorang yang memasuki kafe itu. Sontak Fito menoleh, menatap seorang cowok yang tengah linglung mencari seseorang.
Ketika tatapan Fito bertemu dengan cowok itu, Fito menganggkat tangannya menyuruh cowok itu ke arahnya.
Bara berjalan santai menuju meja Fito. Ia duduk, dan menatap Fito dengan serius.
"Mau ngomong apa?" tanya Bara to the point, ketika menjatuhkan bokongnya pada kursi.
"Gue mau minta maaf," ujar Fito santai, tanpa berniat basa basi.
"Udah tobat ya ternyata?" sindir Bara sambil menyeringai.
"Jangan bikin gue emosi disini." Fito menatap Bara dengan tatapan tajamnya. "Atau lo mau babak belur kayak kemarin lagi?" Fito menyeringai dan menatap Bara, penuh kemenangan.
"Silahkan, kalau emang lo pengen Darya tersakiti."
Fito melotot tajam. Bara tahu kelemahan Fito. Bara berhasil membuat Fito bungkam. Mereka saling tatap dengan tatapan tajam dan sinis. Tapi, tiba tiba saja...
"Serius amat. Lagi ngapain sih? Lagi pada main anti kedip ya?" tanya seorang cewek yang menghampiri mereka.
Bara dan Fito seketika melotot kaget, mereka tahu suara siapa yang mereka dengar.
"Gera?"
"Rar—"
"Jangan panggil nama itu, ish. Panggil Gera aja. Ge-Ra. Oke?" ucap Gera menatap Bara sambil melotot dan membentuk tangan ok.
Fito hanya bisa menatap Bara dan Gera secara bergantian. "Kalian saling kenal?" tanyanya yang mungkin juga pernyataan Gera terhadap Bara dan Fito.
"Gimana gak kenal kalau dia sering nempel ke gue?" ucap Bara sombong.
"Heh. Kapan gue nempel sama lo? Gak kebalik tuh?" sindir Gera yang memiringkan bibirnya, kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grafi [End]
Ficção Adolescente[DILARANG KERAS BAGI YANG MAMPIR CUMA UNTUK COPAS!] Jika para reader yang liat cerita yang copas grafi, langsung lapor ya^^ Jangan lupa follow author ya^^ Rank : #1 Fito 5 Juli 2020 #2 Gera 5 Juli 2020 #4 Brokenhurt 7 Juli 2020 #1 Fito 20 September...
![Grafi [End]](https://img.wattpad.com/cover/186343673-64-k628536.jpg)